Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Rekaman


__ADS_3

Didi baru saja sampai di rumah. Sedari tadi, ia terus memikirkan tentang ucapan Pak Ngatiran mengenai mengikhlaskan orang yang dicintai. Namun cepat-cepat ia menggeleng dan menepis pikiran itu. "Tidak, aku harus tetap bersama Stevi. Susah payah aku mendapatkannya, kini aku tidak akan pernah melepaskannya."


Ia pun melanjutkan langkahnya menuju dalam rumah. Di dalam, ia tengah melihat Stevi sedang bermain dengan ponselnya. Melihat kedatangan Didi, ia langsung memasang wajah masam dan pergi ke kamar.


Didi hanya diam menyaksikan sikap Stevi yang tidak memperdulikan dirinya. Ia pun beranjak ke dalam kamar.


"Kenapa kau pergi ke warung murahan seperti itu? Memangnya kau suka melihat wanita yang seperti itu. Banyak bar atau rumah bordil di kota ini." Stevi menatap sinis ke arah Didi."


"Kenapa kau peduli? Kau 'kan tidak mau melayani aku. Terserah padaku mau mencari wanita di tempat lain."


"Ya, hanya saja kau sangat menggelikan."


"Jangan lupa bahwa kau juga punya video menggelikan." Didi membalas perkataan Stevi dengan jurus ampuhnya.


Terang saja, mendengar ucapan Didi, Stevi langsung memasang wajah kesal sembari melangkahkan kakinya keluar kamar.


Didi menghela nafas pelan. "Apa kau tahu kenapa aku kesana?" Tersenyum. "Setiap aku tidak tahan melihat mu, aku memilih ke sana untuk menurunkan hasrat ku. Jelas sekali, para wanita yang ada di sana tidak membuatku berselera. Kau pikir aku pria murahan? Meski Aku mendapatkan dirimu dengan cara licik, tetapi hatiku tidak akan mampu mengkhianati pernikahan kita."


*****

__ADS_1


"Bagaimana, Sayang? Apa kau punya ide?" tanya Sean.


"Jalan satu-satunya adalah mendapatkan bukti itu agar dia bisa segera membebaskan Stevi. Tetapi, bagaimana caranya?" Viana tampak berpikir.


"Bagian bodoh mana yang tidak kalian pahami?" sela Pak Ngatiran. Membuat Sean dan Viana menatapnya dengan kesal.


"Kalian ini berpendidikan tinggi, tetapi masalah seperti ini saja tidak bisa menemukan jalan keluarnya." Pak Ngatiran menggelengkan kepalanya.


"Memangnya, Bapak punya ide?" tanya Sean.


"Bukan ide lagi, saya bahkan sudah mempunyai senjata untuk membuatnya menyerahkan bukti video itu."


"Bukti? Apa Bapak merekam percakapan kalian saat di warung remang-remang tadi?" Viana langsung teringat.


"Berikan rekaman itu, Pak," pinta Viana.


"Shaka dan suamimu ini memang bodoh. Sudah tahu sedang melakukan penjebakan, tetapi malah tidak merekamnya."


"Benar juga." Viana menoleh ke Sean. "Sayang, kenapa kalian tidak berpikir untuk merekamnya? Dan kenapa menggunakan Earpiece tanpa perekam?" tanyanya.

__ADS_1


"Kami fokus pada pembicaraan mereka sampai tidak fokus pada buktinya. Terlebih lagi, Pak Ngatiran berkali-kali menghina Shaka."


"Ya sudah, berikan, Pak," pinta Viana lagi.


"Enak saja. Jika saya berikan, maka saya akan kehilangan kesempatan menjadi orang kaya baru. Tadi kami sudah membuat kesepakatan mengenai lahan pertambangan yang akan dia bangun."


"Aduh, Pak. 'Kan Bapak sudah kami bayar." Viana menatap Paka Ngatiran dengan sedikit kesal. Ternyata, walau sudah tua, Pak Ngatiran masih mata duitan.


"Tidak, bayarlah, lalu saya akan memberikannya." Pak Ngatiran masih kekeh pada pendiriannya.


Hingga suara lembut seseorang dan sentuhan tangan di bahunya membuatnya sedikit bergetar.


"Pak, berikanlah kepada sahabat saya. Apa Bapak tega melihat ada wanita yang tersakiti di luar sana. Bagaimana kalau saya yang berada di posisi seperti itu? Apa Bapak tega?" tanya Alena sembari mendudukkan diri di depan Pak Ngatiran bersama Shaka yang menyusul di belakangnya.


"Kalau kau yang berada di posisi itu, artinya suamimu ini bodohnya sudah akut," sindir Pak Ngatiran. Membuat Shaka yang ingin duduk, seketika kembali berdiri.


"Sayang, sudahlah." Alena memegang tangan Shaka agar ia tidak emosi. Shaka pun mengalah dan duduk di sampingnya.


"Jadi bagaimana, Pak?" Alena kembali menatap Pak Ngatiran.

__ADS_1


"Ya sudah, karena kau yang meminta, saya mau memberikannya." Pak Ngatiran mengeluarkan ponselnya, lalu mengirim rekaman suara itu kepada Alena.


"Terima kasih, Pak." Alena Tersenyum pada Pak Ngatiran. Membuat pria tua keladi itu juga ikut tersenyum. Sedangkan Shaka hanya bisa menghela nafas panjang dengan raut wajah kesal.


__ADS_2