
Malam pun tiba, Sean sekeluarga sedang bercanda ria di beranda rumah Hendra.
"Jadi bagaimana? Apakah Reyza masih trauma?" tanya Hendra sambil mengusap kepala Reyza dengan pelan.
"Tidak, Kek. Jika aku jatuh ke lumpur lagi aku sudah siap," ujar Reyza dengan penuh percaya diri.
"Memangnya kau mau jatuh ke parit sekarang?" tanya Viana.
"Tidak, Ma, hehe." Reyza cengengesan mendengar pertanyaan Viana.
"Pa, bolehkah kita menginap di sini lagi?" tanya Sevina.
"Bukankah kemarin kau mengatakan kalau kau tidak suka daerah ini, Sayang?" tanya Viana.
"Aku hanya mengatakannya karena disuruh papa." Sevina melirik Sean. Membuat Sean langsung melihat ke arah lain seolah tidak tahu.
"Oh, jadi kalian juga disuruh papa?" tanya Viana yang juga melirik Sean.
__ADS_1
"Kan biar surprise, Ma," ujar Sevina.
"Ya, kalian berhasil membuat Mama menangis selama beberapa hari." Viana mengusap kepala Sevina dengan gemas.
"Yang penting surprise nya lancar." Sean menambahkan.
"Ya, awas saja kalau papa ulang tahun, kita akan buat kejutan yang luar biasa." Tersenyum ke arah Sean dengan menaik-turunkan alisnya.
"Sudahlah, kalian boleh menginap selama kalian mau. Untung saja kalian libur selama tiga hari menyambut ujian," ucap Sean.
"Yeaaay, berarti kita bisa menginap sampai besok." Reyza bersorak-sorai. Sedangkan Sevina tertawa melihat tingkah Reyza.
"Baik, Kakek." Sevina dan Reyza menjawab dengan serempak. Mereka pun segera masuk ke kamar masing-masing. Meninggalkan Hendra, Sean dan Viana.
Mulailah mereka membicarakan hal yang serius.
"Bagaimana, Ayah? Apa Ayah setuju dengan tawaran Sean?" tanya Viana.
__ADS_1
"Ayah senang dengan pemikiran Sean untuk membeli tanah yang ada di gang rumah Ayah untuk memperlebar jalan agar mobil kalian bisa lewat, tetapi, bukankah itu terlalu berlebihan?" tanya Hendra dengan ragu.
"Tidak, Ayah. Coba bayangkan kalau jalan sudah diperbesar. Mobil kami bisa masuk, segala apa yang kami bawa dapat dibawa kesini dengan mudah," sahut Sean.
"Benar, Yah. Lagipula, Sean sudah berbicara pada pemerintah daerah untuk memperlebar jalan dengan menambah lahan di tanah yang akan ia beli. Beliau sudah setuju," sambung Viana.
"Dan coba Ayah bayangkan, jika jalan itu bisa dilalui mobil, pasti penduduk di sini akan sangat senang. Itu akan mempermudah keluarga mereka jika ingin datang dengan mobil. Bayangkan, berapa orang yang akan memperoleh keuntungan dengan diperlebar nya jalan itu." Sena terus meyakinkan mertuanya.
"Baiklah, memang usul mu sangat bagus. Ayah juga tahu kalian melakukan ini agar bisa membawa barang-barant untuk Ayah, 'kan?" tanya Hendra penuh selidik.
"Ayah, banyak sekali yang tidak ada di sini. Bahkan, jika Ayah mengizinkan, aku ingin merenovasi rumah ini agar Ayah lebih nyaman tinggal di sini. Lihatlah anak-anak kami, mereka sangat bahagia tinggal di sini. Tetapi kami kasihan karena mereka harus menahan hawa panas setiap tidur. Ayah akan lihat baju mereka basah di pagi hari karena keringat seperti waktu itu." Viana kembali mengingatkan.
Hendra tampak merenung. Ia juga menyadari bahwa rumahnya memang sudah harus diperbaiki. Jika hujan, seringkali ia kehabisan ember untuk menampung air yang masuk dari atap yang bocor. Dan jika sedang terjadi hujan angin, tak jarang atapnya terbang terbawa angin.
"Baiklah, Ayah setuju untuk merenovasi rumah ini. Tetapi, Ayah ingin bentuknya seperti ini. Terserah jika mau dilebarkan, yang penting bentuknya tetap sama," ujar Hendra yang langsung mendapat tatapan antusias dari Viana dan Sean.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk Ayah." Sean tersenyum.
__ADS_1
"Karena kau sangat mencintai anak Ayah, makanya Ayah menurut saja apa katamu. Karena kau adalah sumber kebahagiaan Viana. Bagaimana mungkin Ayah mematahkan hati sumber kebahagiannya?" Hendra menatap Viana sembari tersenyum padanya. Mengusap kepalanya lalu menyatukan tangannya dengan tangan Sean. "Berbahagialah kalian."
"Terima kasih, Ayah." Viana langsung memeluk Hendra begitu juga dengan Sean. Namun saat dirasa Hendra sudah kesulitan bernafas, Viana langsung mengendurkan pelukannya seraya berbisik, "Maaf, jika tenaga anakmu seperti Hulk, Ayah."