
Lidya berusaha memberontak, namun Viana semakin memperkuat pelintirannya hingga Lidya kembali mengadu kesakitan.
"Lepaskan aku wanita murahan. Dasar orang miskin, tidak tau diri!!!" Teriak Lidya sambil meringis kesakitan.
"Tutup mulutmu!!!!" Suara seorang laki laki menggema di ruangan itu. Semua menoleh ke sumber suara. Dia adalah Sean yang tengah beridiri dengan tatapan membunuh. Dia mendatangi Viana dan Lidya.
"Lepaskan Viana, jangan kotori tanganmu" Ucap Sean sambil terus menyorot Lidya tajam.
Viana melepaskannya. Lidya memegangi tangannya.
"Dan kau? Berani sekali kau menyiram istriku? Apa kau sudah bosan hidup?" Masih menyorot tajam.
"Kamu jahat Sean, kamu sudah membuat hidupku hancur. Perusahaanku di ambang kehancuran karenamu!!!" Teriak Lidya. Kini semua pengunjung tau akar dari permasalahan ini.
"Kau yang membatalkan kerja sama kita karena aku menolakmu. Tidakkah kau merasa malu? Kau menyerang istriku karena kesalahanmu sendiri yang menghancurkan bisnismu dengan membatalkan kerja sama denganku. Itulah kebodohanmu. Dan aku juga tau bahwa kau yang mengunciku di toilet" Kata Sean.
__ADS_1
Lidya kini berurai air mata, bukan hanya karirnya yang hancur, harga dirinya juga hancur. Tanpa sadar dia sudah mempermalukan dirinya sendiri. Itu semua karena dia menuruti emosinya kala melihat kemesraan Viana dan Sean saat makan tadi.
"Flashback On"
Lidya sedang menikmati makan siangnya di cafe yang sama dengan Sean dan Viana. Dia memilih meja di sudut ruangan, namun tiba tiba dia melihat kedatangan Viana dan Sean.
Sean? Bagus mereka kesini, jika ada kesempatan aku akan mempermalukan istrinya.
Saat Viana menyuapi Sean, mata Lidya memanas. Hatinya serasa terbakar melihat kemesraan mereka.
Lidya terus menunggu hingga Sean berdiri hendak ke kamar mandi. Setelah kepergian Sean, Lidya mengikutinya sampai ke kamar mandi pria. Kebetulan kamar mandi pria sedang kosong. Setelah Sean masuk ke salah satu bilik kamar mandi, Lidya segera mengunci bilik itu dari luar juga pintu utama dan menempelkan tulisan Toilet sedang di perbaiki. Dengan begitu tidak akan ada yang masuk. Lagi pula jaraknya dengan ruangan lain cukup juah sehingga suara teriakannya tidak akan terdengar orang lain.
"Flashback Off"
Lidya tidak bisa berkata kata lagi.
__ADS_1
"Ingat aku akan membawa ini ke jalur hukum. Orang sepertimu tidak akan ku ampuni. Siapapun yang berani menyakiti istriku atau mempermalukannya akan berhadapan langsung denganku. Pergi!!!!" Teriak Sean sambil menunjuk pintu keluar. Lidya bergegas pergi keluar. Hari ini dia kembali mempermalukan dirinya lagi. Jika saja ini bukan tempat umum, Sean pasti sudah menamparnya.
"Dengar kalian semua, jika kalian ingin hidup tenang hapuslah video amatir kalian. Jika aku melihat itu tersebar aku akan mencari pelakunya bahkan ke lubang semut sekalipun dan aku tidak akan mengampuninya" Suara Sean memenuhi ruangan itu. Beberapa dari mereka yang tadi mengabadikan kejadian itu langsung mengotak atik ponselnya dan menghapus videonya. Tentu CCTV cafe itu juga akan bungkam jika mereka masih ingin beroperasi.
Sean memegang tangan Viana.
"Apa kau terluka?" Tanya Sean.
Viana menggeleng.
"Lihat apa yang dia lakukan pada bajumu. Ayo ke apartemen dan aku akan menyuruh pelayan membelikan baju untukmu" Ajak Sean.
Viana mengangguk. Sean membuka jasnya dan membungkus tubuh Viana dengan itu lalu mereka keluar bersama.
Sepanjang perjalanan Sean terus mengutuki Lidya. Viana hanya mendengarkan saja. Dia tau Sean semarah itu karena Sean sangat mencintai dirinya. Sean tidak akan membiarkan siapapun menyakiti dirinya. Viana tersenyum dalam diam sampai kalimat terkahir yang keluar dari mulut Sean mempu menghilangkan senyumnya.
__ADS_1
"Mulai besok, kau akan di kawal oleh 2 orang pengawal"