
Sean sudah kembali ke rumah. Dia berkacak pinggang dan geleng-geleng kepala saat mendapati Raya dan Viana belum pulang.
"Apakah begini kalau wanita sedang bersenang-senang. Bahkan mereka tidak ingat waktu."
Sean memegangi kepalanya dan memijit pelipis matanya. Harusnya dia sudah tau resiko jika Raya mengajak Viana jalan-jalan pasti tidak akan ingat waktu. Sean menaiki tangga menuju kamarnya dan segera menyegarkan diri. Setelah itu dia menelpon Daniel dan menanyakan keberadaan mereka. Jawaban Daniel semakin membuat Sean sakit kepala.
"Nona Viana dan Nona Raya sedang bermain time zone Tuan."
"Bagus, sekarang Raya sudah membuat istriku seperti anak kecil." Sean memilah pakaian yang akan dipakainya. Dia memilih memakai pakaian yang biasa. Bahkan tidak tampak seperti Tuan Muda Armadja.
Sean segera mengemudikan mobilnya menuju mall tersebut. Sesampainya disana dia menemui Daniel dan Harry yang sedang berdiri di depan pintu masuk arena time zone.
"Dimana mereka?." Tanya Sean.
"Disana Tuan." Jawab Daniel sambil menunjuk ke arah jam 9 dimana Raya dan Viana terlihat sedang bermain lempar bola basket. Tentu saja itu kesukaan Viana.
Sean segera masuk dan mendatangi mereka.
"Ayo kak, cepat." Teriak Raya yang terlihat sangat bersemangat. Viana terus melempar bola ke gawang dengan penuh semangat.
"Ayo masukkan lebih banyak lagi. Jika bolanya kurang aku akan menggantinya dengan kepalamu."
"Hahaha iya iya." Kata Viana disela tawanya.
Tiba-tiba dia berhenti setelah menyadari suara yang barusan menyemangatinya.
Baik Viana maupun Raya sama-sama menoleh ke belakang.
"Sean." Viana tampak terkejut dengan kedatangan Sean begitu juga dengan Raya yang tak kalah terkejutnya.
"Wah asyik sekali ya sampai lupa waktu." Kata Sean sambil menunjukkan arlojinya yang kini menunjukkan pukul 5 sore.
"Maaf kak. Semua ini salahku. Aku yang mengajak kakak ipar bermain hingga kami lupa waktu." Ucap Raya sambil menunduk.
"Tidak Sean ini salahku. Aku yang tadi mengajaknya bermain terus-terusan jangan salahkan dia." Bela Viana.
"Wah sekarang kalian kompak sekali ya. Bahkan sudah saling melindungi." Sean melipat tangannya di dada. Wajahnya memang tampak kesal namun hatinya senang karena lagi-lagi Viana dan Raya menunjukkan bahwa mereka saling menyayangi.
"Sean, aku tadi membelikan baju couple untuk kita." Viana mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku benci baju seperti itu." Ucap Sean.
"Tapi kita akan memakainya bersama." Ucap Viana.
"Tidak, buang saja aku tidak mau." Sean menggeleng.
__ADS_1
Seketika senyum Viana menghilang. Penolakan yang menyakitkan dari Sean. Viana berjalan meninggalkan Sean dan Raya.
"Kakak kenapa sih. Lihat kan kakak ipar jadi sedih. Dasar tidak peka." Raya juga meninggalkan Sean mematung sendirian.
"Kenapa dia? Apa yang barusan aku katakan. Aku kan hanya bilang buang......" Sean tersadar.
"Ya Tuhan, apa yang aku katakan tadi?." Sean segera berlari mengejar Viana dan Raya.
Viana berlari hingga ke taman tak jauh dari mall itu. Raya lelah mengejarnya karena Viana berlari begitu cepat.
"Hahh Hahh aku lelah sekali. Memangnya kakak ipar makan apa sih." Raya membungkuk dan mengatur nafasnya. Daniel dan Harry memapahnya ke bangku di dekat situ.
"Nona istirahat lah." Ujar Daniel. Harry segera berlari ke mobil dan membawakan botol air mineral yang memang mereka bawa dari rumah demi menghindari Raya jajan es sembarangan. Karena bagaimana pun juga Raya masih terbilang nakal. Salah satu alasan Rangga menjaganya begitu ketat adalah hoby Raya yang suka jajan es di pinggir jalan.
"Nona silahkan di minum." Harry menyerahkan sebotol air mineral untuk Raya. Raya segera meneguknya hingga bersisa setengah dalam botol itu.
Sean masih berlari mengejar Viana lewat jalan lain.
"Ya Tuhan kenapa dia cepat sekali. Apa dia tidak lelah?." Sean terus berlari mengejarnya.
Viana menghentikan larinya saat dia sudah mencapai ujung taman itu. Dia melihat sekitar dan menyadari bahwa posisinya begitu jauh dari mall tadi. Dia mencari bangku taman dan duduk disana dan mengatur nafasnya.
Tak lama kemudian Sean datang.
Sean langsung merebahkan kepalanya di atas paha Viana. Dia sangat lelah sekali. Viana ingin menghindar namun Sean sudah merebahkan kepalanya duluan.
"Aku tidak menyuruhmu mengejarku." Ucap Viana sambil menghapus air matanya.
Sean bangun lalu menatap wajah Viana lekat. Dia menghapus air mata istri kesayangannya itu.
"Maafkan aku." Ucap Sean dengan tatapan lembut.
Viana masih diam.
"Kau beli baju warna apa?." Tanya Sean.
"Warna biru." Ucap Viana di sela isak tangisnya.
"Kau tau betul warna kesukaanku." Ucap Sean sambil mengelus rambut Viana. Viana menorehkan senyum di wajahnya.
"Hei, dengar. Aku tidak bermaksud menolak pemberianmu. Tadi aku masih kesal jadi....Intinya maafkan aku." Sean kembali menatapnya lalu tersenyum.
Viana mengangguk.
Lihatkan, aku selalu cepat baikan kalau sedang marah. Sedangkan jika kamu yang marah, akan butuh waktu dan tenaga untuk membujukmu. Gumam Viana.
__ADS_1
"Good girl." Sean menarik Viana dalam dekapannya. Rasa nyaman yang sangat di sukai Viana.
"Kakak Ipar." Raya datang menganggu.
Sean mencebikkan bibirnya lalu melepaskan pelukannya.
"Raya." Ucap Viana saat melihat kedatangan Raya.
"Kakak tidak apa-apa kan?." Raya tampak khawatir.
Viana mengangguk dan tersenyum.
"Maafkan kak Sean ya kak. Dia terkadang memang sangat menyebalkan." Kata Raya.
"Hei aku masih di sini." Kata Sean.
"Iya aku tau kak. Makanya kalau berbicara sama kakak ipar di saring dulu dong jangan seenaknya mengeluarkan kata-kata yang ada di pikiran kakak." Gerutu Raya. Dalam hal ini Sean memang kalah. Dia memilih untuk diam.
"Raya maaf ya kamu jadi kelelahan karena berlari" Kata Viana dengan ekspresi bersalah.
"Tidak apa-apa kak. Hitung-hitung olahraga." Kata Raya tersenyum ramah.
"Ya sudah ayo kita pulang. Aku tidak sabar ingin mencoba baju yang kau belikan." Ucap Sean yang merngkul bahu Viana dan menuntunnya berdiri.
"Kak, tetap seperti itu, jangan di lepas." Kata Raya seraya mengeluarkan ponselnya.
"Apa?." Tanya Sean.
"Aku ingin memotret." Ucap Raya.
Sean dan Viana tertawa melihat tingkah Raya yang memang sangat menggemasakan.
Sean dan Viana menurutinya lalu berpose lebih dekat.
Raya memotret mereka.
"Wah cocok sekali." Ucap Raya gemas.
"Sepertinya kau sangat menyukai kakak iparmu." Kata Sean.
"Bagaimana aku tidak menyukai kakak ipar? Dia sangat baik dan lembut. Tidak seperti kakak yang sangat menyebalkan dan hoby marah." Cibir Raya sambil melangkahkan kakinya menuju mobil yang menunggu mereka di depan taman.
"Apa katamu. Hei berhenti dan pertanggung jawabkan kata-katamu." Panggil Sean sambil menggelang kepalanya.
__ADS_1
Viana hanya tersenyum melihat dua kakak beradik yang tidak akur namun saling menyayangi.
Mereka pun pulang bersama. Sean bersama Viana. Sedangkan Raya bersama Daniel dan Harry menyetir sendiri.