Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Bekerja


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Lisa sudah resmi menjadi karyawan tetap di perusahaan Armadja. Dia bekerja begitu keras hingga akhirnya Sean mengangkatnya menjadi wakil sekretaris. Karena jika Viana sibuk, dengan acara sekolah anak-anaknya Lisa bisa menghandle pekerjaannya seperti hari ini. Viana akan menghadiri rapat wali murid di sekolah bersama Anggun juga.


Dikantor sedang ada meeting sehingga keberadaan Lisa sangatlah di perlukan. Dan Viana bersyukur ada Lisa yang sangat bisa diandalkan.


Di kantor. Lisa menunjukkan kemampuannya dalam melakukan presentasi. Meski tidak sebagus Viana, namun penampilannya cukup memuaskan para klien.


Setelah rapat selesai, semua membubarkan diri.


"Tuan, setelah ini kita ada rapat di restoran dengan perwakilan dari perusahaan GC." ucap Lisa.


"Sepertinya Viana tidak bisa ikut. Segera persipakan berkas dan pergi kesana." perintah Sean.


"Baik Tuan." ucap Lisa. Dia segera menuju ruangannya dan mempersiapkan semuanya. Setengah jam kemudian mereka pun berangkat.


Mereka meeting di sebuah restoran yang tak jauh dari hotel kliennya. Sean dan Lisa sudah duduk di tempat yang sudah mereka pesan sebelumnya sambil menunggu kliennya. Tak lama kemudian, seorang wanita menghampiri mereka.


"Stevi." ucap Sean saat mengenali wanita itu adalah Stevi yang tak lain adalah teman kuliahnya yang dia temui beberapa tahun yang lalu di Amerika. (Baca Episode 103)


"Hai Sean." sapa Stevi sambil menjabat tangan Sean.


"Aku tidak menyangka jika kau adalah Direktur di perusahaan itu." ucap Sean.


"Aku sudah tau saat Ayahku bilang bahwa klien yang akan aku temui adalah dirimu." ucap Stevi.


"Oh ya perkenalkan ini wakil sekretarisku namanya Lisa." ucap Sean.


"Hai Lisa." sapa Stevi.


Lisa membalasnya dengan anggukan dan senyuman.


"Mana istrimu?" tanya Stevi.


"Dia sedang menghadiri rapat wali murid di sekolah anak-anakku." jawab Sean.


"Wah dia Ibu yang sangat perhatian." puji Stevi .


"Terima kasih. Ayo kita mulai meetingnya." ucap Sean.


Mereka pun memulai meetingnya. Dan meeting di akhiri dengan kesepakatan kerja sama diantara keduanya.


Setelah meeting selesai, mereka kembali ke kantor. Di kantor mereka kembali disibukkan dengan aktivitas yang memenuhi jadwal hari itu. Semenjak ditinggal Axel, Sean jadi sedikit repot karena hanya Axel yang bisa bekerja dengan gesit persis seperti Papanya.


Tiba-tiba Hp Sean berdering, seketika wajahnya berubah menjadi serius. Dia pun mengangkat telepon itu. "Halo." jawabnya.

__ADS_1


Wajahnya tampak serius mendengarkan. Dan seketika wajahnya menjadi tegang dan terlihat sangat marah. "Baik. Terima kasih. Laksanakan apa yang sudah ku suruh." ucap Sean yang kemudian mematikan teleponnya.


"Awas saja kalian." itulah kata yang terlontar dari mulut Sean. Dia kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya.


Tak berapa lama, Viana baru saja kembali dari sekolah. Dia memasuki ruangan Sean.


"Bagaimana rapatnya?" tanya Sean.


"Lancar." jawab Viana.


"Apa mereka sudah dirumah?" tanya Sean.


"Sudah."


"Kami sudah selesai meeting. Tadi kliennya adalah Stevi teman kuliahku yang dulu pernah bertemu dengan kita di pantai saat kita menjenguk Raya." ucap Sean.


Viana tersenyum. "Aku belum bertanya." ucapnya.


"Kau tampak lesu. Pasti kau tau aku meeting dengannya dan kau menunggu aku yang mengatakan duluan." ucap Sean seperti mengartikan sikap Viana tadi.


"Hahaha kau terlalu ge'er sayang." ucap Viana sambil mengalungkan tangannya di leher Sean.


"Kenapa aku ge'er? Sekarang kau jadi tersenyum lagi setelah mendengar penjelasanku." ucap Sean sambil memegang pinggang Viana dan mencium bibirnya.


Sean dan Viana terkejut dengan kehadiran Lisa yang tiba-tiba saja masuk tanpa mengetuk.


"Maaf Tuan, Nyonya." ucap Lisa sambil berbalik dan hendak keluar.


"Tidak Lisa. Berhenti!" ucap Viana.


Lisa menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menunduk. "Maaf karena kau harus melihat semuanya." ucap Viana.


"Ti..tidak apa-apa Nyonya. Saya hanya ingin mengantarkan berkas ini." ucap Lisa.


Viana menghampirinya dan mengambil berkas itu. "Terima kasih Lisa. Kau boleh kembali. Dan lain kali, cobalah untuk mengetuk dulu." ucap Viana seraya tersenyum.


"Sekali lagi saya minta maaf Nyonya." ucap Lisa. Dia pun berbalik dan kembali ke ruangannya.


Aduh bodohnya aku. Kenapa aku tidak mengetuk dulu. Aku jadi merasa tidak enak pada mereka.Tapi aku salut dengan mereka. Meski sudah lama menikah tapi romantisnya tidak pernah pudar. Tentu saja Sean tetap setia pada Viana. Viana kan orang yang berhati baik. Batin Lisa.


"Lain kali kunci lah pintu." ucap Viana yang masih merasa malu karena Lisa memergokinya berciuman dengan suaminya.


"Aku lupa sayang. Itu karena kau yang tiba-tiba memancingku." ucap Sean sambil menyibakkan rambut Viana ke belakang lalu berbisik di telinganya. "Ayo ke hotel." ajak Sean tiba-tiba.


Viana mengernyitkan dahinya. Di umur Sean yang sudah menginjak usia tiga puluh lima, Sean masih saja bersikap romantis dan manja padanya.

__ADS_1


"Kita sedang banyak pekerjaan sayang." ucap Viana mencoba bernegosiasi.


"Tapi ciuman tadi membangkitkan yang dibawah." bisik Sean lagi sambil memeluk Viana dari belakang.


Mata Viana membulat saat merasakan benda keras yang menonjol dari balik celana Sean menyentuh bokongnya.


"Ba...Baiklah." ucap Viana.


Mereka pun segera pergi ke hotel yang tak jauh dari kantor. Mereka pun bercinta pada siang itu juga.


Selesai dengan semuanya, mereka kembali ke kantor dengan pakian yang berbeda.


"Tuan, tadi Tuan Rangga datang kesini." ucap Lisa.


"Papa? Dimana Papa?" tanya Sean.


"Di ruangan Tuan." ucap Lisa.


Sean dan Viana langsung bergegas menuju ruangannya. Didalam, Rangga sedang duduk dan memainkan hpnya.


"Papa." ucap Sean.


"Dari mana kalian?" tanya Rangga.


"Dari luar Pa. Ada perlu sebentar." ucap Sean.


"Rangga melihat make up Viana seperti baru di poles. Rambut Sean dan Viana yang kelihatan lembab membuktikan bahwa mereka habis keramas namun mereka tidak mengeringkannya dengan sempurna.


"Apa kalian tidak ingin menambah anak lagi?" tanya Rangga.


"Apa? Anak? Tidak Pa. Dua saja sudah cukup." jawab Sean.


"Ya ya ya." ucap Rangga.


"Apa Papa kesini hanya untuk mengatakan itu?" tanya Sean.


"Tentu tidak. Apa Papa tidak ada kerjaan sehingga harus repot-repot datang kesini dan meminta cucu? Papa datang kesini karena mau membahas pekerjaan." ucap Rangga.


"Oh, baiklah Pa. Aku panggil Lisa dulu ya." ucap Sean.


Tak lama kemudian Lisa datang dan mereka memulai rapatnya. Selesai dengan rapatnya, Rangga pun pulang.


Secara tak sengaja, tangan Lisa menyentuh rambut Viana yang masih lembab.


Lembab? Apa mereka habis....Ah sudah lah namanya juga suami istri. Mungkin gairah bercinta mereka memang masih tinggi. Aku mikir apa sih. Ini pasti karena aku sudah lama menjanda. Ah beruntungnya jadi Viana. Sudah punya suami tampan, setia, kaya. Sedangkan aku dulu. Bercinta dengan Hans saja hanya sebulan sekali karena Hans sibuk dengan pekerjaannya dan harus bolak-balik luar negeri. Hans juga pelit dan tidak terlalu kaya. Ah aku mikir apa sih. Efek jablay ya begini jadinya. Batin Lisa.

__ADS_1


__ADS_2