
Sevina sedang belajar kelompok di rumah David. Mereka terlihat serius mengerjakannya.
"David ini caranya bagaimana? Aku belum paham." ucap Sevina sambil menyodorkan soal matematika yang merupakan pelajaran yang di bencinya.
"Kau ini. Begini saja tidak tau." Gerutu David. Dia mengambil papan tulis mini dan sebuah spidol kemudian menuliskan rumus untuk menjawab soal layaknya guru.
"Lagi pula kenapa harus ada matematika didalam hidup ini. Pusing." Gerutu Sevina.
"Kalau tidak ada matematika, kau tidak akan bisa menghitung uang dan kau tidak akan kemari. Aku heran, kenapa setiap ada pelajaran matematika kau selalu datang kesini." ucap David.
"Karena kau sangat pintar dalam matematika makanya aku kemari." jawab Sevina.
"Huhh dasar." cibir David.
"Anak-anak ini jus dan biskuitnya." ucap Anggun sambil menyerahkan nampan berisi dua gelas jus dan sepiring biskuit cokelat.
"Terima kasih tante." ucap Sevina.
Anggun tersenyum. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. "Kalian lanjutkan belajarnya ya." Anggun bergegas menuju pintu utama untuk melihat siapa yang datang.
"Pak Hans." Anggun terkejut melihat kedatangan Hans yang entah dari mana dia tau alamat rumah Anggun.
"Boleh saya masuk?" tanya Hans.
"Kita berbicara di luar saja ya. Soalnya anakku dan temannya sedang belajar. Aku tidak mau mengganggu mereka. Lagipula tidak enak dilihat orang." ucap Anggun menolak secara halus.
"Baiklah." ucap Hans.
Anggun menyuruh pelayannya menyiapkan teh dan cemilan. Dia dan Hans duduk di kursi depan teras rumahnya.
"Maaf ada apa Pak Hans tiba-tiba datang kesini?" tanya Anggun.
"Begini, saya mau memesan makanan untuk acara di kantor saya." ucap Hans.
"Oh, sebaiknya kita bicarakan saja besok di restoran Pak. Agar Bapak juga bisa melihat semua menu yang ada disana." ucap Anggun.
"Ah iya. Itu maksud saya. Saya datang kesini karena ingin membuat janji denganmu. Saya takut kamu akan sibuk jika saya menelepon jadi saya langsung datang saja." ucap Hans.
__ADS_1
"Iya saya mengerti Pak. Besok kita bisa meeting jam sembilan ya pak." ucap Anggun.
Kemudian teh datang. "Silahkan di minum Pak." ucap Anggun sambil menyodorkan secangkir teh pada Hans.
"Terima kasih." Hans langsung menyeruputnya. "Oh ya, kenapa kau jarang membalas pesan saya?" tanya Hans.
"Maaf Pak. Saya sangat sibuk jadi tidak sempat membalas pesan Bapak." jawab Anggun.
"Padahal saya ingin lebih dekat denganmu. Saya rasa kau adalah wanita yang baik dan bertanggung jawab pada keluarga." ucap Hans sambil tersenyum.
"Saya tidak berniat dekat dengan siapapun Pak. Oh ya sepertinya saya harus menjaga anak-anak." ucap Anggun mengusir Hans dengan halus.
"Baiklah saya mengerti. Anggun, jika kau berubah pikiran, aku akan dengan senang hati menerimamu. Kau adalah wanita yang sempurna." ucap Hans.
"Selamat sore Pak." ucap Anggun.
Hans melangkahkan kakinya menuju mobil. Dia tersenyum melihat Anggun yang berlalu kedalam rumahnya. Jika saja dia bertemu dulu dengan Anggun, dia tidak akan repot-repot berumah tangga dengan Lisa. Wanita yang menjebaknya dengan obat perangsang dan membuat Lisa hamil anaknya. Mau tidak mau dia harus menikahi Lisa dan akhirnya dia membuat surat perjanjian agar dia bisa bebas melakukan apapun meski sudah berumah tangga.
Wajah Anggun tampak gelisah. Dia mengira setelah kejadian waktu di TK, dia akan menjauhinya. Namun Hans malah semakin gencar mendekatinya. Selama ini Hans menghubunginya untuk memesan makanan. Saat Hans menanyakan hal-hal lain Anggun memnag tidak pernah membalasnya. Tapi hari ini Hans sudah berani menyatakan cinta padanya bahkan terkesan memaksa. Anggun menjadi takut jika Hans akan berbuat lebih dari ini dan terus mengganggu hidupnya.
Sevina dan David sudah selesai belajar. "Tante, Sevina pamit pulang dulu ya." ucap Sevina yang menghampiri Anggun.
"David ikut Ma." ucap David.
"Ayo." ajak Anggun.
Mereka pun masuk ke mobil dan pergi ke rumah Sevina. Rumahnya tidak terlalu jauh. Hanya beberapa blok dari rumah Anggun.
Sesampainya disana, Anggun dan kedua anak itu turun. Setelah di persilahkan masuk, dia pun langsung menemui Viana.
"Ada apa Anggun?" tanya Viana.
"Ini, aku ingin menyerahkan laporan keuangan bulan ini." ucap Anggun sambil menyerahkan laporan itu.
Viana menerimanya. Namun dia memperhatikan ada yang berbeda dengan Anggun. "Ada apa?" tanya Viana.
"Hans tadi datang dan menyatakan cintanya padaku." ucap Anggun dengan raut wajah cemas.
__ADS_1
"Hans? Maksudnya mantan suami Lisa?" tanya Viana.
"Iya." jawab Anggun.
"Kenapa dia tidak henti-hentinya menganggumu." Viana berdecak kesal.
"Dia selalu mencari cara agar bisa bertemu denganku. Setiap hari dia makan di restoran kalian dan sesekali meminta bertemu dan memesan makanan dengan jumlah besar namun ujung-unjungnya dia mengajakku mengobrol hal yang pribadi dan haru ini dia sudah melewati batasnya." ucap Anggun.
"Sudahlah. Kau bisa menolak pesanannya kalau kau mau." ucap Viana.
"Tidak, itu sama saja mencoreng nama baik restoran kalian. Aku tidak mau hanya karena ini orang-orang akan menilai buruk restoran yang tidak mau menerima orderan dari customer." ucap Anggun.
"Kau ini. Bagaimana kalau dilakukan penjagaan di rumahmu. Kami akan mengirimkan beberapa pengawal kesana." ucap Viana.
"Ti..Tidak itu tidak perlu. Aku tidak nyaman dengan keberadaan orang lain di rumah itu. Lagi pula banyak CCTV." ucap Anggun.
"Ya sudah. Tapi jika dia datang lagi. Segera hubungi rumahku dan pengawal akan langsung ke rumahmu." ucap Viana.
"Iya terima kasih Vi. Sekarang aku jauh lebih tenang." ucap Anggun.
"Bagaimana mereka?" tanya Viana.
"Mereka masih anak-anak. Apa kau mau aku melihat mereka saling menyukai di usia sepuluh tahun?" tanya Anggun.
"Hahaha iya iya. Aku tidak sabar menunggu mereka dewasa." ucap Viana.
"Kau ini. Nikmatilah dulu menjadi Mama Muda. Nanti kalau sudah tua kau juga akan kesulitan bertarung seperti waktu itu." ucap Anggun.
"Hahaha iya kau benar. Jika aku sudah tua, pinggang encokku tidak akan mampu diajak untuk bertarung."
Anggun tergelak mendengar ucapan Viana. Memang jika bersama Viana, dia akan menjadi lebih tenang.
Sean sedang berada di ruang kerjanya. Dia memandangi foto yang dikirimkan oleh orang suruhannya. Wajahnya tampak sedih melihat foto itu. "Kenapa ada orang yang sejahat itu didunia ini." Sean menghela nafas berat. Dia menelpon si pengirim foto.
"Apa kau sudah melaksanakan apa yang ku suruh?" tanya Sean.
(.................................)
__ADS_1
"Bagus, jangan kecewakan aku. Aku akan menemuimu dua hari lagi." ucap Sean.
Sean mematikan teleponnya. Dia menghapus foto itu sebelum orang lain melihatnya. Dia bergegas turun ke bawah. Ternyata dibawah ada Anggun. Sean tersenyum melihat keakraban Viana dan Anggun. Dia ikut menghambur dan tentu saja cerita soal Hans tidak dibahas lagi karena jika Sean tau, dia bisa saja membangkrutkan usaha Hans dalam semalam.