
Setelah puas menonton dan mempraktikkan adegannya langsung, Sean dan Viana memutuskan untuk berjalan-jalan ke pantai. Mereka membeli pakaian ganti di sana.
Viana terlihat sangat senang karena kali ini mereka bisa menikmati bulan madu yang sesungguhnya.
Mereka berjalan-jalan di sepanjang pantai sambil berpegangan tangan dan sesekali melempar senyuman.
"Apa kau suka?." Tanya Sean.
"Selama itu bersamamu tentu aku suka." Balas Viana.
"Ayolah kau jangan memancingku, matahari belum terbenam." Sean menatap jahil.
"Hahaha iya maaf. Tunggu? Apa? Apakah nanti malam kamu akan......" Viana menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
"Kenapa? Apa kau keberatan?." Sean mendelik dan menaikkan kedua alisnya.
"Hahaha bukan itu Sean hanya saja apakah kamu tidak lelah?." Viana melirik ke sembarang arah. Dia tidak berani menatap Sean.
"Hmmm tidak. Itu menyenangkan kenapa aku harus lelah?." Sean merangkul leher Viana dan membisikkan sesuatu.
"Sama halnya seperti alkohol waktu. Aku sangat candu padamu."
Bisikan Sean mampu membuat bulu kuduk Viana menggigil. Bukan hanya kata-katanya saja. Sean menggigit pelan telinganya dan menyentuh wajahnya dengan jari telunjuknya. Dia menurunkan jari telunjuknya dari dahi hingga ke dagu Viana. Perlahan dia mengarahkan dagu Viana ke hadapannya dan mencium bibirnya.
__ADS_1
Pengunjung pantai yang berada di sekitar situ melihat mereka.
"Duh so sweet. Itukan Sean Armadja sama istrinya."
"Iya sweet banget sih, ciuman di pantai. Aduh jiwa jombloku meronta hiks."
"Andai aja pacar aku seganteng Sean Armadja."
"Halu deh. Kalau pacar kamu ganteng, mana mau dia sama kamu."
Sean menyudahi ciuman itu. Kali ini Viana tidak protes. Dia diam dan menatap Sean lembut.
Cintailah aku selamanya Sean. Bahkan sampai kamu tau kebenaran tentang tujuanku menikahimu, janganlah berhenti mencintaiku. Aku mohon.
"Tidak ada." Viana menggeleng dan tersenyum.
"Ya sudah segera lah bersiap dan kita akan pulang" Kata Sean.
"Pulang? Secepat ini?" Tanya Viana.
"Besok kita sudah bekerja dan aku tidak mau terlalu lelah untuk pertempuran nanti malam." Sean memainkan salah satu alisnya dengan tatapan menggodanya.
Apakah harus secandu ini Sean. Kamu ini hiper atau apa? Kenapa tidak ada lelahnya. Dan aku pastikan saat aku PMS nanti, kamu pasti tidak akan mau berbicara denganku.
"Baiklah" Viana menyerah karena dia tidak mau jika harus berlama-lama berdebat dengan Sean.
__ADS_1
Mereka bersiap siap lalu kembali ke rumah. Sepanjang jalan, Sean terus memperhatikan Viana. Sesekali dia menoleh dan tersenyum.
"Sean fokus lah pada jalan." Kata Viana.
"Apakah jalan lebih penting bagimu sekarang?." Tanpa menoleh.
"Bukan jalan, tapi keselamatan lebih penting sekarang. Sean kenapa kamu selalu berprasangka buruk kepadaku?." Dengus Viana
"Apa kau sedang kesal?." Mencengkram kemudi dengan erat.
"Tidak, bukan begitu maksduku...."
"Sudah lah karena kau telah membuatku kesal, aku akan menghukummu nanti malam." Sean menatap tajam ke jalan.
"Apa?" Kaget. Ini tidak adil Sean. Astaga kenapa ranjang selalu menjadi ancamanmu. Kenapa tidak yang lain saja. Menggerutu dalam hati.
Sean masih diam saja.
"Maaf Sean"
Viana pasrah sedangkan Sean tersenyum puas.
Sesampainya dirumah mereka di kejutkan dengan keberadaan sesorang yang sangat membuat Sean kesal. Dia adalah si bawel, cerewet, manja dan suka kepo.
"Kakaaaaaaaaak"
__ADS_1