Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Ngidam


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


"Seaaaaaan." Panggil Viana yang sedang rebahan disofa ruang ruang keluarga dengan cemilan yang ada ditangannya.


"Iya sayang." Sean datang menghampiri dengan segelas jus.


"Minumlah." ujar Sean sambil menyodorkan segelas jus pada Viana.


"Aku tidak mau minum sendiri." Viana masih memegangi cemilannya.


"Lalu? Aku suapi?" Sean mengernyitkan dahinya. Memang sejak hamil Viana menjadi manja dan cengeng. Biasanya dia menantang kalau Sean memarahinya. Namun sekarang dia lebih mudah menangis. Usia kandungan yang sudah memasuki usia 7 bulan membuatnya lebih susah untuk bergerak. Karenanya Sean yang sedikit repot saat Viana menginginkan sesuatu. Apalagi sekarang Viana doyan makan, itu membuat seisi kulkas hanya berisi makanan saja.


Viana mengangguk.


"Tidak, aku tidak mau." Sean meletakkan gelas diatas meja itu. Tak lama kemudian terdengar isak tangis dari sampingnya. Sean menoleh dan dia menarik nafas lalu mengeluarkannya secara perlahan.


Sean mengambil jus itu lalu mengarahkan sedotan ke bibir Viana. Viana langsung meminumnya. Itulah lucunya dia. Kalau sudah ngambek, dia akan cepat baikan.


Sean mengahpus air mata Viana lalu memeluknya. "Maafkan aku ya sayang. Hanya saja kau lebih manja sekarang." Sean mengelus kepala Viana.


"Ini bukan keinginanku." ucap Viana.

__ADS_1


"Aku tau ini bawaan bayi. Aku berharap ada bidadari kecil didalam sini." Sean mengelus perut buncit Viana.


"Kenapa tidak laki-laki? Dia akan menjadi penerus keluarga Armadja."


"Aku sangat ingin anak perempuan yang cantik dan baik sepertimu." Sean mencium kening Viana.


"Kenapa waktu USG kamu tidak mau lihat jenis kelaminnya?"


"Aku sudah tau kalau dia perempuan. Dia membuatmu jadi manja dan cengeng. Sama seperti saat Mama hamil Raya. Papa bilang Mama sangat cengeng." Sean mengusap rambut Viana.


"Hmm bagaimana keadaan dikantor tanpa aku?" tanya Viana.


"Aku menyayangkan Kevin harus mengundurkan diri dan pergi ke Singapura beberapa bulan lalu." ucap Viana.


"Sayang, minumlah lagi." Sean kembali menyodorkan segelas jus padanya. Dia seperti sedang mengalihkan pembicaraan.


"Aku tidak menyangka Raya berpacaran dengan Axel." Viana seperti memikirkan sesuatu.


"Raya menyukai laki-laki yang dingin seperti Axel. Dingin kepada semua gadis dan hanya bersikap hangat kepadanya. Bukan seperti Gilang yang terkesan murahan. Cih menjijikkan." Sean menunjukkan ekspresi muaknya.


"Dan Axel? Apa dia menyukai gadis periang seperti Raya?" tanya Viana yang penasaran dengan hubungan Raya dan Axel.

__ADS_1


"Sebenarnya pertemuan mereka tidak begitu baik. Raya terus saja mengerjai Axel yang sangat dingin itu saat Axel berkunjung ke rumah Papa untuk pekerjaan. Mungkin karena hal itu mereka menjadi dekat."


"Apa kamu setuju dengan Axel?" tanya Viana yang semakin tertarik dengan obrolan itu. Sean sebenarnya sangat malas mengobrol tentang itu tapi daripada dia melihat Viana menangis, lebih baik dia menurutinya saja.


"Aku setuju saja asal dia pria yang baik. Terlebih Raya sangat menyukainya. Aku bisa apa? Menentang anak emas Papa?"


"Baguslah." Viana tersenyum.


"Oh ya bolehkah aku bekerja diruang kerjaku?"


"Tidak." ucap Viana sambil tersenyum dan menggeleng.


"Sayang, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Semenjak 1 bulan terakhir aku selalu bekerja dari rumah demi menjagamu."


"Oh jadi kamu terpaksa menjagaku. Jadi tidak ikhlas?" Viana pun menangis lagi.


"Sayang, daripada menangis ayo kita Sholat. Ini sudah waktunya Sholat dzuhur. Setelah itu kau bisa menemaniku bekerja didalam ruang kerjaku. Kau bisa menonton drama membosan....Maksudku drama kesukaanmu disana." ujar Sean.


"Baiklah." Viana mengangguk lalu melangkah menuju lift bersama Sean. Mereka pun melakukan Sholat berjamaah didalam ruang sholat yang dibangun Sean disebelah kamarnya.


Sejak peristiwa penembakan Viana, Sean tersadar akan dirinya yang selama ini lupa akan sang pencipta. Dia hanya memikirkan dunia saja. Bahkan saat pertama kali dia Sholat di rumah sakit, Allah sudah mengabulkan do'anya. Sedangkan Viana sendiri merasa senang karena suaminya telah menjadi Imam yang sangat dia dambakan.

__ADS_1


__ADS_2