
Hari ini adalah acara pentas seni di sekolah Sevina dan David. Orang tua mereka ikut menonton tak terkecuali Alex dan Mega. Mereka menantikan saat David memainkan gitar di penghujung acara.
Mereka masih menikmati beberapa adegan lucu didalam drama itu. Sevina yang merupakan pemeran utama terus menampilkan aksi bela dirinya. Semua penonton berdecak kagum. Mereka bertepuk tangan saat melihat kelincahan dan kehebatannya di atas panggung.
Sean dan Viana terlihat begitu antusias melihat penampilan putrinya. Reyza yang sedang duduk dipangkuan Sean juga terlihat memanggil-manggil kakaknya.
"Huhh begitu saja kok bangga. Memangnya anaknya mau dijadikan tukang pukul." Gerutu seorang wanita disamping Viana. Viana menolehnya sedangkan Sean tidak karena dia tidak mendengarnya. Dia sibuk mengobrol dengan Om Alex disampingnya.
"Apa masalahmu Lisa? Apa karena putrimu hanya dijadikan bunga dipanggung ini dan kau iri melihat kehebatan putriku? ucap Viana sambil tersenyum sinis. Dia baru menyadari keberadaan Lisa disampingnya karena tadi bangku yang diduduki Lisa kosong. Sepertinya dia datang terlambat.
"Untuk apa aku iri pada anakmu yang arogan itu?" ucap Lisa yang juga tersenyum sinis.
"Setidaknya anakku adalah orang yang sopan terhadap orang tua. Jika masuk ke ruangan gurunya mengetuk dan memberi salam. Terlihat jelas seperti apa orang tuanya mengajarinya bukan?" Viana kembali tersenyum.
"Aku tidak tau seperti apa anakmu saat dewasa nanti. Ah, apa cita-citanya ingin jadi petinju? Atau Bodyguard? Ah atau jadi centeng? Hahaha." Lisa tertawa di tengah gelak tawa penonton saat menampikan adegan lucu Sevina. Viana menatap panggung dan melihat anaknya yang sedang berakting.
"Dia putri keluarga Armadja. Tentu saja saat dewasa dia akan menjadi wanita yang hebat. Bahkan seorang pemilik kapal pesiar pun tidak bisa menandingi kekuatan dan kekayaan keluarga Armadja. Karena jika aku minta sekarang, suami tampanku ini akan langsung membelikan sepuluh kapal pesiar yang lebih bagus dari milik suamimu. Jangan lupakan siapa keluarga Armadja. Jangan hina anakku atau suamiku akan membuatmu bangkrut dalam semalam. Bersyukurlah selama ini hinaanmu tidak aku adukan pada suamiku." ucap Viana dengan tatapan serius.
"Cih dasar sombong. Baru punya suami kaya saja sudah sombong." sindir Lisa.
"Tentu saja. Selain kaya suamiku juga sangat mencintaiku dan kedua anakku. Lihatlah, suamiku datang ke acara ini demi melihat anaknya. Dia tidak pernah melewatkan satu acara pun meski sangat sibuk. Mana suamimu? Berlayar? Jika dia pemilik untuk apa ikut berlayar. Kurang duit ya. Hahaha kasihan." Viana tertawa kecil lalu menoleh ke arah panggung menyaksikan David yang kini sedang bermain gitar. Dia terlihat begitu mahir dalam memetik senar-senar gitarnya.
Lihatkan Lisa aku jadi mengeluarkan lidah berbisaku. Sakit hat**ilah sana. Salahmu sendiri kenapa mencari gara-gara denganku. Batin Viana.
__ADS_1
Lisa mendengus kesal karena dia tidak bisa membalas perkataan Viana. Karena yang dibilang Viana benar. Suami Viana selalu datang ke setiap acara sekolah anaknya sedangkan suaminya tidak pernah sekalipun datang ke sekolah apalagi menjemput anaknya. Itu karena suaminya selalu sibuk dengan dunia luar dan melupakan waktu dengan keluarga.
Acara pun selesai. Semua sudah membubarkan diri. Alex menggendong David yang baru turun dari pentas. "Hebat sekali cucu Opa." ucap Alex sambil mencium pipi David berulang kali begitu juga dengan Mega. Anggun tersenyum melihat anaknya begitu dicintai oleh Alex dan Mega mesti David bukan darah mereka.
Sean menyerahkan Reyza ke Viana dan menggendong Sevina. "Anak Papa jago sekali." ucap Sean sambil mencium kening anaknya.
"Siapa dulu yang mengajari iya kan sayang." ucap Viana sambil membelai rambut Sevina.
"Iya dong Ma. Ma, jangan lupa ya nanti jadwal latihan kita." Celetuk Sevina.
"Ya ampun anak ini tidak ada capeknya ya. Iya sayang Mama ingat kok nanti kita latihan." ucap Viana mencubit pipi tembam Sevina gemas.
Dari kejauhan tampak Lisa menatap keluarga Viana dengan tatapan kesal. Dia sangat iri dengan hidup Viana yang beruntung. Padahal dulunya Viana hanya seorang tukang urut. Namun nasib baik membawanya menjadi menantu keluarga Armadja.
Keluarga Sean dan Anggun pun bergegas pergi dari acara itu. Mereka akan makan di restoran Sean yang sudah dipesan sebelumnya.
Sesampainya disana, mereka segera memesan makanan dan menyantapnya.
"Anggun aku dengar kau jago membuat makanan seperti ini ya." ucap Viana sambil menunjuk hidangan yang sedang mereka makan.
"Iya tante, masakan buatan Mama enak sekali." celetuk David.
"Tidak Vi. Aku hanya hobi saja. Tidak ada yang istimewa rasanya biasa saja." ucap Anggun merendahkan diri.
__ADS_1
"Katakan padaku, apakah hidangan makan malam waktu itu adalah buatanmu?" tanya Viana.
"Iya tante. Mama yang masak. Pelayan dirumah cuma bantu-batu aja." celetuk David lagi.
"Tuh kan benar. Hidangan malam itu enak sekali loh." ucap Viana.
"Oh jadi kau yang masak? Papa tidak tau kalau menantu Papa jago masak." puji Alex.
Anggun hanya menyunggihkan senyumannya.
"Anggun begini. Sebenarnya kami sedang membutuhkan Manager di restoran ini karena Manager yang lama akan dimutasikan ke daerah lain seminggu lagi. Mau kah kau menggantikan posisinya?" tanya Sean dengan serius.
"Tidak Sean. Aku tidak bisa." ucap Anggun.
"Kami membutuhkanmu disini. Ayolah Anggun demi aku." ucap Viana dengan tatapan memohon.
Anggun menjadi bingung. Dia menoleh ke arah mertuanya dan mereka mengangguk.
"Baiklah aku mau. Aku akan segera mengundurkan diri dari perusahaan tempatku bekerja." ucap Anggun.
Semua senang mendengar keputusan Anggun. Memang lebih baik Anggun bekerja disini dari pada menjadi karyawan biasa dengan gaji minim. Disini dia juga bisa berkreasi menciptakan menu-menu baru.
Semula Alex dan Mega berencana memberikan sebuah usaha restoran untuknya namun mereka takut Anggun akan menolak karena kali ini mereka tidak punya alasan seperti saat memberikan rumah yang Anggun tempati sekarang. Karena itu Sean menawarkan agar Anggun bekerja padanya saja supaya dia punya waktu lebih banyak untuk David. Dengan begitu dia juga bisa menjemput David setiap jam pulang sekolah.
__ADS_1
Sean dan Viana saling pandang. Mereka tersenyum karena rencana mereka berhasil. Anggun akhirnya mau menerima pekerjaan itu.