Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Contekan


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Kini Sevina dan David sudah duduk dikelas 3 SD. Reyza sendiri sudah duduk di kelas 1 SD. Mereka sekolah di sekolah ternama di kota itu.


Pagi itu Sevina dan Reyza sedang sarapan bersama orang tuanya. "Sevina. Hari ini jadwal kita latihan. Jadi pastikan setelah pulang sekolah jangan kemana-mana." ucap Viana.


"Iya Mama." ucap Sevina sambil mengunyah nasi goreng buatan Viana.


"Dan Reyza. Mama tidak mau mendengar kau merengek kepada kakak untuk membelikanmu permen di luar sekolah. Kalian sudah mendapat makanan bergizi dari kantin. Tidak ada namanya jajan sembarang. Mengerti?" ucap Viana dengan serius.


Reyza menunduk lesu. "Iya Ma." ucapnya sambil terus menyendokkan makanan ke mulutnya.


"Sayang jangan terlalu keras pada mereka." ucap Sean.


"Tidak Pa. Mama tidak mau jika mereka jajan sembarangan dan Reyza yang tidak pernah mau olahraga ini sakit seperti waktu itu." ucap Viana.


"Mereka anak pintar. Pasti akan belajar dari pengalaman. " ucap Sean.


"Mama yang tau Pa. Sudahlah jangan jadi dewa penolong kesiangan." ucap Viana menatap kesal.


Sean hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Memang sejak masuk sekolah Reyza suka sekali jajan sembarangan tanpa sepengetahuan Sevina. Dia lebih mirip seperti Raya saat masih anak-anak. Dan 2 tahun yang lalu saat Reyza masih TK, dia diare karena jajan sembarangan dan itu membuat Viana panik.


Setelah sarapan seleasai, Sean dan Viana mengantar anak-anak mereka. Sekarang Viana sudah bekerja kembali sebagai sekretaris Sean karena kedua anaknya sudah bersekolah.


Sesampainya di sekolah, Sean dan Viana turun dan mengantarkan mereka sampai depan gerbang. Mereka mencium tangan orang tuanya dan berlari masuk kedalam. Disaat itu juga, Anggun terlihat turun dari mobilnya yang sudah dia beli dari hasil bekerja selama ini.


"Anggun." Sapa Viana. Mereka saling bercipika cipiki.


"Selamat pagi Om, Tante." Sapa David.


"Selamat pagi." sahut Viana dan Sean berbarengan.


"David masuk dulu ya Ma, Om, Tante." ucapnya sambil berlari kedalam.


"Dia anak yang sopan dan ramah." puji Viana.


"Kau bisa saja Vi." ucap Anggun.


"Aku hanya berbicara kenyataan." ucap Viana.

__ADS_1


"Terima kasih Vi. Sevina dan Reyza juga anak yang manis" ucap Anggun.


"Sepertinya kalian bisa saling memuji nanti. Kita harus berangkat sebelum macet membuat kita terlambat." ucap Sean menengahi pembicaraan Anggun dan Viana.


"Oh kau benar Sean. Ya sudah sampai nanti Vi." ucap Anggun.


Mereka masuk ke mobil masing-masing dan pergi bekerja.


Sesampainya dikantor, Sean dan Viana disambut hangat oleh para bawahannya. Seperti biasa, mereka juga akan membalas dengan senyuman yang ramah.


Di sekolah.


Sevina dan David sedang mengikuti ulangan. Tiba-tiba Sevina memanggil David dengen bisikan. "Ssssttt David. Beri tahu aku jawaban nomor 3." bisik Sevina yang duduk di belakang David.


David yang sebenarnya merasa risih dengan bisikan Sevina tetap tidak menggubrisnya. Itu membuat Sevina kesal. Dia pun meninju punggung David namun tidak terlalu kuat. David meringis karena sebenarnya pukulan itu terasa sedikit menyakitkan.


David merobek kertas dibukunya dan menuliskan sesuatu di kertas itu. Sevina terlihat senang karena David mau memberinya jawaban.


David menyisipkan kertas itu dibawah kertas ujian Sevina. Sevina sangat senang. Dia membuka kertas itu namun seketika senyum di wajahnya menghilang karena isi dari kertas itu adalah kalimat "Belajarlah agar tidak menyusahkan orang lain."


Sevina mer*mas kertas itu dan melemparnya tepat ke kepala David. David memegangi kepalanya. Lemparan jitu Sevina begitu kencang dan kuat sehingga sedikit menyakiti kepalanya.


"Mencontek itu perbuatan curang." ucap David.


"Kau pelit sekali." ucap Sevina.


"Kau payah. Dan tenagamu seperti monster." ucap David sambil berlalu keluar meninggalkan Sevina dengan raut wajah kesal.


David sudah sampai di kantin. Kantin di sekolah mereka sangat bersih dan higienis. Segala macam makanan ada disana. Para siswa hanya tinggal memilih makanan apa yang ingin mereka makan. Mereka berbaris mengantri sambil membawa piring dan menuangkan nasi dan lauk apa saja yang mereka ingin.


David sedang mengantri ketika tiba-tiba Sevin datang dan menyerobot antrian. "Hei Sevina kau tidak boleh begitu." ucap salah seorang siswa laki-laki dibelakangnya.


Sevina menoleh. "Apa kau keberatan?" Sevina mengepalkan tangan kanannya dan memukul telapak tangan kirinya sambil menatap serius.


"Tidak." ucap anak itu sambil tertunduk.


Sevina berbalik dan melihat David sedang menatapnya sambil geleng-geleng kepala. "Apa? Dia yang mengatakan kalau dia tidak keberatan." ucap Sevina.

__ADS_1


"Kau membuatnya mengatakan itu." ucap David.


"Sudahlah aku lapar." ucap Sevina sambil mendorong David agar maju dan dia bisa mengambil makanannya.


Sevina mengintip makanan yang diambil David. Dia terlihat mengambil nasi, ayam, sayur dan tempe. Benar-benar seimbang. Sedangkan Sevina hanya mengambil nasi dan ayam saja. Dia hanya mengambil sedikit sayur.


"Jika tante Viana tau pasti akan marah." ucap David.


"Mama tidak akan tau jika kau tidak memberi tahunya." ucap Sevina sambil melangkah pergi meninggalkan David.


"Jika kau suka olah raga, perbanyaklah makan sayur." ucap David saat sudah duduk tepat didepan Sevina.


"Aku selalu makan sayur di rumah." ucap Sevina.


"Jika Mamamu ada kan? Jika tidak, kau pasti akan menyingkirkan atau menaruhnya di plastik dan membuangnya." ucap David.


Sevina terkejut karena David tau kebiasaannya saat menyembunyikan sayur dari piringnya.


"Aku hanya menggunakan logika Sevina, bukan mengintipmu saat makan di rumah." ucap David mengartikan keterkejutan Sevina.


"Siapa yang menuduhmu." Gerutu Sevina.


"Aku hanya mengingatkanmu agar memakan sayuran juga. Makananmu harus seimbang. Itu juga akan membantu agar kau tidak meminta contekan." ucap David.


"Jadi makasudmu aku meminta contekan karena aku bodoh dan kurang sayur?" tanya Sevina.


"Aku tidak bilang begitu." ucap David dengan tampang biasa saja.


"Huhh kau menyebalkan." Sevina pergi dan duduk di tempat Reyza berada. Di sedang memakan makannannya dengan lahap. Rasanya telinganya akan sakit jika berada didekat David yang hobinya hanya menceramahimya saja.


Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar. Di depan gerbang sekolah, Viana dan Anggun sudah menunggu anak-anak mereka.


David terlihat mencium tangan Mamanya. Sevina dan Reyza juga mencium tangan Viana.


"Ma, kita jadi kan ikutan ke kantor Papa." ucap Sevina.


"Jadi dong. Ayo." Ajak Viana. Mereka pun masuk ke mobil. Hari ini Viana akan mengajak mereka ke kantor Papanya. Bukan tanpa alasan. Itu karena ada klien yang ingin bertemu dengan keluarga Sean.

__ADS_1


Yuk baca Karya dibawah ini



__ADS_2