
Viana memasuki kamarnya. Ia berjalan menuju balkon kamarnya untuk merenung sejenak.
"Apa kita terlalu miskin, Ayah? Apa karena kita dari kalangan orang biasa, sehingga membuat orang yang berkuasa memandang kita dengan sebelah mata?" Viana menyeka sudut matanya yang basah.
"Sudah lama sekali aku tidak menangis. Dan hari ini aku menangis karena ulah suamiku. Aku kira dengan hidup saling mencintai dan menyayangi akan membuat hidupku bahagia. Ternyata tidak, aku lupa bahwa aku dan Sean punya perbedaan. Ia adalah orang pangeran yang menikahi pembantunya. Kenapa baru sekarang aku melihat perbedaan itu?" tersenyum sambil menangis.
Puas menangis, Viana pun kembali ke kamar. Ternyata di sana sudah ada Sean yang menatapnya dengan serius. Melihat pakaian yang dikenakan Sean sudah berubah, Viana tahu Sean akan pergi.
Viana terus melangkah menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Sean.
"Apa begini caramu bersikap pada suami?" Suara Sean menghentikan langkah Viana.
"Maaf," ucap Viana dengan wajah kesal.
"Tidak ada istri yang meminta maaf dengan raut wajah kesal seperti itu."
"Apa aku harus berlutut dan meminta maaf?" tanya Viana. Kali ini tatapannya berubah sinis.
"Aku tidak sekejam itu. Aku hanya meminta istriku tersenyum padaku, bukan cemberut seperti ini. Kau bahkan tidak menanyakan kemana aku akan pergi."
__ADS_1
"Baiklah, Sean, mau kemana?" Memaksakan senyuman.
"Pergi ke luar."
Mendengar jawaban Sean yang memancing emosi itu, membuat Viana langsung masuk ke kamar mandi.
Sean pun segera pergi ke luar. Tak lupa, ia berpamitan kepada Sevina dan Reyza.
Viana keluar dari kamar mandi dengan rambut basah sehabis keramas. Ia menuju ke depan cermin untuk mengeringkan rambutnya. Setelah itu, ia pergi ke ruang ganti guna mengganti baju.
Ia pun turun ke lantai bawah menemui anak-anaknya.
"Sevina, Reyza, kalian sedang apa?" tanyanya.
Viana pun duduk mendekati mereka. "Sayang, tiga hari lagi 'kan Mama ulang tahun, bagaimana kalau kita rayakan di rumah Opa Hendra," bujuk Viana. Sepertinya ia tidak kehabisan akal. Jika Sean tidak mempan, mungkin kedua anaknya bisa ia provokasi.
"Rumah Opa Hendra yang di daerah kampung, ya, Ma?" tanya Sevina dengan tatapan keraguan.
"Iya, kenapa, sayang?"
"Maaf, Ma. Sevina tidak mau. Tempat itu 'kan banyak kumannya. Mama ingat waktu Reyza tercebur ke parit depan rumah Opa? Dia sampai sakit selama seminggu. Sevina tidak mau itu terjadi lagi."
__ADS_1
Mendengar ucapan Sevina, Viana tertunduk. Ia menatap Sevina dengan senyuman. "Iya, Mama mengerti. Ya sudah, lanjutkan saja membacanya, ya. Jangan lupa kerjakan PR." Mengusap rambut Sevina lalu pergi ke ruang olahraga. Memang saat ini, ia hanya bisa memukul samsak untuk menghilangkan rasa kesal dan sedihnya.
"Mau bagaimana lagi? Ayah dan anak sama saja. Terbiasa hidup enak, sehingga tidak bisa diajak hidup susah sehari saja." Viana mulai meninju samsak yang ada di hadapannya.
Dering ponsel membuatnya berhenti. Ia melihat panggilan ternyata dari ayahnya.
"Halo, Ayah, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, bagaimana, Nak? Kau jadi merayakan ulang tahun di sini 'kan? Ayah sudah membersihkan parit dan juga sekeliling rumah ini, agar anak-anakmu tidak terkena debu. Tiga hari ke depan, Ayah akan terus membersihkan rumah ini, tenang saja."
Terdengar suara ngos-ngosan dari Hendra. Viana merasa tidak tega mengatakan hal yang sebenarnya.
"Iya, Yah. Aku akan merayakan di sana."
"Alhamdulillah, Ayah juga mau mengundang anak yatim dan kaum duafa untuk memberikan mereka santunan dari hasil Ayah memijat dan ditambah uang yang diberikan Sean. Semoga menjadi berkah untuk kita."
Tenggorokan Viana tercekat, ia tak sanggup mengatakan bahwa yang datang hanya dirinya saja.
"Iya, Ayah. Ayah jangan bekerja terlalu banyak, ya. Ayah sedang sakit, jangan memaksakan diri."
"Iya, Nak. Sudah dulu, ya. Ayah mau lanjut kerja lagi, Assalamualaikum."
__ADS_1
"Ayah jangan beker,,,,," Belum selesai Viana berbicara, Hendra sudah mematikan panggilannya. "Waalaikumsalam." Meletakkan ponselnya.
"Kasihan Ayah." Viana terduduk lemas di atas kursi. Ia tidak menyangka semua akan jadi begini. Ia merasa dilema. Di satu sisi, ayahnya mengharapkan kehadirannya, namun di sisi lain, Sean dan anak-anaknya tidak mau ikut.