
Pagi itu, Viana sedang uring-uringan di kamarnya. Sejak bangun dari tidur, ia tidak mengerjakan apapun. Hanya berbaring di atas kasur.
"Mau sampai kapan kau akan seperti itu? Kau tidak ingin mengantar aku sampai depan pintu bersama anak-anak." Sean mendekati Viana lalu mengusap kepala Viana dengan lembut. "Kenapa kau masih memikirkan kata-katanya? Apa dia sangat spesial sehingga kau terus memikirkan dirinya?"
"Tidak, hanya saja,,,,dia benar." Viana memegang tangan Sean dan menatapnya dengan lembut. "Bolehkah aku bekerja lagi?" tanyanya penuh harapan.
"Tidak! Aku tidak mau mengambil risiko tentang kurangnya kasih sayang untukku dan anak-anak. Lagipula, banyak rekan bisnis ku selalu saja memuji mu secara terang-terangan. Aku tidak ingin Istri ku didekati siapapun!"
Mendengar hal itu, Viana kembali lesu. "Ya sudah, pergilah bekerja. Tinggalkan aku dalam kesendirian selama kalian pergi."
"Ayolah, Sayang, jangan begitu." Sean menarik tangan Viana hingga membuat istrinya itu bangun dan menatapnya malas.
"Kenapa kau tidak membuka usaha saja agar tidak bosan. Kau tidak perlu datang setiap hari."
Saran Sean membuat Viana sangat antusias. "Benarkah? Bolehkah? Baiklah, bagaimana kalau kau bangunkan aku gym dan juga lapangan olahraga untuk Sevina berlatih."
"Wah, sekali menyelam, minum air. Kau ingin membuatku marah, ya? Dengan kau membangun usaha itu, maka semua pria di daerah ini akan datang kesana."
__ADS_1
"Dengarkan aku. Gym ini khusus perempuan saja, bagaimana?" tanya Viana dengan tatapan penuh harap.
"Ya sudah, aku akan menyiapkan semuanya. Dalam satu bulan, aku akan meresmikan tempat itu untukmu. Lokasinya akan aku bangun di dekat sini saja."
"Benarkah? Aku mencintaimu, bagaimana caranya aku berterima kasih." Viana menghambur memeluk Sean dengan erat. Membuat Sean kesusahan bernafas.
"Berhentilah memelukku."
"Baiklah." Viana melepas pelukannya hingga Sean bisa bernafas dengan lega.
"Ya sudah, apa kau tidak ingin mengantar ku ke depan pintu?" tanya Sean.
"Mama belum mandi?" tanya Sevina.
"Mama sedang malas," sahut Sean.
"Mama mandi, ya. Biar tubuhnya sehat, segar, dan wangi," ucap Reyza.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Mama akan mandi. Kalian berangkat lah, sepulang sekolah nanti, Mama akan menjemput kalian dan kita akan pergi ke mall."
Mendengar ucapan Viana sontak membuat kedua anaknya bersorak-sorai dan melompat kegirangan.
"Ya sudah, kami pergi dulu, ya." Sean mencium kening Viana lalu pergi bekerja setelah melihat kedua anaknya mencium tangan ibunya.
Viana menatap kepergian mereka dengan senyuman. Ia pun kembali ke dalam rumah dan segera membersihkan diri. Setelah itu, ia bermain dengan ponselnya.
Karena masih kesal dengan Stevi, ia pun membuka sosial media Stevi. Terlihat isinya hanya postingan berupa foto saja. Namun mata Viana menangkap sesuatu yang aneh.
Di semua foto yang diambil, Stevi tidak menggunakan cincin di jari manisnya. Namun, ketika sedang makan malam, terlihat jelas bekas tanda cincin di jarinya.
"Kalau aku benar, Stevi sudah menikah, tetapi dia menyembunyikan pernikahannya dari publik dan malah menggoda suamiku," gumam Viana.
Ia masih berselancar di sosial media Stevi. Masih tidak ada tanda-tanda dekat dengan pria. Namun, ada satu orang yang selalu mengomentari postingannya dengan emoticon senyum saja. Saat Viana melihat profilnya, ternyata seorang pria tua.
"Siapa dia? Apa mertuanya?" Viana menelusuri profil pria tua itu, namun tidak menemukan apapun. Hanya akun dengan foto si pria tua tadi. Tidak ada anak, istri atau keluarga.
__ADS_1
Setelah lelah dan tidak mendapatkan apapun, Viana memilih berlatih saja dengan samsak tinjunya. Meski sudah berumur, setidaknya kekuatannya tidak boleh melemah.