
"SEAN!!!" Teriak Kenzie. Dia seperti habis melihat hantu saat melihat keberadaan Sean tepat didepannya sambil memegang pistol yang tadi di ambil darinya.
"Doooorrrrrrrr......." Sebuah tembakan terdengar dalam ruangan itu. Viana berteriak dan menutup matanya. Sean tersenyum sinis saat melihat Kenzie juga menutup matanya. Tembakan itu tepat mengenai dinding yang ada di belakang Kenzie. Kenzie tampak pucat. Jika pistol itu mengenainya maka tamatlah sudah.
"Jika aku tidak mengingat Istriku, pasti peluru tadi sudah menembus kepalamu."
Sean menurunkan pistol itu dan membuang semua pelurunya. Dia melemparkan pistol itu ke salah satu pengawalnya. Kenzie melihat bahwa semua anak buahnya telah ditangkap oleh Sean. Mereka semua sudah tidak bisa berkutik karena jumlah pengawal Sean jauh lebih banyak.
Viana membuka matanya. Sungguh dia tidak bisa melihat adanya pertumpahan darah disini. Ternyata tidak, Sean hanya menembak dinding untuk sekadar menggertak Kenzie. Viana percaya Sean tidak akan melakukan tindakan kriminal. Tapi Viana masih heran bagaimana Sean bisa ada disini? Apa yang sebenarnya terjadi?
Kenzie masih berdiri ditempatnya. Dia masih heran melihat kedatangan Sean. Sean memerintahkan pengawalnya untuk mengikat Kenzie di sebuah bangku yang ada disana. Dia menyuruh pengawalnya untuk keluar dan membawa anak buah Kenzie.
Kini tinggallah Kenzie, Sean, Viana dan Hendra. Viana mendekati Hendra yang terduduk disisi ranjang. Dia tampak sangat khawatir. Sean mengambil sebuah kursi dan duduk berhadapan dengan Kenzie dalam jarak 1 meter.
"Pasti kau bertanya-tanya kan kenapa aku ada disini?" Sean menyilangkan tangannya didada. Matanya menatap lurus ke arah Kenzie yang tampak penasaran.
"Aku ingin menyarankan. Jika Kau ingin menghancurkanku harusnya Kau melihat dengan jelas siapa yang Kau lawan. Kau harus tahu siapa keluargaku terutama orang tuaku. Lawan sepertimu sangatlah kecil untuk mereka, kau tau!!!"
Kenzie terkejut mendengar penuturan dari Sean. Sean mengerti akan rasa terkejut Kenzie dan dia tersenyum sinis.
"Apa Kau kira aku tidak menyelidikimu? Gilang yang bodoh dan Dio yang gila sudah aku jebloskan ke penjara." Tersenyum penuh kemenangan.
*Flashback On*
Di sebuah rumah kecil di pinggir kota, Sean dan Gilang bertemu untuk melakukan transaksi. Dio ada didalam salah satu kamar untuk memvideokan transaksi itu agar dia mempunyai bukti dan memasukkan Sean ke penjara.
Namun naas. Saat Gilang dan Sean sedang melakukan transaksi, tiba-tiba saja pintu rumah itu di dobrak oleh beberapa orang berpakaian seperti preman dan menangkap Gilang dan Dio yang berusaha lari. Mereka adalah polisi yang bekerja sama dengan Sean untuk menangkap Gilang dan Dio.
__ADS_1
Gilang ditangkap tanpa perlawanan namun Dio sempat lari namun polisi terpaksa menembak kakinya. Mereka langsung di bawa ke kantor polisi.
"Maaf Gilang, sepertinya Adikku akan patah hati karena melihatmu begitu menyedihkan." Sean tersenyum mengejek.
"Siapa yang patah hati oleh pria berengsek sepertinya Kak?" Raya tiba-tiba masuk.
"Raya? Kenapa Kau kesini?" Sean terkejut dengan kehadiran Raya.
"Aku Raya Armadja. Darah Armadja ada dalam diriku. Aku menantikan hari ini ketika melihatnya menyedihkan seperti ini." Raya terlihat menyunggihkan senyuman.
"Kenapa Kau mengatakannya disini. Kasihan Dia. Dia selalu berpikir bahwa seorang Raya Armadja menyukainya." Sean berkacak pinggang.
"Aku hanya ingin Dia tau bahwa Aku tidak pernah sedikitpun menaruh rasa padanya. Selama ini aku hanya berpura-pura untuk mengalihkanmu penghianat. Apa menurutmu Kau lebih baik dari Axel kekasihku? Bermimpilah bodoh. Kau sama sekali bukan seleraku dasar BUJANG LAPUK." Raya meninggalkan Gilang yang berekspresi terkejut. Sepertinya dia telah menaruh hati pada Raya. Dan benar kata Raya, selama ini Raya memang sedikit mengalihkan perhatiannya.
Sean geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya yang memamerkan Axel di depan Gilang. "Maaf ya Gilang, Kau harus mendengarnya. Tapi benar katanya, Axel jauh lebih pantas untuknya dan Kau tidak apa-apanya dibandingkan Axel. Sampaikan salamku pada Dio. Kita akan bertemu di pengadilan." Sean pergi meninggalkan tempat itu. Kedua polisi yang sedang memegangi Gilang langsung membawanya ke kantor polisi menyusul Dio yang sudah duluan dibawa karena peluru dikakinya harus dikeluarkan.
*Falshback Off*
"Tentu saja Aku. Memangnya Kau saja yang bisa menyabotase Hp Istriku. Aku juga bisa menyabotase Hp pesuruh bodohmu itu." ucap Sean.
Viana terus mendengarkan. Dia ingin sekali bertanya namun biarlah Kenzie menghilangkan rasa penasarannya dulu. Melalui pertanyaa Kenzie, Viana juga bisa mendengar jawaban yang ingin didengarnya.
"Lalu bagaimana Kau tau rencanaku? Maksudku sejak kapan kau merencanakan ini semua."
Sean membenarkan posisi duduknya.
"Sejak kapan ya? Mungkin sejak kedatangan Istriku." Sean menoleh ke arah. Tatapannya begitu berarti.
__ADS_1
Viana menatapnya penuh keheranan.
Apa maksudnya?. Batin Viana.
"Apa?" Teriak Kenzie.
"Tidak perlu terkejut. Astaga Kenzie Kau kira orang tuaku langsung percaya saat Viana datang kepadaku dan meminta pertanggung jawabanku. Memang awalnya Papa menamparku namun Dia hanya mengikuti permainan Viana.
Setelah diselidiki dan rahasia Viana yang diceritakan pada Mamaku diketahui Papaku, saat itulah mereka tau bahwa Viana datang untuk melindungiku juga melindungimu dari amarah keluarga Armadja. Namun orang tuaku tidak memberi tahuku karena mereka tidak mau aku membunuhmu karena saat itu hubunganku dengan Viana kurang baik dan aku tidak memperdulikannya perasaannya jika Kau mati ditangaku.
Namun sekarang aku tidak membunuhmu karena aku masih memikirkan perasaan Istriku. Dia sudah berkorban banyak untukku." Sean kembali menoleh ke arah Viana dan tersenyum lembut.
"Terima kasih sayang." ucap Sean dengan segala ketampananya.
Viana mengulum senyuman. Bukan karena geli mendengar Sean memanggil sayang, namun karena senang mendengar kata itu dari orang yang dia pikir akan menceraikannya.
"Kapan kau menyadari hal ini?" Kenzie masih sangat penasaran.
"Saat orang suruhanmu menyerang kami dijalan. Apa Kau pikir Aku akan percaya begitu saja saat mereka mengatakan bahwa mereka disuruh Lidya? Aku tidak sebodoh itu langsung percaya bahwa dia yang melakukan semua itu. Aku pun mencari tau dan mendapati kebenaran bahwa Kau yang sudah merencanakan semua ini dan mengkambing hitamkan Lidya.
Awalnya aku marah dan ingin langsung membunuhmu. Namun karena aku sangat mencintai Istriku dan Dia sangat memperdulikanmu, maka Aku mengurungkan niatku berharap kau berubah seperti keinginannya. Namun ternyata kau sangat tidak tau diri. Kau malah menculiknya." tutur Sean sambil memijit pelipis matanya. Dia tidak habis pikir dengan Kenzie.
"Jadi Kau mengikuti permainanku?".
"Tentu saja Kenzie. Aku hanya berpura-pura tidak tau kalau selama ini kesialan yang menimpaku adalah ulahmu. Aku mengikuti alur ceritamu. Bahkan aku harus merahasiakan ini dari istriku agar tidak menjadi beban untuknya. Tapi kau begitu tidak tau malu sampai kau tega menculiknya. Untung saja Erik memberitahukan keberadaannya. Karena itu aku bisa merencanakan ini untuk menangkap kalian." tukas Sean.
__ADS_1
Mata Kenzie membulat. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Adiknya sendiri sudah mengkhianatinya.
"Eriiiiikkkk." Teriakan murka Kenzie menggema diruangan itu.