
Hari ini, Sean, Viana, dan anak-anak mereka bersiap kembali ke rumah.
"Sean, bisakah kita berkendara hanya berempat saja?" tanya Viana.
"Maksudmu, pengawal dan sopir di mobil yang lain?" tanya Sean.
"Iya, izinkan aku menyetir. Sudah lama sekali aku ingin menyetir. Biasanya 'kan aku hanya diantar sopir," pinta Viana.
"Apa?" Sean terperangah dengan permintaan Viana. Ia masih mengingat terakhir kali Viana membawa mobil, kakinya sampai bergetar hebat.
"Aku akan mengendalikan kecepatan. Aku tidak akan menyalip kendaraan atau melaju di atas kecepatan normal." Viana bersungguh-sungguh.
"Viana, kau sudah lama tidak mengendarai mobil. Nanti saja, ya. Saat kita sudah dekat rumah, kau boleh menyetir."
"Ayolah, aku mohon. Aku janji ini terkahir kalinya aku menyetir." Viana menangkupkan kedua tangannya, memohon kepada Sean.
"Janji?"
"Aku berjanji."
"Ya sudah, masuklah ke bangku kemudi," ujar Sean.
Mendengar ucapan Sean, Viana langsung tersenyum senang. Ia pun masuk ke dalam mobil tepat di depan setir.
__ADS_1
Sean mengarahkan pengawal dan sopir untuk mengawal mereka dari belakang.
Semua sudah masuk. Mobil pun melaju menembus jalanan yang penuh dengan kendaraan lainnya. Viana tampak begitu tenang mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Membuat Sean bisa bernafas lega. Sevina dam Reyza sudah tertidur, mungkin karena rasa lelah sehabis jalan-jalan kemarin, ditambah lagi, mereka bangun pagi-pagi sekali karena suara mesin gergaji tetangga yang sedang menebang pohon.
Sean menatap wajah Viana yang terus tersenyum memandangi jalanan.
"Apa yang kau pikirkan hingga tersenyum seperti itu?" tanya Sean.
"Tidak ada, aku hanya merasa sangat bahagia. Aku rasa hidupku sudah lengkap. Semua keinginan ku telah tercapai. Ini adalah titik tertinggi dalam hidup ku." Masih fokus ke jalan.
'Entah kenapa ucapanmu malah membuat ku semakin cemas.' batin Sean yang masih terus menatap Viana.
Hingga sampailah mereka di gerbang rumah mereka. Viana masih mengemudikan dengan perlahan menuju garasi.
"Anak-anak, bangun, sudah sampai," ujar Viana sambil menggoyangkan tubuh kedua anaknya.
"Sayang, masuk dan istirahatlah," ujar Sean.
"Aku tidak mengantuk." Viana beralih menuju ke taman belakang disusul oleh Sean.
"Viana, kau mau kemana?" panggil Sean yang mempercepat langkah kakinya karena Viana sudah berlari kecil menuju sebuah pohon rindang yang terdapat bangku di bawahnya. Ia menduduki bangku itu seraya memandangi pohon yang ada di atasnya.
"Lari mu cepat sekali." Sean datang dan langsung duduk di samping Viana.
__ADS_1
"Kau sudah terlalu tua untuk berlari," ejek Viana.
"Sejak dulu kau selalu mengalahkan aku bahkan dalam hal cinta." Sean mendekap erat tubuh Viana lalu mencium keningnya istrinya itu.
"Dekapanmu seperti orang yang takut kehilangan. Erat sekali." Viana mencoba melepaskan pelukan Sean yang kini sudah membuat sesak nafasnya.
"Aku hanya khawatir. Kau sangat aneh belakangan ini. Aku harap itu hanya firasat saja." Sean memegang tangan Viana lalu menciumnya. "Kau adalah nafasku, tetaplah bersamaku, jangan pernah pergi dariku." Menatap dengan penuh cinta.
"Sean, kau juga hidupku. Aku tidak akan meninggalkan dirimu. Kita akan terus bersama." Viana membelai pipi Sean dengan lembut.
"Kau biasanya menepuk pipiku. Kenapa sekarang membelainya?"
"Aku ingin sesekali bersikap lembut pada suamiku."
"Kasar lah padaku setiap hari, aku sudah terbiasa. Jangan jadi Viana yang berbeda." Sean menatap Viana dengan tatapan memohon.
"Baiklah." Viana langsung menepuk pipi Sean, lalu mencubit hingga Sean meringis kesakitan.
"Ahhh, sakit sekali. Ini baru istriku." Sean memegangi pipinya yang masih terasa sakit.
"Disaat semua orang ingin pendamping yang bersikap lembut, kau malah menginginkan istrimu yang bersikap kasar. Aneh sekali." Viana memandangi wajah Sean yang terdapat raut kesedihan di sana.
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu." Menatap Viana dengan serius.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu." Menatap Sean dengan penuh cinta. Hingga obrolan mereka pun diakhiri dengan sebuah ciuman penuh cinta.
"