
Seorang kepala pengawal datang melapor kepada Sean dengan wajah yang sedikit tegang.
"Tu-Tuan, kamu sudah menemukan baju yang Nyonya cari."
Seketika Viana dan Sean berdiri dengan tatapan serius. "Benarkah? Mana?" Viana menadahkan tangan kepada kepala pengawal.
Sang kepala pengawal tampak bingung. Ia tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya.
"Kenapa diam? Mana baju itu?" Viana menatap sedikit kesal.
"Maaf, Nyonya, sebaiknya, Nyonya dan Tuan melihat sendiri."
Sean dan Viana tampak heran, mereka pun segera pergi ke tempat yang ditujukan kepala pengawal.
Mereka semakin heran saat melihat jalur yang mereka lewati menuju halaman belakang. Ternyata, kepala pengawal membawa mereka ke gerbang belakang rumah. Di sana, semua pengawal dan pelayan berkumpul mengelilingi sesuatu.
Mereka membuka jalan untuk Sean dan Viana dan terlihatlah sebuah pemandangan yang mengejutkan. Sebuah baju yang sudah sobek dan kotor tengah berada di atas pangkuan seorang pelayan.
Pelayan wanita itu menatap Viana dengan tatapan penuh ketakutan. Pasalnya, saat ini Viana tengah menatap baju itu dengan air mata dan tatapan tajam.
__ADS_1
Sedangkan Sean menatap dengan tatapan penuh prihatin.
Tak berselang lama, Viana pun jatuh berlutut, meraih baju tersebut, lalu memeluknya dan menangis. "Ibuuu!!"
Sean yang melihatnya langsung memeluk Viana dan menenangkannya. Ia membawa Viana masuk ke dalam untuk ditenangkan. Sevina dan Reyza tampak sangat terkejut melihat Viana menangis seperti itu.
"Pa, Mama kenapa?" tanya Sevina dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Kalian ke kamar saja, ya, nanti Papa ceritakan," ujar Sean.
"Vi, boleh aku lihat?" Sean meminta baju yang masih didekap Viana.
Viana memberikannya pada Sean.
Sean meneliti kerusakan pada baju itu. Benar-benar parah sekali karena sobekan terdapat di sisi kanan kiri sangat besar, sedangkan di bagian depan terdapat cakaran yang membuat serat kain rusak.
Ia segera meraih ponselnya dan mengecek CCTV rahasia yang ditanam ditembok dan pepohonan belakang rumah melalui ponselnya.
"Baju ini terbang dari balkon, mendarat tak jauh dari gerbang, lalu saat penjaga tidak di sana, dua ekor kucing berkelahi di atas baju ini." Sean menjelaskan.
__ADS_1
"Ini semua salahku, harusnya aku tidak melupakan baju ini!" Viana masih menangis. Hal yang bisa ia lakukan adalah menyalahkan dirinya sendiri karena telah teledor.
"Vi, jangan salahkan dirimu sendiri. Meski baju ini telah rusak, tapi kenangan dalam baju ini tetap ada di hatimu."
Viana tertegun mendengar ucapan Sean.
"Kenangan? Darimana kau tahu jika baju ini menyimpan kenangan? Aku bahkan belum mengatakan apapun."
Sean menyadari bahwa dirinya Keceplosan. "Dari kau menangis sambil memanggil ibumu, tentu aku bisa menduga bahwa itu baju yang sangat berharga dan penuh kenangan."
Viana hanya mengangguk perlahan.
"Biar pelayan mencuci baju ini, lalu aku akan meminta Alena menjahitkan bagian yang rusak, siapa tahu masih bisa diselamatkan."
Viana hanya mengangguk lemah. Dirinya sangat terpukul dengan kejadian ini.
Sean membawa baju ke pelayan untuk di cuci. Ia berencana mengambil bagian baju yang masih utuh untuk disatukan dengan baju Viana yang sedang dalam proses jahit.
Sedangkan Viana memilih pergi ke kamarnya, ia masih bersedih dengan apa yang baru saja terjadi. Satu-satunya barang peninggalan ibunya yang paling berharga kini telah rusak karena kesalahannya sendiri.
Ia mengambil sebuah foto berukuran kecil yang merupakan foto ibunya. "Ibu, maafkan aku, aku telah melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, maafkan aku." Mencium foto tersebut, lalu memeluknya.
__ADS_1