
Suasana hening, namun tiba-tiba seseorang masuk dan memeluk Kevin sambil menangis.
"Keviiiin."
Ternyata dia adalah Axel, adik angkat Kevin yang tak lain adalah suami Raya. Kevin juga menangis dipelukan Axel. Semua terharu melihatnya.
"Ini benar-benar kau kan Kevin." ucap Axel yang masih terus menangis.
"Iya, ini aku." jawab Kevin. Meskipun mereka tidak punya ikatan darah namun Axel dan orang tuanya sangat menyayangi Kevin yang mereka adopsi dari panti asuhan sejak usia satu tahun.
Kedua orang dewasa itu saling memeluk dan menangis. Bahkan Sean baru dua kali ini melihat Axel menangis. Pertama saat pemakaman Kevin dan kedua saat ini.
__ADS_1
Setelah semua tenang, mereka turun menuju ke ruang keluarga.
Baru saja mereka duduk, sepasang suami istri datang dan menghambur memeluk Kevin. "Kevin anakku." Mega menangis begitu juga dengan Alex suaminya.
"Kau masih hiup Nak." ucap Alex sambil berderai air mata.
"Aku baik-baik saja Pa, Ma. Sudah lah jangan menangis." ucap Kevin pada mereka.
Kevin pun mulai bercerita. "Sebenarnya pada saat mobil hendak memasuki jurang, aku yang duduk disamping supir langsung didorong keluar oleh supir itu karena aku yang mempunyai peluang untuk selamat. Aku terpelanting keluar dan kepalaku membentur baru hingga aku mengalami pendarahan di kepala dan koma selama 3 tahun. Setelah aku sadar, Om Niko dan tante Lia menjemputku dengan iming-iming mengantarkanku ke tempat Anggun dan anak kami.
Namun, saat aku sudah sampai di rumah mereka, bukannya mempertemukanku dengan Anggun mereka malah menyuruhku kerja paksa di pabrik kecil di belakang rumah mereka. Aku di beri makan seadanya dan di siksa jika berbuat salah bersama para pekerja lainnya." Kevin menunjukkan bekas luka di kaki dan tangannya yang sudah hampir sembuh karena Sean merawatnya di rumah sakit keluarga Armadja dan mendatangkan dokter pengobatan terbaik dari luar Negeri.
__ADS_1
"Apa tidak ada warga yang menolong kalian?" tanya Anggun dengan mata berkaca-kaca karena membayangkan nasib Kevin saat dulu.
"Pabrik itu tertutup. Bahkan kami terkesan dikurung disana. Kami tidur di sebuah kamar sempit beralaskan tikar dan kardus. Kami bahkan kurang tidur. Kami bekerja mulai pukul 3 pagi sampai jam 10 malam tanpa berhenti. Bahkan beberapa diantara kami meninggal dan mereka memberikan uang tutup mulut kepada keluarga yang ditinggalkan." jawab Kevin.
"Apa kau pernah mencoba untuk kabur?" tanya Viana.
"Sering. Namun, aku selalu saja ketahuan. Dan setiap ketahuan mereka akan mencambuk tubuhku sebanyak lima puluh kali agar aku tidak nekat lagi." jawab Kevin.
Anggun kembali menitihkan air mata. Betapa beratnya penderitaan yang dialami suaminya.
Sean menambahkan. "Dan setelah kejahatan Niko dan Lia terbongkar, aku menelusuri tempat tinggal mereka melalui orang suruhanku. Dia menemukan pabrik mencurigakan di belakang rumah mereka. Dia bahkan harus melawan polisi karena ternyata mereka bekerja sama dengan oknum polisi di daerah itu. Aku mengutus semua pengawal bahkan dari rumah Papa juga beserta seluruh polisi di kota ini. Dan mereka menyerah sebelum polisi dan pengawal menyerbu tempat itu.
__ADS_1
Di dalam pabrik itu Dia menemukan Kevin dalam keadaan sekarat karena luka ditubuhnya yang sangat parah tepat sebulan yang Lalu. Dia mengirimkan foto Kevin kepadaku untuk mengindentifikasi nya dan,,,,