
Beberapa hari kemudian, Sean sengaja mengajak Viana rekreasi di sebuah danau hanya berdua saja.
"Sean, kenapa rekreasi harus sejauh ini? Seharusnya anak-anak ikut," ujar Viana yang memang merasa tidak nyaman dengan tempat itu. Bukan tanpa alasan, Danau itu adalah tempat dimana ia dan ibu kandungnya berfoto bersama. Dan di tempat itu pula, ia membuang baju yang sudah susah payah dijahitkan ibunya.
"Aku ingin rekreasi berdua denganmu saja." Sean tersenyum lembut.
Viana hanya menghela napas pelan.
"Vi, ayo ke sana, aku ingin memotret mu." Menunjuk pepohonan.
"Apa? Untuk apa? Tidak ah."
"Ayolah, Vi, sebentar saja. Anggap saja ini permintaan maaf mu karena menjadikan aku dan Zein sebagai bahan taruhan di sirkuit beberapa hari yang lalu."
Di sana, Viana terlihat sedih. Mungkin ia mengingat saat-saat itu. Saat dimana ia membuat ibunya kecewa. Ia terus menunduk ke bawah dengan wajah murung.
"Ayolah, Vi, senyum sedikit," ucap Sean sambil terus menyorot Viana dengan kameranya.
"Maaf, Sean, seperti aku tidak bisa. Lain kali saja fotonya." Viana menatap sendu.
Sean kembali ke tikar piknik mereka, mengambil sebuah kotak lalu kembali ke Viana. "Ayolah, Vi, aku punya hadiah jika kau mau berfoto sekarang."
__ADS_1
"Tidak, maaf, aku tidak mau berfoto di sini." Viana menggeleng.
"Bagaimana kalau memakai ini?" Sean membuka kotak, lalu mengeluarkan sebuah dress yang selama ini dijahitnya.
Mata Viana terbelalak saat melihat motif dress tersebut. Ia menatap Sean dengan ekspresi terkejut.
Viana langsung mendatangi Sean dan memegang dress tersebut. "I,,,ini, darimana kau dapat?"
"Jangan panggil aku Sean Armadja jika aku tidak bisa mendapatkan apa yang kau inginkan." Sean tersenyum bangga.
"Sean aku serius." Viana menatap penuh harap.
Viana menatap Sean penuh haru. Ia langsung memeluk Sean dan menangis. "Terima kasih, Sean. Terima kasih atas perjuangan mu. Bahkan aku sampai mencurigaimu karena sering keluar kantor. Ternyata kau menjahit baju ini."
"Aku hanya ingin membuat istriku bahagia. Apapun yang kau inginkan pasti akan aku berikan." Sean melepaskan pelukannya, lalu mencium kening Viana.
"Sekarang gantilah bajumu. Kita akan melakukan sesi foto keluarga di sini. Ayah, mama, papa, dan anak-anak akan segera datang."
"Benarkah? Mereka akan datang? Viana menatap Sean dengan mata berkaca-kaca.
"Ya, aku sudah meminta Zein mengatur semuanya. Hari ini semua tentang mu, Sayang."
Viana mengangguk sembari menyeka sudut matanya yang basah. Ia pun segera mengganti bajunya di mobil.
__ADS_1
Tepat setelah itu, seluruh keluarganya pun berkumpul untuk melakukan foto keluarga. Hal yang sebelumnya pernah hilang di masa kecil Viana akhirnya telah kembali lagi. Dan itu semua karena Sean.
*****
"Sean, aku sangat bahagia. Aku tidak menyangka kau bisa melakukan itu semua. Aku sangat mencintai mu." Viana tersenyum sembari melihat hasil foto keluarga kemarin di dalam sebuah album foto. Saat ini mereka sedang ada di dalam kamar.
Sementara di belakangnya ada Sean yang sedang memeluknya dan melihat foto tersebut.
"Kau adalah hidup ku. Apapun yang membuat mu bahagia akan aku lakukan."
"Aku adalah istri yang paling beruntung di dunia ini. Terima kasih, Sayang." Viana mencium pipi Sean.
"Hei, jangan hanya sebelah saja. Yang satunya juga." Sean menunjuk pipinya yang satunya.
"Aku tahu yang lebih baik." Viana langsung mendaratkan ciuman di bibir Sean.
Hal itu justru memancing Sean hingga akhirnya mereka melakukan pergumulan panas siang itu juga.
...TAMAT...
Ini novel terbaru ku ya. Silakan mampir.
__ADS_1