
NB : 4 Bab sebelum ini udah author revisi, ya. Jadi, di sini ceritanya Sevina dan Reyza masih bocil.
"Viana! Viana, dengarkan aku, Sayang." Sean berjalan cepat mengikuti langkah Viana yang sangat cepat dan terdengar menghentak ke lantai karena sedang kesal. Ia tak menggubris sedikitpun ucapan Sean yang masih terus memanggil namanya.
Langkah Viana terhenti di sebuah sofa di dalam ruang keluarga. Ia duduk dengan wajah cemberut. Memalingkan wajah kala Sean sudah duduk di sampingnya.
"Sayang, maafkan aku," ucap Sean sambil sedikit mencondongkan kepalanya. Melihat bagian belakang kepala Viana karena ia masih membuang muka.
__ADS_1
"Sudah jelas, 'kan bahwa kau memang tidak mau mengunjungi ayahku. Kau merasa risih dengan rumah kecil dan sumpek!" Masih membuang muka dan tetap berwajah masam.
"Bukan, begitu, Sayang. Kau tahu 'kan anak-anak akan bersin-bersin jika terkena debu. Aku tidak mempermasalahkan rumah ayah, tetapi daerah tempat ayah tinggal. Banyak debu dan kuman di sana." Sean berusaha memberi pengertian kepada Viana.
Ia masih ingat saat mereka baru saja pulang dari rekreasi bersama keluarga Anggun dan Kevin. Viana mengutarakan keinginannya untuk membawa anak-anaknya menginap di rumah ayahnya. Namun, Sean langsung melarang karena takut anak-anak mereka akan sakit mengingat tempat tinggal Pak Hendra, ayah Viana berada di daerah kampung yang terdapat banyak selokan yang mati ( tidak dialiri air) sehingga menyebabkan tempat itu berpotensi menyebabkan banyak penyakit.
"Aku sejak dulu tinggal di sana, tetapi aku masih sehat sampai sekarang. Aku masih hidup." Kali ini Viana menatap wajah Sean yang terlihat bingung. Sepertinya Sean merasa serba salah dalam hal ini.
"Sudahlah, jangan berbasa-basi, bilang saja kalau aku ini memang pantas hidup di tengah kemiskinan sedangkan anak-anak tidak karena kau adalah Armadja."
__ADS_1
"Tidak bisakah kau tidak membawa nama keluarga ku?" Sean merasa tidak suka mendengar ucapan Viana.
"Hanya sekali saja, izinkan aku membawa anak-anak ke sana, hanya satu hari. Biarkan aku merayakan ulang tahunku di rumah ayah bersama anak-anak." Viana menatap Sean penuh harap.
"Maafkan aku, aku tidak bisa. Mereka akan tetap berada di sini saat ulang tahunmu. Aku tidak mau mengambil risiko." Sean menatap serius.
"Sean, tidak bisakah kau singkirkan ego mu sehari saja?"
"Tidak, untuk urusan anak-anak, aku tidak bisa berkompromi. Kau bisa ke sana pagi hari saat ulang tahunmu sendirian. Aku dan anak-anak akan berada di hotel, mempersiapkan acara ulang tahunmu saat malam. Aku harap kau datang, atau kita semua akan malu termasuk anak-anak."
__ADS_1
Viana menatap Sean tidak percaya, hanya karena sebuah perbedaan, Sean tega menyakiti hatinya. Padahal ia sudah lama memimpikan bisa merayakan ulang tahunnya di rumah ayahnya yang saat ini sudah mulai sakit-sakitan. Ia dapat membayangkan bagaimana hari-hari yang dilalui ayahnya seorang diri. Meski Sean memberikan uang dengan jumlah banyak setiap bulan, namun ayahnya hanya menggunakan seperlunya saja, ayahnya tidak menggunakan jasa pembantu dengan alasan semakin banyak bekerja, maka akan semakin sehat.
Tanpa berkata apa-apa, Viana pun pergi ke kamarnya. Sean menghela nafas panjang. "Memang susah sekali."