
Sean menatap serius ke arah Rangga.
"Pa, aku memilih untuk tidak meninggalkan Viana" Jawab Sean dengan tegas.
Mata Viana berkaca kaca mendengar jawaban Sean yang lebih memilihnya daripada harta.
"Ya sudah bawa lah dia kalau kau tidak mau meninggalkannya. Memang kalau cinta mau bagaimana lagi? Jauh saja tidak mau" Gerutu Rangga
"Ha?" Sean merasa bingung begitu juga dengan Viana yang cepat cepat menghapus air matanya.
"Kenapa? Kalian kira Papa akan memisahkan kalian? Papa hanya menyuruhmu meninggalkan istrimu selama beberapa hari ke Amerika. Kau tau kan bagaimana Oma Laura. Jika kau ada perjalanan bisnis ke sana maka Oma Laura akan memaksamu menginap di rumahnya atau bahkan mendatangimu dan mengancammu jika kau tidak mau ikut dengannya. Dan jika kau tidak pergi ke sana. Maka kita akan kehilangan kepercayaan dari teman bisnis Papa dan jabatanmu tentu akan Papa turunkan" Kata Rangga yang membuat semua terdengar masuk akal.
"Kenapa tidak di perjelas dari tadi Pa" Kata Sean dengan ekspresi yang sulit di artikan. Antara bingung, kesal, senang semua jadi satu.
Alya mengangkat wajanya dan terkekeh.
Dia sungguh tidak bisa jika terus menahan tawa.
"Jadi Mama juga ikut ikutan mengerjai kami?" Tatap Sean tidak percaya.
"Mau bagaimana lagi. Semula Papa ingin mempermudahnya tapi ini hukuman karena kalian berani bermesraan di jam kantor" Kata Rangga
"Pa, bukannya Papa dulu juga begitu?" Bisik Alya
"Diam, jangan bahas itu" Bisik Rangga
"Iya Maaf Pa. Kapan aku akan kesana?" Tanya Sean
"3 hari lagi" Kata Rangga
"Papa tidak mengirim Viana karena kamu tau kan bagaimana sikap Oma Laura terhadapnya" Tambah Alya
"Iya, Vi mengerti Ma" Kata Viana tersenyum malu. Malu sekali rasanya menangis karena di kerjai mertuanya sendiri.
Tak lama kemudian makanan datang. Mereka segera menikmati makanan yang terlihat menggugah selera.
Selesai makan, mereka mengobrol ringan.
"Sepertinya sekarang kalian sudah benar benar menjadi suami istri" Kata Rangga yang mengingat adegan di kantor tadi.
__ADS_1
Viana menunduk malu. Begitu juga dengan Sean yang menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
"Sudah lah Pa mereka kan jadi malu" Kata Alya yang saat ini benar benar mengerti perasaan Sean dan Viana.
"Kenapa Ma? Papa kan bicara soal kenyataan. Kita hanya tinggal menunggu cucu kan" Kata Rangga
"Nah kalau itu Mama setuju Pa" Kata Alya
Baik Sean mau pun Viana sama sama merasa terpojok. Malu bercampur gugup. Bagaimana pun mereka baru saling jatuh cinta. Rasanya masih malu untuk mengumbar kemesraan.
"Sean, Kapan resepsi pernikahan kalian akan di gelar? Sudah saatnya kau memperkenalkan Viana ke publik" Kata Rangga
Sean dan Viana saling bertatapan.
"Bagaimana pendapatmu Vi?" Tanya Rangga
"Vi, menurut apa kata Sean saja Pa" Kata Viana
"Sean bagaimana?" Tanya Alya yang melihat Sean diam saja.
Viana menatap Sean dengan raut wajah kecewa.
Pasti Sean tidak mau memperkenalkanku. Gumam Viana
Pipi Viana memerah, hatinya sangat senang mendengar kalimat Sean.
"Baik lah, 1 bulan lagi Papa akan menggelar resepsi pernikahan kalian. Namun sebelumnya kau harus memperkenalkan Viana di kantor agar karyawanmu tidak terkejut" Kata Rangga
"Oh ya bagaimana dengan pekerjaan Viana Pa? Apakah dia akan tetap menjadi asisten pribadiku?" Tanya Sean
"Bagaimana Viana? Apa kau bersedia berhenti bekerja?" Tanya Rangga
Viana merasa sangat bingung dengan pilihan kali ini. Jika dia berhenti maka dia tidak akan bisa selalu mengawasi Sean.
Namun jika dia tidak berhenti, maka akan membuat buah bibir di kalangan publik. Seorang istri konglomerat menjadi asisten pribadi suaminya.
"Vi ikut keputusan Sean dan Papa saja" Kata Viana pasrah
Sean menyadari bahwa Viana merasa bersedih.
__ADS_1
"Aku punya solusi Pa. Aku tau kalau Viana tidak akan betah di rumah. Jadi Viana akan tetap bekerja. Dia akan menggantikan posisi Kevin dan Kevin akan aku mutasikan ke kantor Zein. Karena aku dengar Zein agak kesulitan dengan sekretarisnya yang sekarang" Kata Sean
"Kesulitan bagaimana?" Tanya Rangga
"Sekretarisnya selalu saja menggodanya" Kata Sean
"Zein yang bilang?" Tanya Alya
"Lyana Ma" Kata Sean
"Ya sudah Papa akan mengaturnya. Sepertinya kau ada masalah dengan Kevin sehingga menginginkannya pergi" Kata Rangga
"Tidak Pa. Aku hanya kasihan dengan Zein" Kata Sean
"Ya sudah" Kata Rangga
Viana tersenyum mendengar Sean akan mempertahankannya di sisinya.
Setelah puas mengobrol, mereka pun berpisah. Sebelum berpisah, Rangga mengucapkan kalimat yanga membuat Sean dan Viana merasa malu.
"Sean, Viana kalian lanjutkan yang tadi di rumah saja ya. Masih jam kantor" Kata Rangga yang tersenyum jahil di ikuti Alya yang terkekeh mendengar kata kata Rangga
Sean dan Viana saling bertatapan.
Viana menggeleng namun Sean malah mengangguk dan tersenyum nakal.
Terima kasih atas dukungan Votenya. Walaupun nggak masuk 20 besar tapi Sean dan Viana masuk di Rangking 1 Karya Baru.
Sesuai janjiku, aku sudah memfollow pemenang rang vote di novel ini.
Karena tidak ada yang author maka aku akan memfollow 3 akun MT di bawah ini ya.
@Chenta Alma
@Atifa Maulani
@Dewa Sby
Untuk ketiga pemenang silahkan chat nama akun IG nya biar aku Follback ya 😊
__ADS_1
Untuk 2 minggu ke depan akan ada lagi even seperti ini ya.
rangking 1 akan aku promosikan novelnya dan rangking kedua akan aku follow akun MT dan IGnya.