Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Pesta


__ADS_3

3 hari kemudian, sebuah pesta mewah di gelar di rumah besar keluarga Armadja. Semua keluarga Armadja datang, namun Opa Erlangga dan Oma Laura tidak bisa hadir karena ada urusan penting.


Sean terlihat tampan dengan setelan jas yang terbiasa melekat pada karakternya yang berwibawa. Sean terlihat melirik seorang wanita cantik yang sejak tadi mencuri perhatiannya.



Wanita itu memakai gaun warna merah dan terlihat sangat seksi. Sean mendekatinya.


"Hai Nona cantik, dimana pasanganmu? Bagaimana bisa wanita secantik dirimu datang kesini tanpa pasangan" Goda Sean.


"Aku sedang menunggu suamiku Tuan, tolong jangan ganggu aku karena suamiku akan sangat marah." Jawab wanita itu.


"Kenapa suamimu harus marah? Salahnya sendiri karena membiarkan wanita secantik dirimu sendirian disini." Ucap Sean sambil tersenyum.


"Suamiku orang yang sangat mencintaiku. Dia pasti akan sangat marah jika ada yang mendekatiku." Balas wanita itu.


"Lalu apa kau mencintainya?" Sean mulai mendekat dan mencium tangan wanita itu.


"Aku sangat mencintai suamiku. Aku sangat mencintaimu Sean." Wanita itu tersenyum. Dia adalah Viana yang sejak tadi memang mencuri perhatian Sean.



"Kenapa kamu menyuruhku memakai ini Sean? Ini terlalu seksi." Kata Viana.


"Tidak ada laki-laki yang akan melirikmu. Jika mereka melakukannya aku akan menyiram mata mereka dengan racun kobra." Jawab Sean.


"Ya sudah lah, oh ya katanya kamu ingin memperkenalkanku pada Fathan. Dimana dia?" Tanya Viana.


"Kenapa kau terlihat begitu tidak sabar." Sean menatap curiga.


"Ayolah Sean, hatiku hanya untukmu seorang." Goda Viana.


"Baiklah, ayo." Ajak Sean. Mereka berjalan ke tempat seorang pria yang sedang duduk sambil tersenyum. Dia adalah Fathan, anaknya Udin dan Nasya.



"Tuan." Fathan langsung berdiri kala Sean dan Viana sudah berdiri di hadapannya.


"Fathan kenalkan ini istriku, Viana." Kata Sean.


"Halo Nona Muda, senang bertemu dengan anda." Sapa Fathan.


"Iya, sama-sama." Jawab Viana


"Jangan memandanginya terlalu lama." Kata Sean.


"Maaf Tuan." Fathan langsung menunduk.


"Sean sudah lah." Viana menarik lengan Sean dan membawanya pergi dari situ.


"Maaf ya Fathan." Kata Viana sambil melangkah pergi.


Fathan tersenyum, dia sudah hapal dengan perilaku Sean. Tentu saja dia tidak mempermasalahkannya.


"Sean, berhentilah bersikap seperti itu." Tegur Viana.


"Aku hanya tidak ingin dia melihatmu." Kata Sean.


Viana tidak tau harus berkata apa. Rasanya lebih baik Sean membungkusnya saja dengan kain tebal agar semua orang tidak bisa melihatnya.


"Hai Sean selamat ya." Ucap Gilang sambil mengulurkan tangannya ingin menjabat tangan Sean. Dia tersenyum.



"Terima kasih Gilang." Balas Sean.

__ADS_1


"Kak Gilang." Sapa Raya yang tiba-tiba datang.


"Hai Raya, kau cantik sekali." Puji Gilang.


"Terima kasih kak." Kata Raya tersenyum manis.


"Apa kau tidak punya teman sampai kau mengganggunya?" Tanya Sean.


"Jangan ikut campur kakak." Ejek Raya.


"Sudah lah Sean." Kata Viana.


"Kak, ayo kita ambil minum." Ajak Raya.


"Ayo." Balas Gilang.


"Aku pinjam adikmu dulu ya Sean." Kata Gilang yang kemudian melangkah bersama Raya mengambil minuman.


Sean geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya.


****


Dirga, Rangga, dan Udin sedang bersulang untuk keberhasilan anak Rangga.


"Sean sangat hebat Tuan. Dia mewarisi kepintaran anda." Kata Udin.


"Hahaha siapa dulu Papanya. Rangga Armadja." Kata Rangga dengan nada bangga.


"Tuan berhasil mendidik Sean dengan baik." Puji Udin lagi.


"Kau jangan terlalu memujinya Din, nanti telinganya terbang." Ucap Dirga.


"Diamlah, nanti kau bisa terkena Stroke karena terlalu banyak bicara." Kata Rangga.


"Kau jangan terlalu banyak tertawa nanti sesak nafas kami yang akan repot." Balas Dirga.


"Ya tapi kau sering terkena encok saat duduk terlalu lama." Ejek Dirga.


"Lihatlah 2 gigimu yang sudah tanggal dan kau memakai gigi palsu sekarang." Balas Rangga.


"Hahaha sudah Tuan. Berhentilah untuk saling mengejek, saya bisa sakit perut mendengar Tuan terus berdebat." Kata Udin di sela tawanya.


"Hahaha kau benar, sejak dulu kami memang tidak pernah berubah. Seandainya Ruly disini pasti dia juga akan sakit perut melihat kami melakukan perdebatan konyol ini." Sambung Dirga.


"Ya, dia sedang sibuk dengan pekerjaan barunya setelah pensiun." Kata Rangga.


"Dia punya skill pembalap, tentu dia sangat di butuhkan." Kata Dirga.


Sementara itu.


"Aku tidak tau kenapa tapi malam ini hatiku senang sekali." Ucap Ruly yang sedang berbaring di ranjang tempat dia menginap.


***


Disisi lain.


Zein terlihat sedang mencari sosok yang dia tunggu-tunggu dari tadi, yaitu Lyana. Mulutnya langsung ternganga saat melihat seorang wanita cantik sedang berdiri di sudut ruangan.



Dia adalah Lyana yang sedang berdiri di sudut ruangan. Dia terlihat cantik dengan dress yang membalut tubuhnya.



Zein melangkah mendekati Lyana.

__ADS_1


"Hai." Sapa Zein.


Lyana tidak meresponnya. Zein tidak menyerah. Dia akan melakukan apapun agar Lyana mau memaafkannya.


"Lyana maafkan aku." Kata Zein.


"Tidak mau." Jawab Lyana ketus.


"Ayolah Ly, aku akan mengganti boneka itu." Rayu Zein.


"Apa sebegitu mudahnya Tuan bilang mengganti? Tuan tau kan aku sangat menyukai boneka itu." Kata Lyana.


"Iya aku tau. Tapi aku tidak sengaja menghilangkannya. Saat itu aku melihat banyak bungkusan plastik di bangku belakang mobil, jadi aku membuangnya dan aku tidak tau jika ada bonekamu didalamnya." Kata Zein.


"Karena itu Tuan harus lebih teliti saat membuang sesuatu." Kata Lyana.


"Maaf Ly, aku sudah mencarinya ke tempat aku membuangnya namun sudah tidak ada." Kata Zein penuh sesal.


"Aku tidak mau memaafkan Tuan." Lyana meninggalkan Zein dan pergi ke balkon lantai dua itu.


Zein mengikutinya.


"Ly maafkan aku." Zein berusaha melunakkan hati Lyana.


Lyana memandang ke arah langit. Dia merasakan angin malam membelai bagian tubuhnya yang terbuka. Dia mendekap tubuhnya sendiri karena merasa kedinginan.


Zein melepas jasnya dan membungkus tubuh Lyana dengan itu. Lyana merasa tersentuh dengan perlakuan manis Zein.


"Apakah sebuah boneka lebih penting dariku?" Zein memegang kedua lengan Lyana.


Lyana menunduk.


"Katakan Ly." Kata Zein.


Lyana menggeleng.


"Apa yang berharga dari boneka itu?" Tanya Zein.


"Itu adalah pemberian Tuan." Jawab Lyana.


"Jika aku mengganti boneka itu dengan hatiku apakah kau mau menerimanya?" Tanya Zein.


Lyana mengangkat wajahnya. Dia menatap lekat mata Zein yang menunjukkan kejujuran.


"Lyana, aku mencintaimu." Kata Zein.


Lyana tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Tuan, tidak. Aku tidak pantas menjadi kekasih Tuan." Kata Lyana.


"Aku tidak peduli. Yang penting aku mencintaimu sejak aku mengenal cinta. Kau adalah cinta pertamaku." Kata Zein.


Mata Lyana berkaca-kaca. Dia tidak menyangka bahwa pria yang selama ini dia cintai ternyata juga mencintainya.


Tatapan teduh Zein tambah meluluhkan hatinya.


"Aku juga mencintaimu Tuan." Kata Lyana.


Zein sangat senang mendengarnya. Dia menatap lembut wajah Lyana lalu memeluknya erat. Malam ini dua insan yang sedang jatuh cinta akhirnya meluapkan perasaannya masing-masing. Zein dan Lyana resmi menjadi sepasang kekasih.


.


.


.

__ADS_1


.


INGAT YA SAYANG AKOH. SABTU DAN MINGGU LIBUR YA JANGAN DI TUNGGU DAN MINTA UP. ADMIN MT JUGA LIBUR, NOVEL YANG LAIN JUGA BAKALAN LAMA DI REVIEW. SAMPAI JUMPA LAGI HARI SENIN 😊


__ADS_2