
Mata Kenzie menatap tajam ke arah adik tirinya itu.
"Hentikan semua ini Ken. Buanglah rasa bencimu. Viana tidak bersalah. Dia ingin mengajakmu ke jalan yang benar. Yang Kau lakukan ini salah."
Kenzie berjalan mendekat dan menarik kerah baju Erik."Tau apa Kau ha? Kau hanya buta karena cinta." Matanya melotot tajam.
"Bagaimana pun juga Hanya Kau saudaraku satu-satunya. Kita satu Ayah. Aku tidak akan membiarkanmu menempuh jalan yang salah." Erik berusaha menjelaskan kepada Kenzie.
Kenzie melepas kerah baju Erik. "Jika kau bukan Adikku pasti aku sudah membunuhmu."
"Kau masih punya hati nurani Kenzie. Lepaskan lah mereka. Mereka tidak bersalah." pinta Erik.
"Hahaha kenapa Kau bodoh Erik. Dengan adanya Dia disini bukannya ini makin bagus? Sean sudah membencinya. Inilah kesempatanmu untuk memilikinya." Kenzie mencoba mempengaruhi Erik.
Erik tampak diam. Yang dikatakan Kenzie benar. Dia sangat mencintai Viana. Jika Sean menceraikannya maka ini adalah kesempatan bagus untuknya.
"Bagamana Erik?" Kenzie menyeringai. Rasanya Erik sudah mulai terpengaruh dengan omongannya.
"Tidak Erik jangan dengarkan Dia!!!" Viana berteriak.
"Diam!!!! bentak Kenzie.
"Baiklah Kau benar. Aku mencintainya. Aku akan membawanya. Tapi Ayahnya juga ikut denganku. Aku tidak mau Viana bersedih." ucap Erik.
Mata Viana terbelalak. Dia tidak menyangka bahwa Erik akan tega melakukan Ini.
"Kau dan mereka akan aku ungsikan di villa yang ada di daerah terpencil. Pergilah kesana dan anak buahku akan menjaga ketat kalian. Dio juga akan berada disana untuk memastikan bahwa Kau tidak berkhianat. Karena jika Dia mengetahui bahwa kau berkhianat, maka pistol yang bawa akan menembus jantung wanita ini." ancam Kenzie.
"Percayalah padaku. Ketika surat cerai dari Sean datang, aku akan segera menikahinya." tutur Erik.
Viana menggelengkan kepalanya. Dia sangat kecewa dengan sikap Erik. Baru saja Erik hampir menolongnya. Tapi sekarang dia malah berbalik menahannya.
"Masuk kalian semua!!!" panggil Kenzie.
Tak lama kemudian semua anak buahnya masuk. Mereka berjumlah 15 orang.
"10 orang mengawal mereka ke desa xx dan sisanya ikut bersamaku." perintah Kenzie.
"Baik Tuan." jawab mereka serempak.
"Dan kau. Jangan coba-coba kabur apalagi melawan karena Dio akan tinggal bersama kalian dan akan memantau pergerakan kalian. Jika kau tidak menurut, maka kau akan melihat Ayahmu meregang nyawa dengan peluru yang menembus jantungnya." ancam Kenzie. Viana hanya diam dan menatap tajam ke arahnya.
Mereka dibawa oleh para anak buah Kenzie ke dalam mobil yang akan mengangkut mereka.
Kenzie kembali ke rumah yang selama ini ditempati Erik. Masalah Viana sudah beres. Sekarang saatnya memulai misi yang akan dijalankan oleh Gilang. Yaitu menghasut Sean agar segera menceraikan Viana dan melakukan hal-hal yang merusak dirinya sendiri.
*****
Seminggu kemudian.
Di sebuah Bar. Gilang sudah melancarkan aksinya. Sepertinya kepergian Viana membawa dampak besar pada Sean. Saat ini dia sedang minum didalam Bar itu dan tentu saja ada Gilang juga.
"Apa kau serius dengan keputusanmu?" tanya Gilang yang lalu meneguk minumannya.
__ADS_1
"Aku serius. Tidak ada yang bisa aku pertahankan dengannya." ucap Sean yang menuangkan minumana lagi ke gelasnya.
"Kenapa Dia bisa melakukan hal ini?"
"Entahlah. Aku juga tidak menyangka kalau Dio adalah Kakak tirinya. Mereka bekerja sama untuk menghancurkanku." Sean tertawa sinis.
"Aku juga tidak menyangka bahwa Dio bisa melakukan semua ini. Padahal aku mengira dia teman yang baik. Bahkan dia menemaniku menemui Ken di Amerika." Gilang tertunduk sedih.
"Sudahlah. Aku tidak mau membahasnya. Aku akan segera menceraikannya. Dan jika aku bertemu dengan dia dijalan, Aku akan langsung memberinya pelajaran. Ah andai saja membunuh tidak dilarang. Pasti aku akan langsung membunuhnya." Sean menggelengkan kepalanya.
"Oh ya berikan lagi aku pil yang kemarin kau berikan padaku." ucap Sean.
"Apa kau suka?" tanya Gilang.
"Ya, aku menyukainya. Itu membuatku merasa tenang dan bahagia." ucap Sean.
Gilang tersenyum. Tampaknya Sean kecanduan dengan pil yang dia berikan kemarin saat berkunjung ke rumahnya.
"Saat ini aku tidak membawanya. Tapi aku akan menemuimu besok. Aku akan memesannya dulu. Kita bertemu di tempat yang aku tentukan." ujar Gilang.
"Baiklah, aku pergi dulu ya." Sean melangkah meninggalkan Gilang.
Setelah kepergian Sean, wajah Gilang terus tersenyum. Tampaknya rencananya berjalan mulus. Sean sangat mudah dipengaruhi.
Gilang menelpon Dio.
"Halo." jawab Dio.
"Hahaha, ternyata Dia lebih bodoh dari yang aku kira. Baiklah, aku akan mengirimkannya melalui anak buahku saja." tutur Dio.
"Kau saja yang datang. Apa kau tidak ingin melihat Dia hancur? Dia bahkan akan menceraikan istrinya."
"Tapi aku harus menjaga mereka." jawab Dio.
"Ada anak buah Kenzie dan juga Erik. Apa yang kau takutkan."
Dio tampak berpikir. "Baiklah. Aku akan menemuimu besok. Dan kirimkan rekaman percakapan kalian? Aku akan menunjukkannya pada wanita itu." Dio mematikan panggilannya. Dia menemui Viana.
"Dengarkan ini." Dio memutar sebuah rekaman suara yang dikirimkan Gilang. Viana membelalakkan matanya saat mendengar kalimat Sean yang hendak menceraikannya dan obat-obatan terlarang yang telah dia konsumsi dan membuatnya kecanduan.
"Lihat? Suamimu akan menceraikanmu. Apalagi yang kau harapkan ha?" Dio tersenyum sinis.
Viana menunduk dan bersedih. Tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini. Hanya menunggu Sean melayangkan gugatan ke Pengadilan.
"Tenang saja Vi, kan ada aku." Erik tersenyum lembut dan itu membuat Viana ingin muntah.
Hendra memegang tangan Viana dan menghapus air mata putrinya. Rasanya dia sudah gagal memberikan kebahagiaan untuk Viana. Harusnya dulu dia mencari keberadaan Riko agar semua tidak jadi begini. Namun nasi sudah menjadi bubur. Viana dan Sean akan segera berpisah.
Dio pergi meninggalkan mereka dan menelpon Kenzie untuk memberitahukan kabar gembira ini. Tentu saja Kenzie sangat senang. Bahkan dia langsung pergi ke villa itu untuk melihat sendiri bagaimana wajah Viana. Dia menempuh perjalanan menuju kesana lumayan lama.
3 jam kemudian dia pun sampai. Sesampainya disana, dia langsung menemui Dio dan mendengar sendiri percakapan antara Sean dan Gilang.
"Hahaha bagus, rencanaku berhasil." tawa Kenzie. Kemudian dia pergi menemui Viana yang sedang berada dikamarnya. Tampaknya dia sedang menangis.
__ADS_1
"Kenapa kau menangis Adikku." ucap Kenzie sambil menatap prihatin.
Viana menajamkan tatapannya. "Kamu adalah orang paling jahat yang aku temui."
"Yayaya aku tau terima kasih dan nikmatilah penderitaanmu dan kehancuran Sean." Kenzie tersenyum dan kembali menutup pintu. Dia bernyanyi sepanjang berjalan dan menemui Dio.
"Siapa yang akan mengantar pesanannya?" tanya Kenzie.
"Aku." jawab Dio.
"Baiklah tapi tinggalkan pistolmu. Kau tidak bisa bekeliaran dengan pistol." ujar Kenzie.
"Iya Aku tau." Dio memberikan pistolnya kepada Kenzie.
****
Keesokan harinya Dio pun pergi menemui Gilang.
Sementara itu Kenzie berada di vila itu untuk mengawasi Viana dan Hendra.
Kenzie terus saja tersenyum. Dia tidak pernah menyangka hari ini akan datang juga.
Malam harinya.
Dio mengiriminya pesan bahwa dia akan pulang besok karena dia ingin istirahat dulu.
"Dasar lemah." Kenzie meletakkan kembali ponselnya.
Hendra sedang mengaji di kamarnya. Kenzie menutup telinganya karena suara Hendra menganggunya. Kenzie melangkah menuju kamar Hendra. Dia menendang pintu kamar itu hingga pintunya rusak. Hendra terkejut dengan kedatangan Kenzie yang di penuhi emosi.
"Ada apa Nak Kenzie?" Hendra tampak ketakutan.
"Apa kau tau Pak Tua? Suaramu itu sangat mengangguku!!!" bentak Kenzie.
"Maaf Nak, Bapak hanya mengaji saja." ucap Hendra.
"Berisik." Kenzie langsung memukuli Hendra. Viana datang dan berusaha menolong. Tapi para anak buah Kenzie malah menahannya. Viana tidak bisa melepaskannya karena ada pistol di kantung celana Kenzie.
"Ayaaaaaah. Tidaaaak. Lepaskaaaaan!!!!" Teriakan Viana menggema dalam ruangan itu.
Kenzie tidak peduli. Dia terus memukuli perut Hendra.
Tiba-tiba lampu padam. Semua jadi gelap. Kenzie menghentikan pukulannya.
Namun tiba-tiba dia mengaduh kesakitan. Ada yang telah meninju wajahnya. Seseorang juga mengambil pistolnya. Kenzie mengambil ponsel dan menghidupkan senternya. Namun lagi-lagi sebuah pukulan mendarat di wajahnya.
"Berengsek!!! Siapa Kau!!! Tunjukan wajahmu pengecut!!!!" Teriak Kenzie.
Tak lama kemudian lampu kembali hidup. Sekarang terlihat jelas siapa yang sejak tadi memukuli dirinya. Seseorang yang kini tengah berdiri lurus didepannya sambil memegang pistol yang mengarah tepat ke kepalanya.
Dan dia adalah.....
"SEAN!!!!!" Teriak Kenzie.
__ADS_1