
Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian tersebut. Hari ini, Sean tengah menjahit baju yang sedang menjadi proyeknya. Baju Viana kecil sudah dipotong oleh Alena untuk disatukan dengan baju yang sedang ia jahit.
"Wah, kenapa bisa parah begini?" tanya Alena saat selesai memotong baju Viana kecil.
"Dia menjemur di balkon dan dilupakan begitu saja. Ditemukan tiga hari setelahnya dalam keadaan basah, kotor, dan robek karena cakaran kucing yang berkelahi."
"Pasti dia sangat sedih." Alena menatap iba.
"Tidak masalah, setelah baju ini siap, aku yakin pasti dia akan sangat senang." Sean tersenyum penuh keyakinan.
Alena mengangguk, ia pun mulai mengajari Sean cara menyatukan kain dari baju Viana kecil dengan jahitan yang dibuat Sean agar tak terlihat seperti ditambal.
Sean mengerjakan dengan sangat hati-hati.
"Sayaaaang!" Suara seseorang memanggil Alena tepat ketika ia memasuki ruangan tersebut.
Ternyata itu adalah Shaka, suami Alena.
"Ada apa, Sayang?" Alena memberikan pelukan pada suaminya yang masih memakai pakaian kantor.
__ADS_1
"Aku ingin mengajak mu makan siang, tapi sepertinya kau sedang sibuk mengajari tukang jahit barumu." Shaka melirik Sean yang kini sedang mendengkus kesal.
Ia pun berdiri dan berkata, "Lihatlah suamimu, Alena, dia mengejek ku seolah-olah tidak punya aib yang siap aku bongkar kapan saja."
"Aib? Aib apa?" Alena menatap Sean dan Shaka secara bergantian.
"Eh, tidak, tidak, Sayang. Tidak ada, jangan dengarkan dia. Umm Sean, sebaiknya kau kerjakan saja baju Viana supaya cepat selesai." Shaka mengangkat tangannya yang mengepal untuk memberi semangat kepada Sean.
Sean hanya menyunggingkan senyuman saja, lalu kembali menjahit.
"Oh iya, kenapa aku sampai lupa. Pesanan baju keluarga Sultan tidak boleh sampai salah."
Sean masih fokus menjahit sambil berkata, "Pada malam senin, tanggal en,,,,"
"Eh, sudah Sean, kau jangan terlalu banyak bicara, fokus saja pada jahitan mu."
Alena merasa bingung dengan sikap Shaka yang aneh.
__ADS_1
"Ya sudah, lain kali saja, ya." Shaka mengecup kening Alena, lalu pergi ke luar.
Sean hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
Tak berselang lama, tiba-tiba Shaka masuk dan menutup pintu dengan rapat, menahan pintu dengan tubuhnya dan wajahnya penuh ketegangan.
Alena dan Sean terkejut melihat kedatangan Shaka dan ekspresinya yang aneh itu.
"Viana ada di sini!" seru Shaka dengan wajah tegangnya.
"Apa?" Sean dan Alena saling pandang. Mereka sangat terkejut dengan kedatangan Viana yang mendadak.
"Aduh, bagaimana ini? Aku tidak ada janji dengan Viana." Alena semakin kebingungan.
"Gawat, aku harus segera pergi!" Sean hendak bergegas keluar, tapi Alena menahannya.
"Jangan, Sean, nanti kalau ketahuan bagaimana? Lebih baik kau tetap di sini. Kita simpan jahitan mu dan bersikap tenang seolah-olah kau sedang melihat rancangan ku untuk baju kalian." Alena memberi ide.
Semua mengangguk setuju. Alena segera mengeluarkan rancangan yang sudah ia buat sebelumnya, sedangkan Sean menyimpan jahitannya ke dalam paper bag dan menyembunyikan nya di bawah meja Alena.
__ADS_1
Terdengar suara pintu diketuk oleh asisten Alena. Saat pintu di buka, terlihatlah Viana dengan ekspresi wajah sendu. Kesedihan masih terlihat di wajahnya. Menyisakan perasaan sedih di hati Sean.