
Sesampainya di rumah, Sean dan Viana di kejutkan dengan kehadiran Mama dan Papanya. Entah sejak kapan mereka datang.
"Sean, Viana kalian tidak apa apa kan?"
Alya mendatangi mereka dan memeluk mereka bergantian.
"Tidak apa apa Ma" Jawab Sean.
"Bagaimana dengan Lidya?" Rangga yang sejak tadi berdiri dengan tatapan tajam akhirnya membuka suara.
"Dia sudah berada di kantor polisi Pa, Dia akan dihukum sangat berat karena perbuatannya ini" Jawab Sean.
"Bagus, jangan biarkan dia lepas. Seujung jari pun Papa tidak akan membiarkannya keluar lapas. Siapa yang berani bermain dengan keluarga Armadja, Papa tidak akan mengampuninya" Rangga menyorot tajam ke sembarang arah. Tampaknya di benar - benar marah.
Viana diam tak bergeming.
Bagaimana kalau Papa tau bahwa Kakak tiriku berniat jahat pada Sean. Apakah dia akan bernasib sama seperti Lidya?
"Sudah lah Pa yang penting Sean dan Viana baik baik saja" Alya berusaha menenangkan Rangga.
"Begini lah akibatnya kalau kau tidak membawa pengawal. Kau hampir membahayakan keselamatnmu dan istrimu" Kini Rangga memarahi Sean.
"Iya Pa, mulai besok aku akan membawa pengawal" Sean berusaha meyakinkan Rangga.
"Kalau sudah begini saja baru kau menurut" Gerutu Rangga.
Sean hanya diam, bagaimana pun juga yang di ucapkan Papanya ada benarnya. Jika saja Sean menuruti Papa dan Mamanya tentu hal ini tidak akan terjadi.
"Dan kenapa kalian kacau sekali. Pakaian kalian juga lusuh dan berkeringat" Alya sejak tadi memang memperhatikan mereka.
__ADS_1
"Tidak apa apa Ma, bukan hal penting" Kata Sean.
"Ya sudah, kalian istirahat saja. Papa dan Mama mau pulang" Kata Rangga.
"Loh kenapa cepat sekali Pa" Protes Sean.
"Berisik, di tinggal berduaan saja pura pura protes" Sindir Rangga.
"Sudah Pa, kenapa senang sekali menggoda anak sendiri. Sudah ya kami pulang dulu" Alya menarik tangan Rangga dan mereka segera keluar.
Sean menghela nafas panjang.
"Ayo" Ajak Sean. Viana mengangguk dan melangkah mengikuti Sean hingga ke kamar. Mereka mandi secara bergantian dengan Viana terlebih dahulu karena ketika Sean mandi duluan, maka akan memakan waktu lama.
Pada malam harinya..
Sean dan Viana sudah selesai makan malam dan bermaksud hendak tidur. Pintu kamar sudah ditutup. Viana hendak berjalan menuju Ranjang namun tiba - tiba Sean memeluknya dari belakang. Viana menoleh ke arahnya.
"Janji apa?" Tanya Viana.
"Jangan pura - pura bodoh atau aku akan melahapmu semalaman. Sudah seminggu aku bersabar dan menantikan malam ini" Bisik Sean sambil mencium pundak Viana.
Viana tersernyum. Dia mengangguk pelan.
Sean langsung menggendong tubuhnya ke atas Ranjang dan merebahkannya perlahan. Dengan menatap mata Viana dengan penuh cinta dan gairah.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu" Ucap Sean.
Viana sangat senang mendengarnya. Sean menyatakan cintanya lagi. Tapi haruskan menyatakan cinta saat sedang ada maunya? Terserah lah dia adalah Sean Armadja yang omongannya tidak bisa di bantah.
"Aku juga sangat mencintaimu" Balas Viana.
Perlahan Sean mencium kening Viana dengan lembut.
Viana merasakan sebuah kecupan kasih sayang yang begitu hangat dan penuh cinta dari suami yang sangat dia cintai.
Sean memulai ritual suami istri dengan begitu lembut dan penuh cinta. Namun karena seminggu tidak di beri jatah, lama kelamaan Sean menjadi buas dan tak terkendali. Dia menikmati segala hentakan dan kenikmatan yang sudah dia nantikan selama seminggu.
Viana mendesah merasakan nikmat namun dia juga merasa sakit karena Sean begitu buas dan liar. Tidak seperti biasanya, dia akan melakukannya dengan lembut.
Dia sudah seperti singa yang kelaparan. Suara desahan dan erangannya memenuhi ruang kamar itu. Dia terlihat begitu bergairah. Beruntung kamar itu kedap suara jadi hanya mereka saja yang dapat mendengarnya.
Sebuah lenguhan panjang dari keduanya dan permainan berakhir. Sean ambruk di samping Viana dengan senyum kepuasan. Dia seperti orang yang habis balas dendam. Sean menoleh ke samping dan berkata.
"Kau sangat menggigit" Kata Sean.
Viana tersenyum malu, dia hendak mengambil handuk Sean langsung menarik tangannya hingga dia jatuh ke pelukan Sean.
"Sean aku harus mandi" Viana berusaha bangkit lagi namun Sean malah menahan tubuhnya.
"Kita mandi bersama" Sean tersenyum nakal. Dia berdiri dan menggendong Viana ke kamar mandi tapi lagi lagi dia ingin melakukan pertempuran tadi. Akhirnya mereka melakukannya di dalam bath up dengan posisi yang sangat menguntungkan Sean.
__ADS_1
Selesai mandi, mereka langsung tertidur pulas karena hari ini sungguh melelahkan. Siang hari bertarung di jalanan dan malam harinya bertarung di atas ranjang.