Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Obrolan


__ADS_3

Hari-hari dilalui Viana dengan aktivitas barunya itu. Ia selalu pergi ke tempat Gym setelah suami dan anak-anaknya berangkat, kemudian ia akan pulang sebelum mereka pulang.


Pagi ini, Viana sudah berada di tempat kerjanya. Namun, saat akan menaiki anak tangga, seseorang memanggilnya. Viana langsung menoleh ke sumber suara yang berada di depannya saat ini.


"Oh, kau rupanya? Sudah bangkrut atau memang tidak punya pekerjaan?" tanya Viana dengan tatapan sinis nya.



"Tutup mulutmu. Aku hanya ingin memperindah bentuk tubuhku." Stevi menatap dengan kesal.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?" Menatap arah lain.



"Kau tidak perlu merepotkan dirimu dengan mencampuri urusan orang lain."


"Terserahlah, yang penting suamiku tidak ada di sini." Viana melanjutkan langkahnya diikuti dengan Stevi yang berdiri di belakangnya.


Namun, saat menaiki anak tangga terakhir, kaki Viana terselip dan tubuhnya jatuh terhuyung ke belakang.


"Dasar bodoh. Perhatikan langkahmu." Stevi memaki Viana yang punggungnya kini sedang bertumpu ditangannya. Ya, Stevi menolong Viana yang hampir jatuh.


"Kau menolong ku?" Viana terlihat heran.


"Jangan bercanda, jika aku tidak menolong mu, maka, jika kau mati, semua orang akan menuduhku karena hanya aku yang ada di sini." Stevi melanjutkan langkahnya masih dengan tatapan kesal. Meninggalkan Viana yang tersenyum simpul.


Ia pun juga melangkah menuju ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Di dalam, Stevi sedang melakukan pemanasan. Ia pun ikut melakukan pemanasan di samping Stevi.


"Aku tahu kau berhutang budi padaku, tetapi tidak perlu mengikuti ku." Stevi berdecak kesal.


"Jangan senang dulu, aku hanya ingin tahu, sehebat apa dirimu dalam olahraga. Jika ku lihat, gerakan pemanasan mu saja lemah sekali," cibir Viana.


"Berani sekali kau mengatakan itu. Awas saja, aku akan merebut suamimu!" bisik Stevi yang masih menggerakkan tubuhnya.


"Oh ya? Aku menantikannya." Tersenyum.


"Apa kau sedang tidak waras, atau aku yang salah dengar? Kau menantikan suamimu aku rebut?" Stevi menatap heran.


"Ya." Viana mengangguk sembari tersenyum.


"Ada yang salah dengan kepalamu. Rajinlah ke dokter." Stevi meninggalkan Viana, lalu menuju ke salah satu alat di sana.


*****


Pada malam harinya, saat itu Sean dan Viana sedang berada di dapur. Sean sedang minum air, sedangkan Viana baru saja selesai merapikan meja makan. Ya, Sean pulang larut, sehingga ia baru bisa makan. Makanan di luar tidak menggugah selera, katanya.



"Sean, katakan padaku. Kau tidak berselingkuh dengan Stevi, 'kan?" Viana menatap penuh selidik.


Mendengar ucapan Viana, Sean langsung menghentikan minumnya. Bersyukur tidak sampai menyemprotkan minuman itu dari mulutnya. "Apa katamu?" Menatap Viana dengan heran.


__ADS_1


"Apa kepalamu tadi terbentur sesuatu? Bersamamu saja aku tidak habis, bagaimana bisa aku berselingkuh? Kau kira aku mau mengorbankan nyawaku jika kau murka? Dan lagi, apa rasa cintaku selama ini tidak cukup membuatmu percaya bahwa aku setia padamu? Atau apakah sekarang istriku sudah gila? Sedang kerasukan? Kau tadi pergi ke hutan mana?" Sean memberondong banyak pertanyaan pada Viana.



"Tidak, aku mengetes reaksimu saja. Aku percaya padamu. Dan kalau kau mencintaiku, maukah kau melakukan sesuatu untukku?"


"Sesuatu apa? Mendatangkan psikiater, memasukkan mu ke rumah sakit jiwa, atau mendatangkan mu orang pintar?"


"Sean, aku serius."


"Aku juga serius. Sejak kapan kau meminta? Apapun yang kau mau pasti akan ku penuhi, kenapa malah meminta?"


"Oh iya, maaf." Viana mendekati Sean lalu membisikkan sesuatu padanya.


Sean yang sedang menenggak minumannya langsung terbatuk-batuk, bahkan air juga keluar dari hidung dan mulutnya.


"Ah, perih, perih sekali." Sean memegangi hidungnya yang memerah.


"Ya ampun Sean, apa permintaan ku seburuk itu hingga kau jadi begini." Viana mengambil tisu lalu melap hidung dan mulut Sean.


"Kau jangan asal bicara, jangan bercanda, Viana. Nanti kena pasal fitnah." Sean mengingatkan.


"Apa? Aku tidak memfitnah, itu kenyataan."


Sean menatap serius. "Baiklah, mari bicarakan itu di kamar."


Mereka pun segera pergi ke kamar. Mengobrol dengan serius, hingga kantuk menjelang.

__ADS_1


Insyaallah sebentar lagi akan tamat 😊


__ADS_2