
"Alena, apa kabar?" Viana menjabat tangan Alena.
"Baik, silakan masuk, Vi." Alena mempersilakan Viana masuk.
Setelah memasuki ruangan tersebut, Viana sedikit terkejut dengan kehadiran Sean di sana.
"Sean sedang apa di sini? Ini belum jam pulang kantor." Viana melirik arlojinya.
"Aku sedang melihat rancangan Alena untuk baju kita. Pekerjaan ku sudah selesai," ucap Sean dengan tenang. Sudah punya jawaban dan alibi, kenapa harus takut?
"Apa sudah selesai?" tanya Viana.
"Sudah, aku rasa kau lebih pintar memilih rancangan yang bagus untuk kita."
"Ya sudah, ada Shaka juga di sini, apa kalian ada meeting juga?" Viana menoleh ke arah Shaka yang tersenyum padanya.
"Tidak, tapi kami ingin makan siang bersama."
"Aku hanya akan makan siang dengan,,,,"
__ADS_1
"Pada malam senin, tangg,,,,," Sean menyesal ucapan Shaka.
"Ya, aku akan makan siang dengan Sean. Sudah lama kami tidak bertemu." Shaka menghampiri Sean dan menepuk bahunya.
"Bukankah dua hari yang lalu kalian baru bertemu dalam pertemuan meeting?"
"Hahaha iya, maksudnya, sudah lama tidak bertemu di luar pekerjaan." Shaka berusaha menutupi kegugupannya.
"Ya sudah, sekarang kami pergi dulu." Sean melambaikan tangan pada Viana dan Alena, lalu menarik Shaka keluar dari ruangan tersebut.
Mereka pun pergi ke restoran terdekat untuk makan siang yang sebenarnya sudah lewat waktunya.
Setelah memesan makanan, mereka pun mengobrol.
"Kau selalu saja menyebalkan, makanya aku bongkar saja sekalian agar kau tahu rasa."
"Kau terlalu terbawa perasaan."
"Lagipula apa masalahnya, pada malam itu kau tidak sengaja minum alkohol karena kalah dalam permainan truth or dare. Kau saja yang bodoh karena terbujuk hasutan rekan kerjamu yang gila mabuk itu."
__ADS_1
"Hahaha, bukan aku yang bodoh, tapi kau yang terlalu takut dihajar Viana kalau ketahuan mabuk."
"Enak saja, aku tidak mau bukan karena takut dihajar, tetapi juga karena aku sudah berjanji tidak akan mabuk seperti dulu, saat Gilang mencekoki aku dengan obat yang dapat membuat ku kecanduan minum alkohol. Dan yang terpenting, itu dilarang agama. Minuman itu haram." Sean menjelaskan.
"Baiklah, aku mengaku kalau aku salah. Sudah, jangan ungkit itu lagi, apalagi sampai Alena tahu."
"Cih, kau berkata seolah-olah aku suami yang takut dihajar istri. Sedangkan kau tidak berkaca pada dirimu sendiri yang ciut jika istrimu marah." Sean balas meledek.
"Aku bukan takut istri, aku hanya tidak ingin membuatnya kecewa apalagi sampai menangis. Aku sangat mencintai Alena."
"Maka seperti itu pula yang aku rasakan saat ini. Aku juga mencintai Viana, sampai aku rela jadi tukang jahit dadakan, tapi kau terus saja mengejekku." Sean mendengkus kesal.
"Hahaha, iya, iya, aku minta maaf, aku tidak akan mengejek mu lagi."
Dan obrolan mereka pun terhenti saat makanan telah datang. Tanpa berkata apapun, mereka segera menyantap hidangan mewah di restoran tersebut.
Sementara itu, Viana tampak sedang menangis sambil bercerita pada Alena. Ya, ia menceritakan perihal baju yang telah rusak.
"Apa Sean sudah membawanya? Boleh aku bawa pulang saja? Aku tidak ingin kalau baju itu sampai hilang lagi."
__ADS_1
"Via, percayakan padaku, aku akan menjahit baju itu sebaik mungkin. Aku tidak akan mengecewakan dirimu." Alena mencoba menghibur.
Viana hanya mengangguk sembari menyeka sudut matanya yang basah. Memang, tujuan kedatangannya tadi adalah curhat pada Alena tentang kesedihan yang ia rasakan. Alena sendiri sangat sedih melihat Viana seperti itu. Akan tetapi, ia tidak mungkin menceritakan kebenarannya atau semua rencana indah Sean akan kacau.