
Sean cepat-cepat masuk ke rumah sambil menggendong Reyza.
"Reyza, kau tidur jam berapa tadi malam? Sudah selama ini tidak bangun juga."
Reyza masih tidur nyenyak di gendongan Sean yang sedang naik ke atas dengan lift.
Sesampainya di kamar, Sean kembali menidurkan Reyza di atas ranjang. Setelah itu, ia pun ke kamarnya, mengganti baju dengan baju olahraga, lalu kembali ke ruang olahraga.
Tepat lima belas menit kemudian, Viana dan Sevina baru pulang dari Gym. Keduanya terlihat lelah dan berkeringat.
"Lari mu semakin cepat, itu bagus," puji Viana.
"Terima kasih, Ma." Sevina tersenyum senang.
"Papa? Belum selesai?" tanya Viana yang kini sedang memasuki ruang olahraga.
"Ini baru mau selesai." Sean beranjak dari treadmill yang ia gunakan setelah sebelumnya menghentikannya.
"Bagaimana latihannya?" tanya Sean yang kini melap keringatnya palsunya dengan handuk.
"Sevina memecahkan rekornya lagi. Kali ini lebih cepat sepuluh detik."
"Wah, hebat sekali." Sean mengusap kepala Sevina.
"Oh ya, mana Reyza? Kenapa tidak kelihatan?" Viana melihat ke luar pintu.
"Sepertinya dia masih tidur."
__ADS_1
"Masih tidur? Tapi ini sudah hampir siang." Viana bergegas ke kamar Reyza diikuti Sean.
"Viana, biarkan saja, ini kan hari libur." Sean mengingatkan.
"Tidak, meski hari libur, bukan berarti dia bisa tidur sampai siang. Itu tidak baik untuk kesehatannya." Viana membuka pintu kamar Reyza.
Ia pun mendatangi Reyza dan membangunkannya. "Reyza, Sayang, bangun." Viana mengusap pelan pipi Reyza.
Reyza menggeliat dan berpindah arah. Kini ia membelakangi Viana. "Mmmmhhh, masih mengantuk."
"Sayang, ini sudah hampir siang. Kau harus mandi lalu makan. Nanti kau bisa sakit, Nak." Viana kini mengusap kepada Reyza.
"Mungkin tadi malam dia bergadang." Sean menunjuk sebuah buku yang terletak di sisi ranjang Reyza.
Viana mengambil buku itu lalu meneliti isinya. Ternyata benar, Reyza membaca buku yang berjumlah hampir tiga ratus halaman.
"Mmmmhhh, tadi sudah bangun. Sudah pergi naik mobil." Reyza kembali menggeliat.
Wajah Sean menjadi tegang setelah mendengar kalimat Reyza.
"Bangun? Naik mobil? Apa maksudnya?" Viana terlihat heran.
"Mungkin dia bermimpi naik mobil."
"Masa sih?" Viana masih tidak percaya. Ia pun bertanya lagi pada Reyza yang masih setengah tidur.
"Naik mobil dengan Papa. Bertemu tante-tante dengan suara halus. Terus bicara soal cinta."
__ADS_1
Mata Sean membulat kala mendengar lanjutan kalimat Reyza.
"Sean, apa maksudnya ini? Kalian naik mobil? Bertemu dengan selingkuhan mu?" Viana berkacak pinggang sambil melotot.
"Sejak tadi kami terus di rumah. Mana mungkin aku bertemu wanita lain."
"Bisa saja kau bertemu dengannya di lain hari ketika bersama Reyza."
"Mana mungkin Vi. Aku sangat setia padamu. Dia itu hanya mengigau saja. Kau juga sering mengigau, bahkan terkadang meninju wajahku saat tidur."
"Benar juga. Tapi bukan berarti aku percaya padamu. Kau masih dalam pengawasan ku." Viana menatap serius pada Sean.
Ia pun segera pergi dari kamar Reyza.
Sean menghela napas pelan. Ternyata Reyza jauh lebih berbahaya ketika saat mengigau begitu. Bahkan igauannya hampir menjadi fitnah jika saja ia dan Viana bertengkar karena hal itu.
Sean mendekati Reyza lalu membisikkan sesuatu padanya. Dalam sepersekian detik, Reyza pun langsung bangun dan memeluk Sean dengan erat.
"Pa, usir ulatnya!" pekiknya.
"Sudah Papa usir. Sekarang Papa mau tanya, tadi kau habis mengigau apa?" tanya Sean yang masih dipeluk erat oleh Reyza.
"Memangnya apa yang aku katakan, Pa?" Reyza terlihat bingung.
"Sekarang mandi dulu, lalu makan, setelah itu kita akan berbicara empat mata antara sesama pria." Sean menatap serius.
Reyza langsung mengangguk. Ia pun menuruti perkataan Sean untuk mandi, lalu makan. Sebenarnya ia agak tertarik dengan ucapan Sean yang katanya ingin berbicara antara sesama pria.
__ADS_1