
Viana terkejut mendengar ucapan Sean. "Apa maksudmu menjodohkan? Sevina masih TK dan kau bilang menjodohkan? Kau kira ini jamannya Siti Nurbaya." Viana menatap tidak percaya.
"Apa kau tidak tertarik dengan alasanku?" tanya Sean.
"Apa alasanmu?" tanya Viana.
"Kau masih ingat Kevin?" tanya Sean.
"Kevin? Mantan asistemu?" tanya Viana.
"Iya, yang dulu pernah menyukaimu." ucap Sean.
"Sepupu Axel kan?" tanya Viana.
"Sebenarnya dia anak angkat. Dia di adopsi sejak bayi. Dan dia mengundurkan diri saat sudah bertemu dengan orang tua kandungnya dan mereka tinggal di Singapura. Saat dia mengundurkan diri, aku tidak ada dikantor karena masalah kau pergi dari rumah." ucap Sean.
"Lalu apa hubungannya?" tanya Viana.
"Setelah dia mengundurkan diri, dia menikah dengan wanita pilihan orang tua kandungnya. Namanya adalah Anggun." ucap Sean.
Viana terkejut mendengar penuturan Sean. "Jadi maksudmu Kevin sudah meninggal?"
"Sebuah kecelakaan yang melibatkan dirinya dan orang tua kandungnya di Singapura. Namun sebelum kejadian itu, aku sempat bertemu dengannya dan mengobrol sebentar dengannya. Dia membuat lelucon. Katanya kalau anaknya laki-laki dan anakku perempuan, maka mereka harus dijodohkan karena dia ingin anaknya menikah dengan anakmu. Dia begitu mengagumimu sampai dia ingin anaknya menjadi menantumu." ucap Sean.
"Apa? Tapi kenapa Axel tidak pernah memberi tahu kita perihal meninggalnya Kevin?" tanya Viana.
"Dia memberi tahuku dan Papa. Namun kami sepakat tidak memberi tahumu karena kondisimu yang sedang hamil saat itu." jawab Sean.
"Kenapa Axel atau orang tuanya tidak membantu ekonominya saat dia sedang hamil?" tanya Viana.
"Mereka berusaha membantu, namun Anggun yang kala itu merasa kehilangan membenci semua orang. Dia tidak mau menerima uluran tangan dari siapapun. Bahkan saat anaknya lahir, baik Axel maupun orang tuanya tidak diperbolehkan menjenguknya entah karena apa. Dan setelah dia pindah ke Indonesia da menikah dengan Erik, keluarga Axel tidak pernah menemuinya lagi. Dia juga yatim piatu." ucap Sean.
__ADS_1
"Dari mana kau tau semua ini Sean?" tanya Viana yang semakin penasaran.
"Kevin pernah menunjukkan foto Anggun saat kami bertemu untuk terkahir kalinya." ucap Sean.
"Apa dia tau kalau Axel adalah adik iparmu?" tanya Viana.
"Axel menikah dengan Raya Armadja, tentu dia tau. Namun dia tidak punya alasan untuk menghindari kita." ucap Sean.
Viana menghela nafas. Kini dia paham kenapa Sean ingin menjodohkan Sevina dengan David yang tak lain adalah anak Kevin.
"Tapi mereka masih anak-anak Sean." ucap Viana.
"Kita akan menjodohkannya setelah dewasa." ucap Sean.
"Sean kita akan membantu mereka secara materi namun tidak dengan menikahkan Sevina dengan David." ucap Viana.
"Aku juga ingin menyatukan David dengan keluarga Axel. Bagaimana pun juga mereka adalah keluarga Kevin." ucap Sean.
"Dia berhutang nyawa padamu. Dia pasti akan menerimanya." ucap Sean.
"Bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana kalau setelah dewasa nanti mereka tidak bisa menerima perjodohan ini?" tanya Viana.
"David anak yang baik dan pintar. Sevina anak yang penurut. Aku yakin mereka akan setuju. Dia hanya sedikit galak. Sekarang yang penting kita hanya perlu menyekolahkan mereka di sekolah dan bila perlu mereka akan sekelas sampai lulus." ucap Sean.
"Aku akan membicarakan ini dengan Anggun." ucap Viana.
"Ya sudah, aku ada meeting dengan Zein. Nanti aku jemput ya." ucap Sean sambil mencium kening Viana dan berlalu pergi.
Viana membuka pintu dan melangkah masuk menuju tempat Anggun. Dia terlihat sedang duduk disamping ranjang David dan menggenggam tangannya sambil menangis. Perlahan Viana datang mendekat dan memegang pundak Anggun. "Dia anak yang kuat. Dia akan sehebat Kevin. Maaf aku baru tau kalau dia anak Kevin dari suamiku." ucap Viana.
Anggun terdiam sejenak. "Dia sangat mirip seperti Kevin. Dia baik, penurut dan pintar." ucap Anggun sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
Viana duduk disamping Anggun. "Kau benar. Dia sangat sempurna." ucap Viana.
"Viana, bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu? Kalau bukan karena kau, aku tidak akan bisa bertemu dengan David lagi." ucap Anggun sambil memegang kedua tangan Viana dengan mata berkaca-kaca.
"Perbaikilah hubunganmu dengan keluarga Axel." ucap Viana.
"Tidak, aku tidak bisa." Anggun kembali menitihkan air mata.
"Tapi kenapa? Axel adalah adik angkat Kevin. Orang tuanya yang merawat Kevin sejak bayi." ucap Viana.
"Aku...Aku merasa bersalah pada mereka. Aku ini pembawa sial untuk mereka. Kalau bukan karena menikah denganku, Kevin tidak akan meninggal kecelakaan bersama orang tua kandungnya. Padahal mereka baru saja bertemu. Kau tau? Mereka kecelakaan saat membelikan makanan yang cukup langka di negara itu. Orang tuanya begitu menyayangiku sehingga mereka juga ikut mencari. Dan hasilnya? Karena permintaanku itu mereka kehilangan nyawanya. Akulah pembawa sial dalam hidup mereka." Anggun menangis di pelukan Viana. Viana mencoba menenangkannya.
"Tidak ada yang namanya pembawa sial. Kau wanita yang sangat kuat. Kau bisa membesarkan David tanpa bantuan siapa pun." ucap Viana.
"Tapi aku terlalu takut bertemu mereka. Mereka pasti membenciku." ucap Anggun disela isak tangisnya.
"Tidak ada yang membencimu. Axel dan Raya sudah berada di Amerika. Namun orang tuanya menetap disini. Apa kau tau betapa rindunya mereka pada cucu mereka? Jika kau membawa David pada mereka aku yakin mereka akan sangat senang karena David adalah cucu mereka juga. Obatilah kerinduan mereka." ucap Viana sambil tersenyum lembut.
"Baiklah, setelah David sembuh aku akan menemui mereka dan meminta maaf. Terima kasih Viana kau memang sangat baik." ucap Anggun sambil tersenyum.
Viana membalas senyumannya. Tentang perjodohan itu akan aku katakan di waktu yang tepat. Aku harus membawa Anggun pada Om Alex dulu agar Anggun tidak semakin menjauh. Ide Sean memang terbilang aneh. Namun alasan agar keluarga kita semakin menyatu adalah hal yang bagus. Entah bagaimana nanti saat David menghadapi Sevina yang...ah sudahlah. Itu masih terlalu lama untuk dipikirkan. Batin Viana.
Satu jam kemudian Sean datang menjemput. Viana dan Sean berpamitan kepada Anggun. Diperjalanan, Viana menceritakan semua pada Sean. Sean tersenyum senang. "Istriku semakin hari semakin cerdas. Aku bangga padamu." Puji Sean sambil mengusap kepala Viana. Viana membalasnya dengan senyuman.
Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh Sevina dan Reyza. "Sayang bagaimana latihannya?" tanya Viana.
"Lancar Ma. Besok kita latihan lagi ya." ucap Sevina dengan antusias. Sepertinya setiap pelajaran yang diberikan Viana sangatlah disukai Sevina.
"Latihan apa?" tanya Sean.
"Mengontrol emosi dengan sistem pernafasan dan pikiran. Itu dilakukan agar dia tidak sembarangan memukul orang jika tidak dalam posisi terancam." jawab Viana.
__ADS_1
Sean hanya mengangguk. Kalau soal itu hanya Viana lah yang tau.