
Sean dan Viana pulang ke rumah. Saat itu hari sudah gelap. Mereka terlambat pulang karena ada meeting dadakan dengan kliennya sekaligus makan malam. Viana terlihat sangat lelah karena pertempuran yang sangat menyita waktu dan tenaganya. Sean benar-benar menikmati obat perangsang itu.
"Mamaaaa." Reyza berlari dan menghambur ke pelukan Sean.
"Kau memanggil Mama tapi kenapa memeluk Papa?" tanya Viana.
"Tidak apa-apa Ma." ucap Reyza sambil tersenyum.
"Aku rasa dia takut kau membantingnya." bisik Sean.
"Apa?"
"Kemarin saat kau berlatih dengan salah satu pengawal kita, Reyza melihatmu membantingnya diatas matras." bisik Sean lagi.
Viana melirik Reyza yang masih memeluk kaki Papanya. Dia pun berjongkok tepat didepan Reyza. "Sini peluk Mama." Viana merentangkan kedua tangannya.
Reyza terlihat ragu. Dia masih diam saja di tempatnya. "Mama tidak akan membanting anak tampan Mama." ucap Viana seraya tersenyum.
"Mama janji?" Reyza mengangkat jari kelingking mungilnya dan Viana juga mengangkat jari kelingkingnya dan menyatukan dengan jari kelingking Reyza.
"Kau adalah hidup Mama. Mama tidak akan pernah menyakitimu." ucap Viana. Dia kembali merentangkan tangannya. Reyza pun memeluknya.
"Anak pintar." Puji Viana. "Sudah makan?" tanya Viana.
"Sudah Ma. Tadi makan bersama kakak." jawab Reyza.
Namun tiba-tiba Sevina datang dan memperlihatkan sebuah gambar metamorfosis pada kupu-kupu. "Ma, lihat apa ini sudah bagus?" tanya Sevina.
Viana memperhatikan dengan seksama. Namun gambar pertama membuatnya membelalakkan mata. Dia ingin menutupi mata Reyza namun Reyza sudah keburu melihat.
"Astaga." ucap Sean dengan nada pasrah.
Dengan cepat Reyza pun langsung memanjat tubuh Papanya.
"Jauhkan dariku kak." ucap Reyza yang kini sudah berada di pundak Sean.
"Sevina. Simpan gambarmu atau Reyza tidak akan turun." ucap Sean.
Sevina menyembunyikan gambarnya ke belakang tubuhnya. "Maaf Pa Sevina lupa kalau Reyza takut ulat." ucap Sevina.
"Aku tidak takut kak. Aku hanya jijik." Bela Reyza.
"Ya ya ya. Baiklah sekarang turun, jagoan." ucap Sean sambil menurunkan Reyza ke lantai.
"Apa yang terjadi jika tidak ada Papa saat kau melihat ulat?" tanya Sean.
__ADS_1
"Reyza akan berlari ke kamar Pa." ucap Reyza.
"Lalu kenapa kau tidak lari ke kamar?" tanya Sean.
"Kan ada Papa. Untuk apa berlari ke kamar." jawab Reyza.
"Sepertinya kita harus menghilangkan phobia Reyza." ucap Viana.
"Dengan apa Ma?" tanya Sean.
(Di depan anak-anak mereka menggunakan panggilan Mama dan Papa agar terdengar lebih sopan)
"Sudahlah Pa kita pikirkan nanti." ucap Viana. Dia melangkah pergi bersama Sevina. Di kamar Sevina, Viana melihat lagi gambar yang tadi Sevina tunjukkan. Itulah Viana. Dia tidak mau ketinggalan satu kesempatan pun untuk mendukung semangat belajar anaknya.
Setelah dari kamar Sevina, Viana bergegas ke kamarnya menemui Sean. Di kamar itu Sean terlihat sedang mengotak atik Hpnya. Sepertinya dia sedang membalas beberapa pesan dari kolega nya. Viana menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Mereka juga sudah mandi di hotel tadi dengan pakaian ganti yang diantar pengawal Sean.
"Untung tadi sudah singgah di masjid untuk sholat Isya' jadi sampai rumah langsung istirahat." ucap Sean sambil berjalan mendekati Viana dan ikut rebahan disamping Viana.
"Menurutmu kenapa Lisa sampai nekat memberi obat perangsang itu?" tanya Viana.
"Kenapa membahasnya lagi. Aku kan jadi malas." ucap Sean sambil menutupi matanya dengan tangannya.
"Aku hanya heran saja. Apa kau setampan itu?" tanya Viana.
"Entahlah, coba periksa." ucap Sean.
"Hahaha kau pintar sayang." Sean mengusap kepala Viana dengan lembut.
"Sudah berapa orang yang kita jumpai ternyata bermuka dua." ucap Viana.
"Banyak. Gilang, Dio, Erik dan....." Sean menggantung kalimatnya.
(Mau bilang Kenzie rada takut)
"Apa kau setakut itu menyebutkan nama orang yang sudah meninggal?" tanya Viana.
"Tidak, hanya saja.....dia bunuh diri." ucap Sean.
"Ibu tiri Alena juga bunuh diri. Tapi mereka tidak takut menyebutkan namanya." ucap Viana.
Tiba-tiba saja, terdengar suara ketukan dari luar jendela. Sean dan Viana terdiam.
"Malam apa ini?" tanya Sean tanpa menoleh. Wajahnya menjadi tegang.
"Ma...Malam jumat." ucap Viana tak kalah tegangnya.
__ADS_1
"Siapa yang mengetuk jendela kamar pada malam jumat?" tanya sean dengan nada ketakutan.
"Kita akan segera mengetahuinya." ucap Viana.
Dia bangkit dari tidurnya begitu juga dengan Sean. Viana dan Sean berjalan menuju jendela kamar mereka. Lagi-lagi suara ketukan kembali terdengar dan itu membuat langsung merasa lebih takut lagi.
Dari luar, mereka melihat bayangan orang gendut dengan rambut brekele dan melayang diudara. Viana hendak membuka tirai jendela namun dihalangi oleh Sean. "Ada baiknya kita tidak usah kepo." ucap Sean.
"Aku ingin melihat bagaimana hantu terbang." ucap Viana.
"Kenapa kau malah memperkeruh suasana." bisik Sean.
Viana diam saja. Dia megulurkan tangannya hendak menyibak tirai itu. Sean berusaha mencegahnya namun Viana tetap bersikeras ingin membukanya.
Viana sudah menyentuh tirai tesebut dan dengan cepat dia menyibakkan tirai jendelanya.
"Aaaaaaaaaaaa." Teriak Sean dan Viana berbarengan dengan orang yang sedang membersihkan kaca jendela dari luar. Mereka sama-sama terkejut.
"Dadang!!" ucap Sean. Dia membuka jendela agar bisa berbicara dengan Dadang.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" tanya Sean.
"Saya sedang membersihkan kaca jendela Tuan. Tadi pagi saya sakit jadi saya melanjutkan pekerjaan saya ketika sudah sehat." ucap Dadang.
Viana memperhatikan serangkaian daun dipeohonan yang ternyata bayangan daun itu yang membentuk rambut brekelenya. Dan Dadang terlihat terbang karena dia menggunakan tali pengaman saat membersihkan jendela itu. Tubuhnya yang gemuk membuatnya susah untuk menaiki tangga.
"Dadang, turunlah. Tidak apa-apa. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu besok saja." ujar Viana.
"Benarkah Nyonya?" tanya Dadang mencoba meyakinkan.
"Benar. Sekarang turunlah." ucap Sean. Turunlah agar kami tidak terkena serangan jantung. Batinnya.
Setelah Dadang turun, Sean dan Viana kembali turun untuk menidurkan anak mereka. Sepanjang berjalan. "Bahkan kau mengira dia juga hantu. Dasar!" cibir Sean.
"Tapi kau yang sejak awal ketakutan duluan." balas Viana.
Sesampainya dibawah, mereka menemui anak-anak mereka dan membawanya ke kamar untuk ditidurkan. Viana dengan Sevina dan Sean dengan Reyza. Entah kenapa Reyza lebih lengket dengan Sean sedangkan dengan Viana dia merasa sedikit takut. Berbeda dengan Sevina yang sangat suka berada di dekat Mamanya. Apalagi jika Mamanya sedang bertarung, tentu dia akan ikut juga. Buah memang jatuh tak jauh dari pohon nya.
Setelah kedua anaknya tertidur. Secara bergantian mereka pun masuk ke ke kamar mereka dan mencium mereka.
Setelah itu mereka kembali ke kamar mereka dan tidur. "Vi, sepertinya obat perangsang itu masih bereaksi." bisik Sean.
Mata Viana langsung membulat. Tubuhnya sangat lelah dan tidak mungkin baginya melayani Sean lagi.
"Aku hanya bercanda sayang. Ayo tidur." ucap Sean sambil mencubit pipi Viana dengan gemas.
__ADS_1
Viana menghembuskan nafas lega. Dia ingin mencubit Sean namun itu hanya akan menambah perdebatan dan dia sangaat lelah untuk itu.