
Perlahan Anggun membuka pintunya. "Ada apa Pak?" tanya Anggun.
"Ini saya ingin mengembalikan jam tanganmu. Tadi terjatuh di pesta." ucap Hans sambil menyerahkan jam tangannya.
"Dimana Selly?" tanya Anggun.
"Dia sudah pulang di jemput supir saya." jawab Hans.
"Kalau begitu terima kasih ya Pak." ucap Anggun sambil menutup pintu.
Namun tanpa diduga, Hans malah menahan pintu itu. "Tunggu!!" seru Hans.
"Ada apa pak?" ini sudah malam." ucap Anggun.
"Saya ingin ke kamar mandi. Saya tidak tahan." ucap Hans.
Anggun merasa bimbang. Jika dia abaikan artinya dia tidak menghargai Hans yang sudah susah payah datang mengantarkan jam tangannya.
"Ya sudah Pak silakan." ucap Anggun mempersilakan Hans masuk.
Hans segera masuk dan menuju kamar mandi. Setelah selesai dia menemui Anggun dan mengucapkan terima kasih.
Hans berjalan didepan Anggun menuju pintu. Namun sesampainya dipintu, bukannya keluar, Hans malah mengunci pintu dan mengantongi kuncinya lalu berbalik.
"Pak Hans apa yang anda lakukan?" Anggun terlihat tegang dan sedikit takut.
"Saya mencintaimu Anggun. Menikahlah dengan saya dan saya akan membahagiakanmu." ucap Hans sambil berjalan mendekat.
Anggun melangkah mundur. "Bapak jangan macam-macam atau saya akan teriak." ucapnya.
"Berteriaklah karena dirumah ini hanya ada kau dan anakmu. Pengawal Sean hanya ada beberapa dirumah dan sebagian bersar di pesta itu menjaga keluarga Armadja. Kau mau menelepon?" Hans mencampakkan telepon rumah Anggun ke lantai.
"Tidaaak. Pergiii!!!" Anggun berlari menapaki anak tangga menuju kamarnya namun Hans segera mengejarnya. Saat sudah masuk ke kamarnya dan hendak mengunci pintu, tiba-tiba tangan Hans sudah menahan pintu itu. Tenaga Hans yang cukup kuat membuatnya mampu membuka pintu. Kini mereka berdua sudah berada di dalam kamar.
Hans langsung mengunci pintu. Dia mulai berjalan mendekati Anggun. "Saya mohon Pak Hans jangan lakukan ini." ucap Anggun sambil menangis.
"Kalau saja kau tidak jual mahal dan keras kepala, aku tidak akan seperti ini. Tapi aku lebih menyukai wajahmu yang ketakutan begini. Kau lebih menggairahkan." Hans tersenyum menyeringai.
"Tidak, tolooooong!!!" Anggun berteriak. Namun percuma, kamar itu kedap suara dan tiada seorang pun diluar.
Hans menarik tangan Anggun dan menjatuhkannya ke atas ranjang. Tanpa menunggu lama, Hans langsung menindih tubuh Anggun dan mencoba menciumnya secara paksa.
__ADS_1
"Tidaaak. Lepaskaaaaan!!!" Teriak Anggun yang berusaha mendorong tubuh Hans agar menjauh.
Hans semakin jadi, tangannya semakin liar. Kini dia merobek lengan baju Anggun dan berusaha mencium leher Anggun. Anggun terus berteriak.
Hingga tiba-tiba pintu di dobrak oleh seseorang dan menarik tubuh Hans lalu memukulinya.
Anggun terkejut melihat orang yang sedang memukuli Hans. Dia adalah seorang pria. "Berengseeeek!!!" ucap pria itu sambil terus memukuli Hans tanpa ampun.
Setelah Hans K.O pria itu berdiri dan menatap Anggun dengan air mata memenuhi pelupuk matanya. Anggun masih terdiam melihat sosok tersebut. Dengan suara gemetar dia pun berkata. "Apa kau arwah suamiku?"
"Aku bukan arwah. Aku adalah suamimu." ucapnya sambil menangis. Ya, ternyata dia adalah Kevin.
"Tidak. Kevin sudah meninggal." ucap Anggun.
"Aku selamat dalam kecelakaan itu karena pada saat itu kami menyewa supir untuk mengantarkan kami mencari makanan yang kau inginkan. Dan ledakan mobil itu membuat semua korban tidak bisa dikenali dan kalian semua menganggap bahwa itu aku." ucap Kevin sambil berderai air mata.
Anggun berdiri dan mendekatinya. Dia berhenti di hadapan kevin dan menyentuh wajahnya. Meskipun sudah hampir sepuluh tahun mereka tidak bertemu, namun wajah Kevin masih bisa dia kenali. Dia melihat sebuah tanda lahir di belakang telinga Kevin. Kini dia yakin bahwa pria itu adalah Kevin suaminya.
"Mas Kevin." Anggun memeluknya dan menangis begitu juga dengan Kevin. Dia menangis karena setelah mengalami penderitaan, dia bisa bertemu lagi dengan Anggun.
Setelah bertangis-tangisan, Anggun menelepon polisi dan menangkap Hans atas tuduhan percobaan pemerkosaan terhadap Anggun.
"Dimana anak kita? Dimana David?" tanya Kevin.
"Dari mana kau tau bahwa anak kita bernama David, Mas?" tanya Anggun.
"Seseorang memberitahuku." jawab Kevin.
"Siapa?"
"Kau akan tau nanti." ucap Kevin.
"Ayo kita ke kamarnya." ajak Anggun. Mereka pun segera pergi ke kamar David.
Pintu terbuka perlahan. David terlihat sedang tertidur pulas. "Dia mirip sekali denganku." ucap Kevin sambil memandangi wajah putranya.
"Dia juga pintar dan penrut sepertimu Mas." ucap Anggun.
"Terima kasih karena kau sudah merawat anak kita dengan baik." ucap Kevin.
"Dia adalah hidupku. Maafkan aku Mas. Aku pernah menikah lagi dan dia hampir membunuh David." ucap Anggun dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
Kevin terdiam sejenak. "Aku mengerti. Aku tidak akan marah. Yang penting Erik sudah mendapat ganjarannya." ucap Kevin.
"Mas, siapa yang memberitahumu? Maksudku apa dia tau bahwa kau masih hidup selama ini?" tanya Anggun semakin penasaran.
"Kau akan tau nanti. Lagi pula orang itu akan segera datang." ucap Kevin.
"Siapa Mas?" tanya Angun semakin penasaran.
"Sudahlah. Aku ingin mencium anakku dulu. Dan giliranmu saat kita sudah menikah lagi." ucap Kevin.
Anggun tersenyum mendengarnya. Memang mereka harus menikah lagi di KUA. Mengingat Anggun pernah menikah dengan Erik dan data mereka harus diubah kembali.
Kevin duduk di samping ranjang David dan mengusap kepalanya. Dia mencium kening David dan menitihkan air mata. Terasa kerinduan yang begitu mendalam kepada David yang bahkan belum pernah dia lihat sejak lahir. Setelah sembilan tahun akhirnya dia bisa melihat putra kebanggaannya.
Sentuhan dikepala David, membuat David membuka mata. Samar-samar dia melihat seorang pria sedang mengusap kepalanya sambil menangis hingga akhirnya dia membuka matanya dengan jelas.
"David, kau terbangun. Pasti tangan Papa mengganggu tidurmu ya." ucap Kevin sambil tersenyum.
"Papa?" David mengernyitkan dahinya.
"Sayang, ini Papa Kevin. Papa kandungmu." ucap Anggun.
"Tapi Papa kan sudah meninggal Ma." ucap David.
"Papa masih hidup Nak." ucap Anggun dengan mata berkaca-kaca.
"Papa." David langsung memeluk Kevin dan menangis. Dia begitu rindu kasih sayang seorang Ayah karena dia tidak mendapatkan itu dari Erik.
Kevin juga menangis dan mempererat pelukannya. Anggun juga ikut berpelukan bersama mereka. Suasana menjadi haru. Keluarga itu sudah bersatu lagi.
"Wah wah wah, sedang asyik berpelukan rupanya ya."
Suara seseorang mengagetkan mereka. "Sean." ucap Anggun yang terkejut melihat keberadaan Sean yang sedang berdiri di ambang pintu kamar David.
"Jadi kau yang....." Anggun menggantung kalimatnya.
"Aku sudah bilang padanya agar sabar menunggu hingga besok dokter mengizinkannya pulang, namun dia begitu keras kepala. Tapi aku bersyukur dia datang disaat yang tepat. Seharusnya aku memberitahumu dari awal, Anggun maafkan aku ya." ucap Sean.
Anggun tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Jadi selama ini Sean sudah tau tentang Kevin namun dia tidak memberitahu siapapun.
"Jangan salah sangka, aku bukannya tidak mau memberitahumu dari awal. Namun, saat itu keadaannya sangat memprihatinkan dan jika kau melihat keadaannya maka kau akan semakin bersedih. Jadi aku menunggu saat dia sudah sehat dan membawanya kesini." tutur Sean.
__ADS_1