
Pada malam harinya, Viana dan Sean sedang mengobrol di balkon kamar mereka.
"Sean, bisakah kau tidak usah bekerja besok?" tanya Viana.
"Kenapa?" Sean merasa heran.
"Temani aku," ujar Viana.
"Temani kemana?"
"Besok aku ingin ke makam Ibu. Aku rindu sekali padanya, rasanya aku ingin sekali bertemu dengannya," sahut Viana sambil menatap langit.
"Ibu Lusi?" tanya Sean.
"Bukankah kita sudah berziarah kesana saat menginap di rumah ayah? Ini makam ibu kandungku yang terletak di kota B," jelas Viana.
"Oh, kau ingin pergi jam berapa?"
"Setelah anak-anak pergi sekolah."
Sean tampak ragu. Jelas sekali bahwa besok ia akan ada pekerjaan penting.
"Kenapa Sean? Apakah besok ada rapat?" Viana seperti bisa membaca wajah Sean.
"Besok ada pertemuan besar antara perusahaan Armadja, Prasetya, Pramudya, Wijaya, dan Pramana," sahut Sean dengan tatapan yang penuh keraguan.
"Wah pertemuan besar, ya?" Viana tampak berpikir.
"Aku bisa saja absen, tetapi papa dan mama sedang berada di Amerika," sahut Sean.
"Tidak apa-apa, Sean. Biar aku sendiri saja yang pergi. Kau tidak boleh absen dari rapat itu karena akan banyak perusahaan yang kecewa karenanya."
__ADS_1
"Viana, tidak bisakah diundur sampai besok? Aku akan menemanimu berapa lama pun kau mau, aku berjanji. Hanya saja besok hari yang sangat penting." Sean masih menatap ragu.
"Aku sangat merindukan ibu. Aku tidak sabar bertemu dengannya." Viana tersenyum penuh harapan.
"Baiklah, tetapi bawa pengawal, ya." Sean mengingatkan.
"Iya, tetapi aku tidak mau semobil dengan mereka. Biarkan aku bersama Daniel saja," sahut Viana.
"Sepertinya kau suka sekali jika sopir satu itu yang mengantarmu." Sean menatap penuh selidik.
"Bukan begitu, hanya saja Daniel lebih penurut dibanding Harry, sopir pribadimu itu."
"Ya, aku tahu. Lagipula, Harry masih trauma denganmu karena pernah kau banting sampai terkilir. Ya sudah, berangkat lah besok. Pastikan kau hanya ke makam saja. Jangan singgah ke gym manapun atau taman ria, atau mall. Ingat, dua hari lagi, sepulang mama dan papa dari Amerika, kita akan merayakan ulang tahun mu. Jangan sampai kelelahan."
"Siap, Tuan Muda." Viana menunduk memberi hormat layaknya pelayan rumah itu.
"Kenapa kau menggemaskan sekali." Sean mencubit pipi Viana.
Kini gantian Sean yang meringis kesakitan memegangi tubuh bagian kanannya yang bersentuhan dengan lantai dengan keras.
"Maaf, Sean, aku kelepasan. Makanya jangan mengejutkan ku." Viana langsung membantu Sean dan kursinya berdiri.
"Aku yang minta maaf karena lupa bahwa istriku bertenaga monster." Sean masih meringis sambil memegangi bahu kanannya yang sakit.
"Iya, aku minta maaf, sini aku pijat." Viana menawarkan.
"Tidak, nanti akan bertambah parah."
"Kau ini, sama istri sendiri saja takut." Viana tertawa kecil.
"Bagaimana tidak takut? Bahkan pijatan mu seperti sebuah remasan kuat di tubuhku."
__ADS_1
"Iya, maaf. Aku berjanji ini terkahir kalinya aku menjatuhkan dirimu."
Sean tertegun mendengar ucapan Viana. 'Kenapa lagi-lagi dia mengucapkan hal itu? Aku merasa takut mendengarnya.' batinnya.
"Viana, biar besok aku menemanimu saja," ujar Sean.
"Tidak, aku mohon. Jangan batalkan jadwal penting mu hanya demi aku. Profesional lah." Viana menatap serius.
Belum sempat Sean berbicara, sebuah panggilan telepon terdengar. Sean langsung mengangkatnya.
"Halo, Pa."
"Sean, Papa sudah mengirim semua materi tambahan untuk kau persentasi kan besok. Jangan kecewakan Papa, martabat perusahaan ada di tanganmu."
Sean terdiam mendengar ucapan Papanya.
"Sean, apa kau mendengar Papa?"
"I,,,iya, Pa. Aku akan melihatnya."
"Bagus, kau memang anak kebanggaan Papa."
"Baik, Pa, sampai nanti."
Panggilan telepon berakhir. Sean menghela nafas panjang. Ia benar-benar pusing dengan keadaan ini. Ia beralih menatap Viana dan memeluknya.
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkan aku. Berjanjilah untuk tetap ada untukku."
"Sean, kau kenapa? Aku akan baik-baik saja, aku berjanji." Viana mengusap punggung Sean dengan lembut.
Sean melepas pelukannya lalu memegang kedua pipi Viana lalu mencium keningnya. 'Ya Allah, lindungilah istriku.'
__ADS_1