
Viana baru saja pulang dari rumah ayahnya sekalian menjemput anak-anaknya pulang sekolah. Rasanya agak melelahkan karena membantu ayahnya mendekorasi ruang tamu dengan tangan sendiri.
"Ma, kita jadi 'kan latihan?" tanya Sevina saat mereka sudah berada di dalam rumah.
"Maaf, Sayang, hari ini ditunda saja, ya. Mama lelah sekali."
"Tapi Mama 'kan sudah janji." Sevina tertunduk lesu.
"Sayang, maafkan Mama. Bersabarlah." Viana mencoba memberi pengertian kepada Sevina.
Setelah mendapat anggukan dari Sevina, ia pun langsung pergi ke kamarnya untuk istirahat. Lama ia tertidur sampai suara ambruk di atas ranjang dan getaran yang cukup kuat membangunkannya.
Viana menatap ada seseorang yang tak lain adalah Sean sedang terbaring sambil menutupi matanya dengan pergelangan tangannya.
"Sean, kau kenapa?" tanya Viana dengan heran.
"Aku sangat lelah, izinkan aku beristirahat dan jangan ganggu aku." Berbicara tanpa menoleh ke arah Viana.
"Lelah?" Viana memperhatikan sebagian wajah Sean yang terlihat kusam seperti habis terkena paparan sinar matahari secara langsung. "Kau kan hanya meeting di dalam ruangan, tapi kenapa wajahmu kusam begini?"
__ADS_1
"Aku bilang aku ingin istirahat. Aku tadi habis pergi ke proyek dan sedikit membantu pekerja di sana."
"Ya sudah, istirahatlah." Viana bangkit dari posisinya lalu pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.
*****
Malam harinya, setelah makan malam, Viana mengajak Sean berbicara di kamar.
"Sean, besok aku akan ke rumah ayah," ucap Viana.
"Besok, ulang tahunmu 'kan lusa."
"Baiklah, tapi maaf, aku tidak bisa mengantarmu. Kau tahu 'kan mobil pun tidak dapat melintasi jalan itu. Aku tidak ingin berinteraksi dengan debu jalan secara langsung."
Viana mengepal erat tangannya. 'Jika saja kau bukan suamiku, pasti aku sudah menghajar mu.' batinnya.
"Aku mengerti. Terima kasih." Viana pun segera melangkah ke ruang ganti untuk menyusun baju-baju yang akan ia bawa besok pagi.
Sedangkan Sean hanya sibuk dengan ponselnya tanpa memperdulikan Viana yang baru keluar dari ruang ganti dengan mata yang sedikit basah.
__ADS_1
"Maaf, aku hanya ingin yang terbaik untuk keluarga ku." Sean menatap Viana dengan tatapan datarnya.
"Maaf karena aku berasal dari keluarga miskin."
"Jangan memulai pertengkaran. Aku tidak pernah mengungkit asal usul mu."
"Kau tidak mengungkit, tetapi secara tidak langsung kau sudah mengingatkan ku tentang siapa diriku. Aku hanya wanita miskin yang ayahnya tidak kau hargai sedikitpun." Viana mulai terlihat emosi.
"Aku bilang jangan memancingku." Sean melempar ponsel ke atas ranjang. Ia menatap Viana dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kenapa? Memang benar, 'kan aku hanya wanita miskin yang menjadi benalu di hidupmu."
"Sejak kapan kau jadi perasa seperti ini? Apa ada anakku di sana?" Menunjuk perut Viana. "Kau sedang sensitif karena hamil, ya?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku tidak sedang hamil."
"Sayang sekali, aku kira Reyza akan punya adik." Sean tersenyum penuh arti. Membuat Viana tidak jadi meledakkan emosinya. Ia pun melangkahkan kakinya menuju keluar. Meninggalkan Sean yang sedang geleng-geleng kepala.
Bisa-bisanya Sean menginginkan anak disaat kami bertengkar seperti ini. Apa maksudnya? Dia sangat tahu cara agar emosiku tidak meledak. Menyebalkan!' teriak Viana dalam hati.
__ADS_1