
Keesokan harinya, Sean sibuk dengan sebuah pekerjaan yang menurutnya tidak penting, namun sangat penting untuk Viana.
Ia berbincang dengan Shaka, rekan bisnis sekaligus temannya di sebuah restoran sembari makan siang.
"Apa istrimu tidak sedang terganggu jiwanya?" tanya Shaka.
"Tadinya aku berpikir begitu, tetapi, aku rasa tidak. Dia masih waras. Sekarang pun dia bisa merontokkan semua gigimu dalam sekali tinju." Sean menatap dengan serius. Membuat Shaka langsung menutup mulutnya.
"Katakan padanya bahwa aku hanya bercanda. Jangan sampai istriku berpaling ke Ngatiran jika aku menjadi jelek karena tidak punya gigi lagi."
"Apa kau bilang tadi? Pak Ngatiran? Hei, aku punya ide bagus." Sean membisikkan sesuatu pada Shaka.
"Apa kau yakin si tua bangka itu akan mau?" tanya Shaka.
"Pasti dia akan mau jika istrimu yang meminta." Sean tersenyum penuh makna.
"Apa menurutmu rencana ini akan berhasil? Maksud ku bagaimana kalau dia malah mengambil kesempatan untuk mendekati Alena?"
"Kenapa kau seperti takut tersaingi oleh pria tua bangka seperti Pak Ngatiran? Apakah ada yang salah dengan kepalamu?" Sean mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Dan kenapa kau berpikir bahwa Ngatiran bisa mengatasi ini semua?"
"Karena mereka sama-sama tua. Aku yakin pembicaraan mereka akan sangat cocok. Apalagi Pak Ngatiran sangat menyebalkan, aku yakin dia bisa mengungkap kenapa si tua itu menikahi wanita muda seperti Stevi."
"Aneh, ya. Bukankah kau bilang bahwa Stevi berusaha mendekati dirimu? Kenapa dia malah menolongnya?"
"Katanya Stevi telah menyelamatkan dirinya saat jatuh dari tangga."
"Benarkah? Berarti dia tidak jahat. Kalau dia memang berusaha mendekati dirimu, pasti dia akan membiarkan Viana jatuh."
"Itulah yang dipikirkan Viana. Dan dia merasa kasihan pada Stevi yang sepertinya terpaksa menikah dengan pria tua itu."
"Ya sudah, aku akan atur semuanya. Kalau begitu aku harus pergi. Kau bayarlah makanan ini." Shaka meninggalkan Sean di tempat itu.
"Dasar CEO pelit," cibir Sean.
*****
"Bagaimana?" tanya Viana saat Sean baru sampai rumah.
__ADS_1
"Kita akan meminta bantuan pada Pak Ngatiran," sahut Sean.
"Ha? Pak Ngatiran? Apa aku tidak salah dengar?" Viana mengernyitkan dahinya.
"Tidak, telingamu masih berfungsi. Aku rasa, mendatangkan orang tua menyebalkan itu akan mempermudah rencana penjebakan itu."
Viana tampak berpikir. "Sepertinya kau benar, Pak Ngatiran memang orang yang tepat. Oh ya, apa kau sudah menyelidiki apa pekerjaan suami Stevi?"
"Shaka sudah melacaknya. Katanya, dia adalah seorang pengusaha pertambangan. Dia sangat kaya, sehingga uang tidak bisa membuatnya diam. Makanya kita minta bantuan pada Pak Ngatiran."
"Ya sudah, aku percaya pada kalian. Semoga saja dia bisa membatu kita mengetahui apa yang membuat Stevi mau menikah dengannya."
"Seharusnya kau tidak perlu repot-repot, kalau dia jadi janda nanti, apa kau tidak takut kalau dia akan mendekati ku lagi?"
"Tidak, aku percaya padanya. Sebenarnya, dia mendekati dirimu belakangan ini karena ingin agar aku memantaunya dan menolongnya. Dia tahu bahwa aku tidak akan membocorkan rahasianya."
"Kau sangat pintar membaca situasi sekarang." Sean mengusap kepala Viana.
"Aku hanya tidak mau dia bernasib sama seperti Anggun saat bersama Erik dulu. Menderita dan menangis."
__ADS_1
"Istriku ini memang sangat baik, aku jadi semakin mencintainya dan ingin mengajaknya ke kamar sekarang." Sean merangkul mesra bahu Viana lalu mengajaknya ke dalam kamar. Entah apa yang terjadi selanjutnya, hanya mereka dan author yang tahu.