Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Makan Malam


__ADS_3

Sesampainya disana, mereka langsung di sambut hangat oleh Gilang. Gilang terlihat tampan dengan setelan jas yang rapi.



"Selamat datang Sean, Viana dan Raya senang bertemu denganmu." Ucap Gilang.


"Senang bertemu dengan kakak juga." Balas Raya sambil tersenyum malu.


"Ayo silahkan duduk." Tawar Gilang.


Mereka semua duduk dengan posisi double date. Sean dengan Viana sedangkan dihadapan mereka ada Gilang dan Raya.


"Raya kau cantik sekali." Puji Gilang.


Raya mengulum senyuman.


"Terima kasih kak." Ucap Raya dengan pipi merona.


Setelah memesan dan makanan datang, mereka segera menyantapnya.


"Sean bagaimana dengan posisimu, apakah sudah ada tanda-tanda?." Tanya Gilang.


"Entahlah, tapi sekarang aku tidak peduli." Jawab Sean.


"Sepertinya istrimu yang paling penting sekarang." Kata Gilang.


"Hahaha dasar kau ini." Sean merasa sedikit malu. Secara tidak langsung dia sudah mengatakan bahwa istrinya lebih penting dari jabatan CEO.


"Sean, aku dengar Lidya masuk ke sel ya." Tanya Gilang.


Viana menghentikan makannya.


"Iya, dia sudah berani kasar dengan istriku. Kau tau kan apa akibatnya jika bermain-main denganku." Kata Sean.


"Sangat disayangkan. Padahal dia sangat pintar tapi tiba-tiba jadi begitu bodoh." Gilang menggelengkan kepalanya.


"Biarlah dia menuai apa yang dia tanam." Kata Sean.


"Kamu kenal Lidya juga?." Tanya Viana tiba-tiba.


"Tentu saja, dia juga rekan bisnisku. Tapi karena kesalahan bodohnya aku terpaksa membatalkan kerja sama dengannya. Aku tidak mau bisnisku hancur karenanya." Jelas Gilang.


"Kakak suka sama kak Lidya?" Tanya Raya tiba-tiba.


Semua mata tertuju pada Raya.


"Tidak, untuk apa aku menyukainya kalau disampingku ada bidadari yang sangat menawan." Goda Gilang.


Pipi Raya bersemu merah. Dia tersenyum malu.


"Hei, apa yang sudah ku katakan tentang jangan menggoda adikku." Kata Sean mengingatkan.


"Lihat lah Raya, kakakmu begitu garang." Ucap Gilang.


Raya melirik Sean dengan tatapan tajam.


"Hei kenapa kau melirikku seperti itu. Aku kakakmu." Gerutu Sean.


Viana hanya tertawa melihat pertengkaran konyol mereka.


"Oh ya Gilang, apa kau sering ke Amerika?" Tanya Sean.

__ADS_1


"Dalam satu bulan aku kesana 3 atau 4 kali." Kata Gilang.


"Apa hanya untuk pekerjaan saja.?" Tanya Sean.


"Hmmm." Jawab Gilang.


"Apakah teman atau saudaramu juga ada disana?" Tanya Sean.


"Ada temanku yang tinggal disana." Ucap Gilang.


"Siapa?" Tanya Sean.


"Seorang pria namanya Ken. Dio juga mengenalnya." Ucap Gilang.


"Oh, kapan-kapan perkenalkan aku dengannya ya." Kata Sean.


"Iya." Gilang mengangguk.


Gilang tidak menyembunyikan apapun dariku dan dia berkata jujur. Baiklah dia memang benar-benar temanku. Batin Sean.


Setelah menyelesaikan makan malam itu, mereka segera berpisah. Sean, Viana dan Raya pulang duluan, sedangakn Gilang akan pulang nanti.


***


Di perjalanan, Sean merasakan hal aneh pada laju mobilnya.


"Ada apa kak?" Tanya Raya yang juga merasakan hal yang sama.


"Entahlah." Sean segera menghentikan mobil dan keluar mobil. Dia melihat sekeliling dan menemukan salah satu ban mobilnya kempes.


"Berengsek, aku akan menuntut bengkel itu." Gerutu Sean.


"Ada apa Sean?" Tanya Viana yang ikut keluar mobil.


"Biar aku saja yang....."


"Tidak, tidak jangan lakukan lagi. Kita membawa pengawal dan jangan buat aku menjadi suami tidak berguna mengerti?" Kata Sean yang mencegah niat Viana yang ingin mengganti ban mobil itu.


Sean melihat ke belakang mobil namun tidak menemukan mobil pengawalnya.


"Dimana mereka." Sean mengeluarkan ponselnya dan menelpon Daniel.


"Halo, dimana kalian." Teriak Sean.


"Maaf Tuan, mobil yang kami bawa sedang mogok. Harry sedang memperbaikinya." Jawab Daniel.


"Kenapa bisa mogok." Kata Sean.


"Kami membawa mobil lain karena mobil yang biasa kami bawa sedang di service Tuan." Jawab Daniel.


"Cepatlah dasar bodoh" Sean mematikan teleponnya.


"Dimana mereka?" Tanya Viana.


"Mobil mereka juga mogok." Kata Sean.


"Sean kita bisa memanggil pengawal dari rumah kan." Kata Viana.


"Tidak, aku tidak mau terlihat lemah dan hanya mengandalkan pengawal saja." Kata Sean.


"Ya sudah biar aku saja yang mengganti ban mobilnya." Kata Viana.

__ADS_1


"Tidak, jangan....Biar aku saja." Kata Sean terpaksa. Ini lebih baik dari pada melihat istri yang memperbaiki ban mobil itu.


Sean membuka pintu belakang mobil.


"Keluar lah Yang Mulia, dongkrak mobil ini bisa patah jika kau tetap duduk manis didalam." Kata Sean.


Raya keluar dengan perasaan kesal.


Sean mengeluarkan dongkrak dan mulai bekerja. Viana yang melihat cara kerja Sean sangat gemas ketika melihat Sean bekerja dengan sangat lambat.


"Sean biar aku ban...."


"Tidak, jangan kotori tanganmu. Jika kau berani menyentuh peralatan ini aku akan mencuci tanganmu dengan air rebusan jengkol." Ancam Sean.


"Sean dari mana kamu tau aku suka makan jengkol?." Tanya Viana.


Apa yang di katakan Sean benar. Dia sangat suka makan jengkol. Tapi dia masih heran kenapa Sean bisa tau kalau dia suka makan jengkol.


"Apa? Jadi kau suka makan makanan bau itu?" Sean menghentikan pergerakan tangannya dan menatap Viana seakan tidak percaya.


"Mereka memang bau setelah di cerna, tapi rasanya sangat enak Sean." Jawab Viana.


"Oh ya ampun. Dengar ya, aku tadi hanya asal bicara. Jangan pernah berpikir kalau kau boleh makan makanan bau itu, mengerti." Ancam Sean.


"Iya" Jawab Viana.


Karena aku tau seperti apa dirimu sehingga aku berhenti makan itu setelah aku menjadi istrimu. Memangnya apa yang akan terjadi jika mulutku bau. Kau tidak hanya akan memanggilku monster tapi juga si mulut jengkol. Hahaha menggelikan sekali, hiks.


Sean terus berkutat dengan peralatan yang baru sekali ini dia sentuh.


Setelah 1 jam akhirnya ban mobil telah siap di pakai.


Pakaian Sean terlihat kacau. Noda hitam ditangannya sudah seperti sarung tangan sangking tebalnya noda hitam yang menyelimuti tangannya. Wajahnya juga terkena noda hitam.


Tak lama kemudian mobil para pengawalnya datang.


"Kenapa baru datang bodoh, lihat aku jadi seperti gelandangan." Teriak Sean.


"Maaf Tuan, tadi...."


"Ah sudah lah, sebagai hukuman, kalian juga harus....." Sean menggantung kata-katanya setelah menyadari penampilan Daniel dan Harry yang benar-benar kacau. Bahkan lebih kacau dari dirinya. Tadi dia ingin bilang kalau sebagai hukuman, Daniel dan Harry harus ikut berkotor-kotoran juga. Tapi melihat mereka yang begini, Sean mengurungkan niatnya. Memangnya dimana lagi dia bisa mengoleskan noda pada mereka.


"Dimana Raya?" Tanya Sean.


Semua melihat kesana kemari.


"Ah tidak usah dicari, aku sudah tau." Sean membuka pintu mobil belakang dan melihat Raya sedang tertidur pulas. Sean menggelengkan kepalanya.


"Pantas saja aku kesulitan tadi. Ternyata ada dia." Gerutu Sean.


Mereka semua masuk ke mobil dan bergegas pulang. Viana terus memikirkan penyebab mobil mereka mogok. Ada kemungkinan lagi-lagi ini sabotase kakak tirinya.


Sementara itu.


Kevin yang sedang rebahan di ranjangnya merasakan perasaan aneh. Tiba-tiba hatinya menjadi senang tanpa dia tau penyebabnya apa.


"Aku tidak tau kenapa tapi malam ini aku merasa senang sekali." Ucap Kevin.


***


Di tempat lain.

__ADS_1


Dio sedang berdiri menatap keluar jendela kamarnya. Dia tertawa lebar.


"Hahaha lihat kan, malam ini aku berhasil membuat kalian susah. Tunggu saja. Aku akan membalasmu Viana." Dio tersenyum menyeringai.


__ADS_2