Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Berangkat


__ADS_3

3 hari kemudian..


Hari ini Sean dan Viana sudah bersiap hendak berangkat ke bandara.


Karena waktu perjalanan adalah 16 jam 15 menit, maka mereka berangkat pukul 18.00 wib


Mereka sedang menunggu Zein dan Lyana.


Namun lama menunggu, mereka belum datang juga.


"Sean, besok Mama akan kembali ke rumah. Kasian Raya sendirian sejak Papa ke Italia. Kalian baik baik ya di sana. Jangan bertengkar" Kata Alya


"Iya Ma" Jawab Sean


"Kamu jagain Viana ya" Kata Alya lagi


"Iya Ma" Jawab Sean dengan malas


Bukan dia yang akan menjagaku Ma. Tapi aku yang akan menjaganya. Guman Viana


"Oh ya ada yang ketinggalan. Aku ambil dulu ya" Viana berlari ke dalam


Tak lama kemudian Zein dan Lyana sampai.


"Kenapa lama sekali dan membuatku menunggu?" Gerutu Sean


"Iya, yang menyetir supirku karena tangan Lyana sedang sakit. Tadi juga kami kena macet. Ya sudah ayo berangkat" Ajak Zein


Setelah berpamitan pada Alya, Sean segera masuk ke mobil.


"Vi cepatlah" Kata Sean yang sedikit kesal karena Viana lama sekali


"Iyaaaa" Viana berjalan dengan cepat menuju mobil


"Kita hampir terlambat sepertinya harus bergerak cepat" Ujar Zein


"Aku saja yang menyetir" Viana menawarkan diri


"Apa?" Sean menatap kaget


"Sudah lah tidak ada waktu" Kata Zein


Dengan segera mereka berganti posisi.


Sang supir duduk di samping Viana.


Zein, Lyana dan Sean duduk di bangku belakang.


"Berapa lama lagi waktunya?" Tanya Viana


"25 menit" Kata Zein


"Kencangkan sabuk pengaman kalian" Kata Viana


"Hei apa yang kau katakan" Kata Sean


Tanpa menjawab, Viana langsung menambah kecepatan. Dia menyalip beberapa kendaraan besar yang ada di depannya.

__ADS_1


Ketiga pria dalam mobil itu terlihat tegang.


Apalagi Zein yang terus mengucapkan istigfar sepanjang jalan.


Siapa juga yang tidak takut jika di ajak balapan pada malam hari.


Berbeda dengan Lyana yang sudah biasa balapan di jalan. Dia tampak tenang dan santai


15 menit kemudian, akhirnya mereka sampai di bandara.


Mereka segera turun dan masuk ke dalam.


"Nona, anda keren sekali tadi" Kata Lyana yang begitu terkesan melihat cara Viana berkendara tadi


"Ah kamu bisa saja" Kata Viana malu malu


Keren apanya? Jantungku mau copot dasar bodoh. Gumam Sean yang kesal mendengar percakapan mereka


Tak lama kemudian pesawat mereka pun take off pukul 18.45 wib.


Tidak ada pesawat pribadi karena Sean tidak mau. Mungkin karena dia tidak terlalu suka terlalu di manjakan bahkan untuk urusan bisnis.


Viana memilih duduk dengan Lyana. Sementara Zein dengan Sean.


Lyana dan Viana terlihat mengobrol dan tertawa sedangkan Sean dan Zein yang kebanyakan diam.


Zein membuka percakapan


"Kau masih hidup?" Tanya Zein saat melihat Sean menutup matanya namun tidak tidur.


"Berengsek" Gerutu Sean yang membuka matanya karena ocehan Zein


"Aku hanya memaki" Balas Sean


"Kau beruntung karena perjalanan ini" Kata Zein


"Apa maksudmu?" Tanya Sean


"Kau tidak tau ya. Kita hanya bekerja selama 3 hari saja dan 2 hari kita gunakan berlibur di pantai" Kata Zein


"Lalu apa untungnya untukku?" Tanya Sean


"Hei ini termasuk bulan madumu bukan?" Kata Zein


Mata Sean tebelalak mendengar ucapan Zein.


Tidak di sangka Zein bisa berpikir seperti itu. Bahkan Sean yang sudah menikah pun tidak kepikiran kesitu


Seketika terlintas dalam bayangannya tubuh seksi Viana yang menggoda saat sedang berolahraga.


Belahan dada yang seksi.


Paha putih mulus dan pinggang yang ramping.


Ah kenapa aku malah membayangkan itu. Dasar Zein berengsek. Gumam Sean


"Hentikan lah pikiran liarmu. Kau harusnya menikah agar kau tau rasanya" Kata Sean. Rasa apa yang di maksud Sean. Bahkan dia belum pernah merasakan bagaimana bercinta dengan istrinya. Jika Viana bilang mereka sudah melakukannya di hotel, tapi Sean sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya. Bagaimana bisa ingat? Mereka memang belum melakukan apa apa.

__ADS_1


Zein menatap kesal pada Sean. Zein akui bahwa dia memang belum kepikiran untuk menikah karena dia masih harus menyelesaikan S2 nya.


Jika di tanya apakah dia menyukai seseorang, tentu dia tidak akan menjawabnya. Karena dia tidak suka menceritakan hal pribadinya.


16 jam lamanya akhirnya mereka sampai di Paris tepat pukul 06.30 pagi waktu Paris.


Mungkin kalau di indonesia sudah jam 11.30 siang.


Mereka langsung menuju hotel yang sebelumnya sudah di pesan.


Sean dan Viana mau tidak mau harus sekamar. Sedangkan Zein dan Lyana menempati kamar masing masing.


"Tata bajuku di lemari" Sean memberikan kopernya.


Viana mengambil kopernya dan menatanya di dalam lemari hotel itu.


"Sean" Panggil Viana


Sean menoleh.


"Disini kita juga harus bersandiwara. Jangan tunjukkan rasa tidak sukamu padaku kepada orang orang. Ada Zein dan Lyana disini" Ucap Viana


"Jadi kau mau aku bagaimana? Apakah kita harus bercinta dulu agar orang percaya?" Sean berjalan mendekat


"Tidak bukan itu Sean. Aku hanya memintamu untuk bersikap baik di depan Zein dan Lyana" Kata Viana yang melangkah mundur ketika Sean semakin dekat.


"Kenapa kau mundur? Apa kau takut jika aku menyentuh istriku?" Sean semakin mendekat hingga Viana kini mentok pada dinding kamar hotel itu.


Sean menyentuh dagu Viana yang kini memicingkan matanya.


"Kau bersikap seolah olah kau masih suci" Kata Sean menatap curiga


Viana membuka matanya


"Bu...bukan begitu Sean. Aku hanya....hanya


Karena ini juga hotel, aku jadi teringat dengan kejadian di hotel itu" Viana menunduk


Sean diam, dia tidak mengatakan apa apa lagi. Dia segera mengambil baju ganti dan segera mandi.


Viana menghembuskan nafas lega.


Jika Sean menyentuhnya, semua akan terbongkar. Sean akan tau kalau Viana masih suci dan semua cerita Viana soal malam itu adalah suatu kebohongan.


Viana segera memindahkan barang barang miliknya ke lemari dan pergi menemui Lyana di kamarnya.


Sean sedang melamun di bawah guyuran shower.


Kata kata Viana terngiang di telinganya.


"aku jadi teringat kejadian di hotel itu"


Apakah aku memang benar benar memperkosanya pada malam itu? Tapi kenapa aku tidak ingat sama sekali. Sean masih berdebat dengan pikirannya.


Setelah selesai mandi, Sean segera mengganti bajunya dan duduk di sofa kamar itu. Dia sedang memikirkan sesuatu tapi entah apa hanya dia lah yang tau


__ADS_1


Karena jadwal kunjungan ke perusahaan mereka pada siang hari, maka masih ada waktu untuk istitahat.


__ADS_2