
Sean dan Viana sudah bersiap-siap hendak ke kantor. Viana hendak melangkah namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Pandangannya buram.
"Ouch." Viana mengaduh kesakitan kemudian terduduk kembali ke ranjang.
"Kau kenapa?." Sean memegang bahu Viana.
"Entahlah kepalaku pusing" Kata Viana sambil memegangi kepalanya.
"Ya sudah kau jangan bekerja dulu hari ini." Ujar Sean sambil memegang tangan Viana.
"Tapi bagaimana dengan pekerjaan dikantor." Viana tampak memikirkannya.
"Sudahlah, apa menurutmu kantor lebih penting darimu?." Sean menggeser tubuh Viana dan duduk di sebelahnya.
"Ya sudah aku akan istirahat hari ini." Ucap Viana.
Sean tersenyum melihat Viana yang langsung menurut.
"Maafkan aku. Semalam aku sudah membuatmu kelelahan. Kau bahkan sampai tertidur di dalam bathup." Kata Sean dengan tatapan penuh sesal.
Ya ampun dia manis sekali. Gumam Viana gemas.
"Jangan di pikirkan, aku tidak apa-apa." Viana menatap lembut.
"Tapi tetap saja aku akan menelpon Dr. Risa untuk memeriksamu. Siapa tau sudah ada Sean kecil di dalam sini." Sean mengelus perut Viana.
"Jangan terlalu berharap nanti kamu bisa kecewa jika ternyata aku hanya sakit biasa." Kata Viana mengingatkan. Memangnya apa yang bisa di harapkan Sean. Pada kenyataannya Viana memang belum mau hamil. Dan dia mencegahnya dengan melakukan suntikan sebulan yang lalu. Kini dia harus pintar-pintar mencuri waktu agar bisa melakukan suntikan lagi.
"Iya aku tau." Sean mengusap rambut Viana.
"Ya sudah aku pergi dulu ya." Sean menarik selimut untuk Viana dan mencium keningnya.
__ADS_1
"Hati-hati ya Sean." Kata Viana.
Sean mengangguk dan tersenyum lalu pergi meninggalkan Viana yang menatapnya sampai dia hilang dalam pandangan.
Sesampainya di kantor.
"Selamat pagi Tuan." Sapa Kevin.
"Selamat pagi." Jawab Sean.
Kevin melihat ke belakang Sean seperti mencari sesuatu.
"Viana sedang tidak enak badan jadi dia istirahat hari ini. Kau tau lah, kegiatan suami istri saat malam." Sean tersenyum lalu pergi ke ruangannya. Walaupun Sean pernah bilang bahwa dia tidak ingin mencurigai Kevin, namun saat melihat Kevin rasa cemburu muncul kembali.
Sean masuk ke ruang kerjanya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia menatap serius ke layar ponselnya.
"Katakan." Jawab Sean.
Seseorang di seberang telepon terus berbicara. Sean mendengarkan dengan saksama. Wajahnya tampak serius. Sesekali dia mengepalkan tangannya.
Pandangannya menjadi tajam. Sepertinya si pemanggil tadi telah memberi informasi yang penting dan juga tidak menyenangkan hatinya. Entah apapun itu hanya dialah yang tau.
Sean melanjutkan pekerjaannya.
Tiba-tiba pintu di buka oleh seseorang.
Sean terkejut melihat kedatangan orang itu.
"Papa." Sean berdiri dari kursinya.
"Apa yang salah pada Papa sehingga kau terkejut begitu." Rangga mengernyitkan dahi.
"Tidak, bukan kah Papa sedang ke Amerika?" Tanya Sean.
"Papa sudah kembali kemarin malam." Jawab Rangga.
"Oh" Sean tersenyum. Dia merasa senang. Itu artinya Raya akan segera pergi dari rumahnya dan tidak akan mengganggunya lagi.
__ADS_1
"Kenapa kau tersenyum?." Rangga menatap aneh pada putranya.
"Tidak Pa, aku hanya senang Papa sudah kembali." Ucap Sean.
"Dasar pembohong, kau senang karena Raya akan pulang ke rumah Papa kan." Kata Rangga.
"Dia agak berisik Pa." Kata Sean jujur.
"Ya begitu lah adikmu." Timpal Rangga.
"Papa tumben kesini, ada apa?" Tanya Sean.
"Papa hanya ingin melihat sang Durektur untuk terakhir kalinya." Jawab Rangga.
"Terakhir kali?" Tanya Sean heran.
"Selamat, kau akan menempati posisi CEO." Rangga menjabat tangan Sean.
"Apa Pa?." Sean tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Kau tidak tuli kan." Kata Rangga
"Pa, terima kasih." Sean tertawa senang. Akhirnya impiannya menjadi CEO perusahaan Armadja tercapai.
"Jangan berterima kasih pada Papa. Berterima kasihlah pada istrimu. Karena dia kau sekarang banyak berubah dan yang terpenting kau lebih banyak tersenyum daripada marah. Ah kau mengingatkan Papa saat dulu jatuh cinta pada Mamamu." Rangga tersenyum dan mengingat masa-masa saat dia dan istrinya Alya sedang di mabuk cinta.
"Apakah wanita adalah kelemahan pria arogan seperti kita Pa?" Tanya Sean.
"Tergantung. Jika dia wanita yang lemah lembut pasti kita akan luluh juga. Viana kan orang lemah lembut, benarkan." Kata Rangga.
"Emmm Iya Pa." Sean menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Lemah lembut apanya Pa. Dia bahkan pernah menghajar empat preman di jalanan. Tidak hanya itu. Dulu dia juga sering memelintir tanganku. Batin Sean.
"Ya sudah persiapkan dirimu. Besok kita akan mengadakan rapat pengangkatanmu sebagai CEO perusahaan ini." Rangga menepuk bahu Sean dan pergi keluar.
Sean tersenyum senang. Dia tidak menyangka hari ini akan tiba. Jika Viana ada di sini pasti hari ini akan lebih menyenangkan. Dia jadi tidak sabar ingin segera pulang dan bertemu dengan Viana
__ADS_1