Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Ulang Tahun


__ADS_3

Hari ini, adalah ulang tahun Sevina yang ke sembilan tahun. Perayaan ulang tahunnya diadakan di sebuah gedung mewah milik Sean. Banyak sekali tamu undangan yang berdatangan termasuk teman-teman Sevina di sekolah. Mereka datang bersama orang tua mereka.


Seluruh keluarga Armadja termasuk Oma Laura dan Opa Erlangga juga menghadiri acara itu. Sevina tampil menawan dengan gaun berwarna pink yang di pesan Viana dari butik Alena. Sedangkan seluruh keluarga Armadja memakai baju yang serempak dan dari butik Alena juga.


Acara berlangsung meriah. Shaka dan Alena juga menghadiri pesta itu dengan Alea anak mereka.


Selagi acara berlangsung, para orang tua mencari tempat mengobrol sambil menyantap hidangan yang ada. Karena acara hanya akan diikuti anak-anak mereka saja. Sementara itu Sean dan Viana menemani Sevina sepanjang acara berlangsung.


"Wah, ini baru pesta. Makanannya saja enak-enak semua. Saya malah jarang makan beginian di rumah."


"Iya Jeng. Begini lah pesta anak orang terpandang. Terus lihat lah Papanya kok tampan sekali. Sudah kaya, tampan, sayang keluarga pula."


"Nyonya Viana memang beruntung."


"Siapa yang tidak beruntung mendapatkan pendamping keturunan Armadja yang kaya raya. Aduh kalau dengar dimana saja asetnya, badan langsung gemetar nih."


Sementara itu, Anggun tengah duduk dan menikmati kuenya. Dia sedang serius memperhatikan acara ulang tahun Sevina. Matanya terus berfokus pada David.


Tiba-tiba...


"Anggun." sapa seorang pria.


Anggun terkejut melihat kedatangannya. "Pak Hans. Kenapa Bapak ada disini?" tanya Anggun.


"Kenapa ya? Mungkin karena Selly diundang ke acara ini." ucap Hans.


"Oh." sahut Anggun.


"Kau kesini naik apa?" tanya Hans lagi.


"Tadi saya pergi bersama keluarga Armadja." ucap Anggun.


Hans manggut-manggut. "Oh ya kapan ulang tahun David?" tanya Hans.


"Bulan depan Pak." jawab Anggun yang mulai merasa risih.


"Jangan lupa undang Selly ya." ucap Hans.


"David tidak suka dirayakan. Setiap tahun kami hanya mengundang keluarga saja untuk tiup lilin dan makan malam." ucap Anggun.


"Oh begitu. Tapi jika saya keluarganya juga tentu saya akan di undang, bukan?"ucap Hans sambil tersenyum.

__ADS_1


"Saya kesana dulu Pak." ucap Anggun sambil melangkah pergi meninggalkan Hans. Dia tau bahwa Hans sengaja berbicara begitu agar dia tersentuh. Namun, setelah kepergian Kevin dan perceraiannya dengan Erik, Anggun merasa dia tidak memerlukan sosok suami lagi. Andai saja Mas Kevin masih hidup. Bantinnya.


Acara untuk anak-anak sudah selesai. Sekarang hanya tinggal menikmati hidangan pesta yang super mewah. Entah berapa rupiah yang dikeluarkan untuk pesta itu, yang pasti itu benar-benar mewah.


Sean dan Viana menghampiri Axel dan Raya serta putra mereka yang bernama Arly Pamudya yang berusia empat tahun. "Hai Arly apa kabar?" tanya Viana.


"Baik tante." ucap Arly sambil tersenyum ramah.


"Dia mirip sekali dengan Raya ya sayang." ucap Viana kepada Sean.


"Tidak. Dia tidak mirip. Dia ramah dan manis sedangkan Raya menyebalkan dan awwww." Sean meringis saat Raya menginjak kakinya.


"Ouch maaf kakak. Aku kira itu ular ternyata kakimu." ucap Raya yang sebenarnya memang sengaja menginjak kaki Sean.


"Bagaimana bisa ada ular disini." gerutu Sean.


"Itu BISAnya ada dimulutmu." ucap Raya.


"Makanya jangan mencari masalah dengannya. Adik kakak beda negara tapi setiap jumpa pasti bertengkar." protes Viana.


"Aku tidak bisa sehari pun tanpa mengganggu adikku yang cerewet ini." ucap Sean sambil mengusap kepala Raya.


"Aduh, kau membuat rambutku berantakan kak. Dasar kau ini selalu saja menggangguku." gerutu Raya.


"Ayo kak." seru Raya. Mereka pun pergi mengambil kue yang ditunjuk Viana tadi dan memakannya. Mereka asyik mengobrol sampai melupakan suami masing-masing.


"Padahal Raya sangat ketus kepadamu tapi dia begitu lembut dan sangat menyayangi istrimu." ucap Axel.


"Viana mampu membuat semua orang menyayanginya termasuk Oma Laura yang super galak." sahut Sean.


"Sean." Sapa seseorang yang datang menghampiri.


"Shaka, dari mana saja kau. Aku mencarimu." ucap Sean.


"Sayang, bergabunglah dengan Viana dan Raya." ujar Shaka kepada Alena.


Alena mengangguk dan pergi menghampiri Viana dan Raya. Dan jelas saja, ketiga wanita ini sangat cocok. Mereka terlihat mengobrol dengan begitu akrab.


Shaka pun duduk bersama Sean dan Axel. "Tamumu sangat ramai. Mana mungkin kau bisa melihatku." ucap Shaka.


"Hahaha ya ya ya kau benar. Terima kasih ya sudah datang ke acara anakku." ucap Sean.

__ADS_1


"Iya kita kan teman. Mana mungkin aku melewatkan acara pentingmu." ucap Shaka.


"Aku jadi merasa tidak enak beberapa kali tidak hadir diacara pentingmu." ucap Sean.


"Sudahlah. Kau ini baperan sekali." ucap Shaka sambil menepuk pundak Sean.


"Axel, aku sudah mendengar kabar meninggalnya Kevin karena om dan tantenya. Aku turut berbela sungkawa." ucap Shaka.


"Terima kasih. Kita doakan saja semoga Kevin dan orang tuanya tenang disana dan si pembunuh mendapat hukuman setimpal." ucap Axel.


"Mereka sudah di vonis penjara seumur hidup." celetuk Sean.


"Aku berharap itu hukuman mati." ucap Axel sambil mengepal tangannya.


"Mereka harus menderita di dunia dulu sebelum mati." ucap Shaka. Sepertinya dia mengingat saat saudara dan ibu tirinya menghianatinya. Bahkan memanipulasi kematian Ayahnya dan membohongi kakeknya hingga meninggal.


"Sudahlah. Aku mengerti perasaan kalian. Setidaknya keluarga kita sudah bahagia bukan." ucap Sean mencoba menenangkan.


"Ya kau benar. Seandainya Kevin masih hidup, pasti semua terasa lengkap." ucap Axel.


"Aku juga berharap begitu." sahut Sean.


"Vi, sepertinya aku harus pulang. David sudah mengantuk." ucap Anggun yang melihat David terduduk lesu di sampingnya.


"Tunggu sebentar, aku akan memanggil supir." ucap Viana.


Tak lama kemudian, datanglah supir Viana. "Antarkan Alena dan David sampai ke rumah ya." ucap Viana.


"Baik Nyonya." ucap supir itu.


Anggun pun pamit dan segera pulang. Seampainya di rumah, Anggun segera masuk dan membawa David ke kamarnya lalu menidurkannya. Tanpa dia sadari, dari kejauhan sepasang mata tengah memperhatikannya.


Anggun sudah menidurkan David. Dia berjalan menuju kamarnya namun sebuah ketukan pintu menggentikan langkahnya. "Siapa yang bertamu malam-malam begini."


Anggun berjalan menuju pintu dan melihat dari kamera yang ada di dekat pintu. "Pak Hans? Mau apa dia? Dan kenapa dia membawa sebuah jam....Eh jam tanganku tidak ada." Anggun memeriksa pergelangan tangannya dan menyadari bahwa jam tangannya tidak ada. Ternyata Hans mau mengembalikan jam tangannya yang kemungkinan jatuh di pesta itu.


Anggun ingin sekali mengabaikannya namun, jam itu adalah pemberian terakhir Kevin untuknya yang sangatlah penting. Anggun ragu untuk membuka pintu karena jika sudah semalam ini, pelayannya sudah pulang ke rumahnya dan akan kembali jam lima pagi. Hanya tinggal dia dan David saja di rumah itu.


.


.

__ADS_1


.


Episode selanjutnya di up nanti siang atau sore ya gess biar nggak penasaran. Di Part selanjutnya ada kejutannya loh. Jangan lupa like ya


__ADS_2