
2 Hari kemudian.
Viana sedang memandangi luar jendela. Dia masih memikirkan ancaman Dio 2 hari lalu. Bahkan dia melalui 2 hari ini dengan begitu berat. Wajahnya tampak murung. Bahkan Sean begitu heran melihatnya seperti itu. Namun Viana masih belum berani bercerita.
"Vi." Sean memeluknya dari belakang.
Viana terkejut karena tidak menduga kedatangan Sean yang tiba-tiba saja memeluknya.
Viana menyandarkan kepalanya didalam pelukan Sean. Sean mencium pucuk kepala Viana. Viana berbalik dan memeluknya erat. Bulir-bulir air mata membasahi pipinya.
"Ada apa Vi?" Sean membelai rambutnya.
"Aku hanya ingin memelukmu. Aku sangat mencintaimu." Viana mengencangkan pelukannya. Air mata terus membasahi pipinya.
"Hei apa yang terjadi? Kenapa kau jadi begini?" Sean menangkap gelagat aneh pada Viana.
Viana merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Sean dengan penuh cinta.
"Apa kamu percaya bahwa aku mencintaimu Sean?" tanya Viana.
Sean menatapnya dengan penuh keheranan. Kenapa Viana malah bertingkah seperti ini? Apa yang terjadi dengannya?
"Apa kau bercanda? Tentu saja aku percaya. Aku juga sangat mencintaimu." Sean mengecup lembut bibir istrinya. Dia menyatukan kepalanya dengan Viana.
"Hei apa kau masih ingat dengan permintaanku yang belum aku katakan saat aku menang bertanding denganmu?" Sean memegang pipi Viana dengan kedua tangannya lalu menghapus air matanya.
"Aku ingat, apa sekarang kamu sudah punya permintaan?" tanya Viana.
"Aku ingin agar kau selalu mencintaiku seumur hidupmu. Aku ingin kau selalu berada disisiku seumur hidupku." ucap Sean penuh kelembutan.
__ADS_1
Viana menunduk. Apakah sekarang saat yang tepat untuk mengatakannya? Apakah Sean akan menerimanya? Viana ragu akan hal itu.
"Sean. Siapa orang yang paling kamu benci saat ini?" tanya Viana.
Sean terlihat begitu heran dengan pertanyaan Viana. "Belakangan ini Dio membuatku cukup muak. Aku sangat membencinya." ucap Sean dengan sorot mata penuh kebencian. Dia masih ingat saat Dio berusaha membuatnya mengkonsumsi obat-obatan terlarang.
Degggg.
Dugaan Viana benar, Sean tidak akan mengampuninya. Lalu apa yang harus Viana lakukan? Apa dia akan melanggar janjinya pada Ibunya?
*Flashback On*
Seorang wanita paruh baya sedang terbaring lemah diatas ranjang. Di sampingnya ada anak perempuannya yang setia menemaninya. Wanita paruh baya itu adalah Lusiana atau biasa di panggil Lusi. Dia adalah mantan kepala pelayan Rangga yang dulu pernah berhianat bersama dua temannya dan membuat dirinya harus mendekam di penjara selama 3 tahun dan dia bebas berkat Udin.
Udin sendiri memang menepati janjinya untuk merawat anak Lusi. Namun suami Lusi malah melarangnya. Bahkan uang yang di berikan Udin untuk anak keduanya yang sakit kanker malah di habiskan untuk bersenang-senang dengan wanita dan bermain judi. Namun sang Ayah berhasil menutupi kelicikannya dari anaknya. Hingga akhirnya anak keduanya yang baru berumur 4 tahun meninggal karena penyakit yang di deritanya. Dan anak pertamanya yang bernama Riko menganggap ini adalah kesalahan keluarga Armadja.
Setelah Lusi bebas, dia sempat merasakan kebahagiaan karena mengurus Riko. Namun kebahagiaan itu cuma sebentar. Mantan suaminya malah mengancam akan meneror keluarga Armadja jika Lusi tidak memberikan Riko padanya. Lusi terpaksa memberikan Riko padanya agar keluarga Armadja bisa hidup dengan tenang. Namun semua tak sesuai perkatannya. Mantan suaminya malah merencanakan hal yang lebih besar. Bahkan dia sudah mencuci otak Riko agar membenci keluarga Armadja sebelum benar-benar menjadikannya alat balas dendam.
"Viana." tangan lemah Lusi berusaha menggapai tangan Viana.
"Iya Bu, ada apa?" Viana mengenggam tangan Lusi dengan erat.
"Nak, maukah kamu mengabulkan keinginan terakhir Ibu?" Lusi menatap penuh harap.
"Ibu jangan bicara begitu, Ibu pasti akan sembuh." Mata Viana berkaca-kaca.
"Ibu mohon Nak." pinta Lusi.
"Katakan Bu, apa yang bisa Vi lakukan untuk Ibu." ucap Viana lembut.
__ADS_1
"Tolong lindungi Sean Armadja bagaimana pun caranya. Mantan suami dan anak Ibu berusaha menghancurkannya. Sudah cukup Ibu telah membuat Tuan Rangga dan Nona Alya menderita karena menjadi musuh dalam selimut. Jangan sampai Riko juga melakukan itu pada anak mereka. Ibu mohon Vi." pinta Lusi. Matanya berkaca-kaca. Sepertinya hanya ini cara terakhir yang bisa dia lakukan untuk melindungi keluarga Armadja.
Viana menatap serius ke arah Lusi. Dia memperhatikan wajah yang tak muda lagi. Senyum yang tak sehangat dulu. Kulit yang tak sehalus dulu. Yang selalu membelai rambutnya saat dia akan tidur.
"Vi berjanji Bu. Vi akan berusaha melindunginya dari kak Riko." ucap Viana.
"Terima kasih Nak. Carilah keberadaannya dan sadarkanlah dia. Jangan sampai keluarga Armadja tau bahwa ini adalah ulahnya. Karena mereka tidak akan mengampuninya. Jika mereka tau maka akan terjadi pertumpahan darah. Ibu tidak mau kejadian puluhan tahun yang lalu terulang kembali. Ibu tidak mau ada pertumpahan darah." Bulir-bulir mata membasahi pelipis mata Lusi.
"Ibu jangan khawatir, Vi akan berusaha menemukan kak Riko. Vi akan menyadarkannya. Dia juga korban. Dia sudah terpengaruh oleh Ayahnya." ucap Viana berusaha menghibur Lusi.
"Terima kasih Nak. Kamu memang anak yang baik. Walaupun kamu bukan anak kandung Ibu tapi Ibu sangat menyayangimu"
Dan seminggu kemudian Lusi meninggal dengan sebuah janji yang di pegang Viana. Dan janji kepada orang yang sudah meninggal itu sunggu berat. Bagaimana pun caranya Viana harus menepatinya.
*Flaahback Off*
"Vi" Sean menggoncang tubuh Viana dan menyadarkannya dari lamunannya.
Viana terkesiap dan dia tersadar dari lamunan panjangnya.
"Apa yang kau pikirkan." ucap Sean semakin curiga dengan gelagat Viana.
"Aku....tidak. Sean sudah malam ayo tidur." ajak Viana.
Sean mengangguk dan mereka pun merebahkan diri ke ranjang. Tak hanya itu, tanpa aba-aba dia langsung menerkam Viana. Rasanya Sean sangat menginginkan Viana segera hamil. Tentu dia juga mengambil keuntungan dari hal itu.
Viana juga lupa kalau dia belum melakukam suntik KB bulan ini karena terlalu fokus memikirkan Dio yang sebenarnya adalah kakak tirinya. Entahlah, dia juga seperti kehilangan kecerdasan dan keberanian karena hal ini. Yang hanya dia pikirkan adalah keselamatan Sean dan janjinya pada Ibu tirinya. Semua ini membuatnya bingung dan kalut. Semua kejadian ini membuatnya lupa akan hal-hal yang penting.
Setelah puas bertempur, Sean dan Viana langsung membersihkan diri dan kembali tidur. Tak butuh waktu lama, Sean akhirnya tertidur dengan nyenyak sedangkan Viana masih belum bisa tidur.
__ADS_1
Dia tidak bisa tidur dengan perasaan was-was karena memikirian apa yang akan dia hadapi besok. Bahkan dia tidak bisa memejamkan matanya karena perasaannya yang gelisah. Dia kembali bangun dan duduk di balkon kamarnya. Menikmati hembusan angin malam yang dingin. Berharap ada solusi untuknya dalam menghadapi masalah ini. Masalah yang membuatnya harus mencegah pertumpahan darah antara dua orang yang sama-sama kuat.