
Sean baru saja sampai di rumahnya. Seperti biasa ia disambut tawa riang dari kedua anaknya.
Sesampainya di kamar, Sean melihat Viana sedang duduk di kursi. Viana menoleh ke arahnya dengan tatapan tak biasa.
"Bagaimana pekerjaan hari ini?" tanya Viana.
"Lancar," sahut Sean dengan gugup.
"Kau sudah terlambat selama satu jam. Apa ada meeting mendadak?" Viana melirik arlojinya, lalu kembali menoleh ke arah Sean dengan tatapan curiga.
"Maaf, aku tadi ada sedikit pekerjaan lagi."
"Oh ya, setahuku tadi pagi kau memakai kemeja warna biru. Kenapa sekarang berubah putih?"
Pertanyaan Viana semakin membuat Sean merasa gugup. Ia sampai menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Tadi aku mandi karena merasa gerah."
"Lalu, ponsel yang diangkat Zein? Dan butik Alena?"
__ADS_1
"Vi, aku bahkan belum mengganti bajuku."
"Gantilah bajumu sambil menjawab pertanyaan ku."
"Apa? Yang benar saja? Kalau kau sedang ingin, katakan saja, kenapa harus memakai alasan seperti itu?"
"Hentikan, Sean, aku sedang serius." Viana menatap serius.
"Baiklah, tadi aku memang ke butik Alena untuk memesan baju kita untuk ulang tahun pernikahan Om Dirga dan Tante Celin."
"Benarkah? Kalau begitu sebentar." Viana mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.
"Halo, Al, apa benar tadi Sean ke butikmu?"
"Benar, Vi, dia memesan baju untuk dipakai di ulang tahun pernikahan Om Dirga dan Tante Celin."
"Warna Lilac, sangat bagus sekali. Aku akan segera menyelesaikannya untuk kalian."
"Oh, ya sudah, terima kasih, ya, Al." Viana langsung mematikan panggilan tersebut.
Sean bisa bernafas dengan lega. Untung saja dia sudah menghubungi Alena sebelumnya supaya jawaban mereka sama saat ditanya olehnya.
"Ya sudah, Sean, gantilah bajumu. Maaf, aku jadi sedikit posesif, aku hanya tidak ingin kau menyembunyikan sesuatu dariku. Apalagi jika kau sampai dekat dengan wanita lain."
"Astaga, Vi. Apa selama ini pengorbanan ku untukmu kurang? Setelah apa yang aku lakukan untukmu, apa kau masih mengira kalau aku akan tertarik dengan wanita lain?" Sean menatap tidak percaya.
__ADS_1
"Iya, aku minta maaf. Sebagai seorang istri, wajar kalau aku curiga."
"Iya, aku mengerti. Tapi sudahi kecurigaan mu ini, Vi. Aku tidak nyaman dengan anggapan seolah aku sudah berkali-kali mengkhianati mu."
"Iya, maaf."
"Ya sudah, aku ingin berganti baju. Kalau kau mau ikut menemani, ayo, aku tidak keberatan."
"Dasar mesum!" Viana meninggalkan Sean yang hanya tertawa geli.
Namun baru beberapa detik, Viana kembali lagi.
"Ada yang tertinggal?" tanya Sean.
"Apa kau melihat sebuah kotak berwarna merah yang aku letakkan di dalam lemari ku, Sean. Aku baru ingat kalau sejak tadi aku mencarinya."
"Kotak merah? Aku tidak pernah lihat. Aku bahkan tidak pernah menyentuh lemari mu. Perlu aku bantu?" Sean menawarkan.
"Tidak perlu, kau pasti lelah. Biar aku saja. Aku akan mencari di kamar anak-anak."
"Apa isi,,,,,,"
Viana bergegas pergi sebelum Sean menyelesaikan kalimatnya.
"Kotak merah? Memangnya apa isinya? Jika dia terus mencari, artinya isinya sangat penting. Dan kenapa tidak minta bantuan pelayan saja. Oh iya, kamar ini dan kamar anak-anak kan tidak boleh dimasuki pelayan. Itu peraturan ku sendiri. Kasihan dia, pasti sangat lelah. Aku akan ikut membantu mencarinya."
__ADS_1
Sean bergegas mengganti baju, lalu menyusul Viana ke kamar anak-anak mereka guna membantu melakukan pencarian untuk benda yang ia sendiri tidak tahu apa isinya.