Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Marah #2


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Viana sudah benar benar pulih dan sudah bisa beraktivitas seperti semula.


Karena sebelumnya dia cuti selama beberapa hari.


Pagi ini dia dan Sean sudah pergi ke kantor.


Sepanjang berjalan Sean hanya menatap lurus ke depan tanpa menggubris sapaan para bawahannya.


Viana yang berjalan di belakangnya hanya diam dan menatap kesal.


Kenapa dia sombong sekali sih. Geruru Viana dalam hati


Sesampainya di ruangannya, Viana langsung mengurus setumpuk pekerjaan yang dia lewatkan selama beberapa hari.


"Hai Vi, bagaimana keadaanmu?" Sapa Kevin yang baru saja masuk


"Baik Kev" Kata Viana di sela senyumannya.


"Kev?" Tanya Kevin yang begitu aneh mendengar sebutan namanya.


"Kalau aku bilang Vin, itu hampir sama seperti panggilan namaku" Kata Viana


"Hahaha baik lah terserah kau saja" Kata Kevin di sela tawanya.


"Aku datang kesini untuk membantumu. Aku tau hari ini pekerjaanmu sangat banyak dan kamu baru sembuh dari sakit jadi aku akan meringankan pekerjaanmu" Kata Kevin


"Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu?" Tanya Viana


"Hari ini Tuan Sean tidak ada jadwal kemana pun, jadi dia memperbolehkanku membantumu" Kata Kevin yang tidak tau kalau sebenarnya Sean sengaja mengosongkan jadwal agar Kevin bisa punya waktu untuk membantu Viana.


"Wah terima kasih Kev" Kata Viana kegirangan.


Tadinya dia berpikir bahwa hari ini dia akan lembur tapi karena kedatangan Kevin seakan beban berat di kepalanya hilang seketika.


Sepanjang bekerja Viana dan Kevin saling melemparkan tawa. Viana yang humoris dan Kevin yang ramah adalah dua elemen yang sangat cocok jika bersama.


Pekerjaan mereka menjadi lebih menyenangkan karena di isi dengan canda dan tawa.


Di sisi lain, ada sepasang mata yang memanas melihat isi rekaman CCTV di ruangan Viana.


Semua CCTV memang di pasang di semua ruangan di kantor itu kecuali ruangan Sean dan kamar mandi.


Sean menggenggam erat tangannya.


Matanya serasa panas melihat pemandangan itu.


Dasar sekretaris sialan. Berani sekali kau bercanda ria dengannya. Dan kau Viana, aku akan memberi pelajaran padamu di rumah. Sorot mata penuh kemarahan.

__ADS_1


Jam pulang kantor pun tiba. Sepanjang jalan Sean hanya diam saja.


Viana tidak menangkap gelagat aneh karena Sean memang biasanya diam dan hanya berbicara seperlunya saja.


Sesampainya di rumah, Viana ingin membawakan tas Sean namun Sean segera menepis tangannya dan mempercepat langkahnya.


Sebenarnya apa salahku? Kenapa dia jadi bersikap begitu?. Viana menggeleng kepalanya. Dia benar benar tidak mengerti dengan sikap Sean yang tiba tiba saja menjadi dingin


Viana menyusul Sean ke kamar.


Dia membuka pintu dan melihat Sean sedang menatap keluar jendela.


Sepertinya dia langsung ganti baju tanpa mandi terlebih dahulu



"Sean" Sapa Viana yang berdiri di belakang Sean.


Sean tidak menjawab.


"Sean" Ucap Viana lagi


Masih tidak ada jawaban.


Viana hendak bergerak menuju kamar mandi namun kata kata Sean menghentikan langkahnya.


Viana diam tak bergeming. Dia tau betul kapan saat Sean berkata serius atau main main.


Seketika dia teringat saat Sean menyiksa pelayan yang menumpahkan minuman ke bajunya.


Viana ingat betul sorot mata penuh kemarahan yang begitu menyeramkan dan menusuk.


Ah rasanya dia ingin sekali melihat Sean memarahinya habis habisan atau mengerjainya seperti saat di kantor dari pada harus berada dalam situasi seperti ini.


Viana masih diam.


Sean berbalik dan menatap Viana dengan sorot mata penuh kemarahan.


Viana menunduk, matanya tidak kuat jika harus menatap Sean yang begitu menyeramkan.


Jika dia menghajar Sean, itu akan membuat Sean semakin membencinya.


Dan dia terlalu mencintai Sean sehingga melukainya hanya akan menyakiti hatinya juga.


Dan apakah Sean akan diam jika dia menghajarnya? Yang Viana takutkan, Sean akan mengamuk dan malah balik menghajar Viana. Karena Sean orang yang tidak bisa di perlakukan kasar. Jika orang kasar kepadanya, maka dia akan jauh lebih kasar lagi atau bahkan menjadi dendam Viana.


Sean terlihat melangkah mendekatinya. Dalam beberapa langkahnya dia sudah ada di hadapan Viana.

__ADS_1


Viana masih menunduk, dia tidak berani menatap Sean yang marah entah karena apa.


"Tatap mataku" Kata Sean dengan tatapan dingin


Viana mendangak dan kini dia sudah menatap Sean.


"Apa kau tau apa kesalahanmu?" Tanya Sean


Apa? Kesalahan apa? Aku tidak melakukan apapun. Dan jika kamu tau apa kesalahanku kenapa mesti bertanya? Apa kamu pikir aku punya indra keenam sehingga bisa membaca pikiranmu?


"A...aku tidak tau Sean" Kata Viana gugup


"Berani sekali kau bilang tidak tau" Kata Sean yang kini menarik dan mencengkram kerah baju Viana


Viana memejamkan matanya.


"Buka matamu!!!" Bentak Sean


Viana langsung membuka matanya.


Aku hampir tuli Sean. Kecilkan lah suaramu


"Jika seujung jari pun kau biarkan dirimu di sentuh orang lain, aku akan mematahkan setiap tubuhmu yang dia sentuh" Kata Sean menatap tajam


"Apa?" Viana masih belum mengerti dengan maksud Sean


"Jika kau tertawa dan tersenyum pada laki laki lain, aku akan merobek mulut dan mencongkel kedua matamu agar kau tidak melakukannya lagi" Kata Sean semakin menarik tubuh Viana.


Viana berusaha melepas cengkraman tangan Sean, namun tidak di sangka. Tenaga Sean saat marah ternyata melebihi monster. Sangat kuat bahkan Viana tidak mampu menarik tangan Sean walau sesenti pun.


Kenapa dia bisa sekuat ini? Apakah jika orang sedang marah akan jadi kuat begini?


"Apa kau sedang berpikir untuk menghajarku sekarang?" Tanya Sean dengan senyuman yang jauh lebih menyeramkan.


"Ti...tidak Sean" Viana menggeleng dan melepaskan tangannya.


Sean mendekatkan wajahnya hingga hembusan nafasnya bisa di rasakan Viana.


Wangi mint yang menyegarkan.


Bagaimana nafasnya bisa sesegar ini? Apa dia menghisap permen mint sepanjang hari? Dan nafasku? Aku bahkan belum menggosok gigi. Gumam Viana


"Apa nafasku bau?" Tanya Sean semakin dekat. Matanya menatap tajam.


Viana memicingkan matanya dan menggeleng.


Bagaimana bisa dia setakut ini?

__ADS_1


Sejak dia menyadari perasaannya kepada Sean, perlahan keberaniannya serasa menghilang


__ADS_2