
Di dalam pabrik itu Dia menemukan Kevin dalam keadaan sekarat karena luka ditubuhnya yang sangat parah tepat sebulan yang Lalu. Dia mengirimkan foto Kevin kepadaku untuk mengindentifikasi nya. Dan aku benar-benar tidak menyangka bahwa itu Kevin. Kemudian aku menyuruh pengawal membawanya ke rumah sakit keluarga Armadja dan menemuinya disana. Aku tidak memberitahukan kalian. Jika kalian melihat kondisinya saat itu juga, kalian tidak akan sanggup melihatnya. Bahkan berat badannya saat itu hanya 40 kilogram." tutur Sean mengakhiri penjelasannya.
Anggun menangis dalam pelukan Kevin. Rasanya sangat sesak baru mengetahui hal ini. Kevin harus mengalami penderitaan selama bertahun-tahun. "Sudahlah, yang penting aku baik baik saja." ucap Kevin sambil mengusap rambut Anggun.
Mega juga menangis dalam pelukan Alex.
"Aku dengar mereka divonis penjara seumur hidup. Kenapa tidak hukuman mati saja?" tanya Alex.
"Pa, Aku rasa Sean bisa membuat mereka di vonis hukuman mati. Tapi, tidakkah itu adil untuk Kevin? Biarlah mereka menderita seumur hidup. Biar mereka melihat dulu orang-orang yang ingin mereka hancurkan sekarang tengah bahagia." ucap Axel yang terlihat sangat geram setelah mendengar cerita Sean tadi.
"Ya, kau benar. Mereka memang harus menderita." ucap Alex dengan tatapan serius.
"Yang terpenting sekarang semua sudah berakhir. Selanjutnya kita harus mengurus pernikahan Anggun dan Kevin, mengingat Anggun pernah menikah lagi dan merubah data-data mereka kembali." ucap Sean.
__ADS_1
"Iya kau benar. Kita akan mengadakannya sesegera mungkin. Ada Sean, semua bisa jadi cepat jadi untuk Anggun dan Kevin kalian bersabar dulu ya." ucap Mega yang membuat Anggun dan Kevin tersenyum malu. Untuk sementara ini Kevin akan tinggal dirumah Alex dan Mega sampai mereka menikah lagi.
Tak berselang lama, seluruh keluarga Armadja datang. Mereka terlihat saling memeluk dan menangis.
Berbeda dengan Rangga, dia malah memeluk Sean dan menepuk punggungnya. "Kau adalah kebanggaan Papa. Kau sudah melakukan hal yang baik." ucapnya.
"Terima kasih Pa. Sudah lihatkan bahwa aku bisa memecahkan masalah tanpa bantuan Papa." ucap Sean dengan bangga.
"Aku hanya tidak ingin ada korban jiwa Pa. Makanya aku membawa semuanya agar mereka menyerah sebelum berperang." ucap Sean.
"Sekali lagi kau membuktikan bahwa kau anak Papa." ucap Rangga.
"Sayang." Alya menarik Sean ke dalam pelukannya. "Terima kasih Nak. Kau membuat semua orang bahagia." ucap Alya sambil mengelus rambutnya.
__ADS_1
"Kakak." Raya memeluk Sean dan menangis. "Kau sudah membuat Axel tidak bersedih lagi. Terima kasih ya." ucap Raya.
"Mereka juga keluargaku. Mereka juga harus bahagia." ucap Sean seraya tersenyum. Raya melepas pelukannya dan tersenyum.
"Dan kau Viana, apa kau tidak ingin memelukku?" tanya Sean sambil merentangkan tangannya mengharapkan sebuah pelukan dari istrinya.
"Peluklah ini." ucap Viana sambil menyerahkan bantal sofa padanya. Semua yang ada disitu sontak tertawa melihat kelakuan Sean dan Viana.
Viana menghampirinya dan berbisik. "Kau bisa memelukku sampai puas dirumah sayang."
Sean tersenyum mendengar bisikan Viana. Yang dikatakan Viana memang benar, untuk apa berpelukan disini jika dirumah dia bisa memeluk Viana sepuasnya.
Setelah puas mengobrol dan merencanakan ini dan itu, mereka semua pun pamit pulang. Alex dan Mega membawa Kevin ke rumah mereka setelah sebelumnya berpamitan kepada David dan Anggun. Berat rasanya berpisah dengan orang yang disayang. Namun perpisahan kali ini berbeda. Karena mereka berpisah untuk kembali lagi secepatnya. Terima kasih Sean, kali ini kau adalah pahlawannya.
__ADS_1