Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Wangi Parfum Lain


__ADS_3

Sore harinya, Sean baru saja sampai di rumah. Ia disambut Reyza yang sedang bermain sepeda di pekarangan rumah.


"Papa!" Reyza menghambur memeluk Sean.


"Wah sepertinya kau senang sekali." Sean mengusap kepala Reyza.


"Aku sangat senang karena Oma Alya menepati janjinya membawakan salju!" seru Reyza.


"Hah?" Sean mengernyitkan dahinya.


"Bagus Sevina. Kau meraih rekor baru lebih cepat lima detik. Sekarang, ayo kita lomba lari. Jika kau menang, maka Mama akan memberikan pelatihan yang lebih dari ini!"


Dari kejauhan terdengar suara Viana sedang memberikan instruksi pada Sevina.


"Satu, dua, tiga!" Begitu Viana selesai menyebutkan angka terakhir, mereka pun segera berlari dari samping rumah yang merupakan garis startnya.


Saat mereka berlari melintasi Sean, Viana langsung berseru. "Sudah pulang, Pa!"


"Sudah!" teriak Sean agar didengar Viana yang sudah menjauh.


"Masuklah dulu, kami hampir selesai lomba lar,,,,,," Suara Viana pun hilang karena ia semakin jauh dari Sean. Bagaimana tidak. Rumah mereka sangat besar dan luas. Tentu jarak tempuh untuk mengitari rumah menjadi jauh.


"Viana, Viana." Sean menggeleng melihat istrinya. Ia pun segera mengajak Reyza masuk.


"Kau tidak ikut berlari?" tanya Sean sambil berjalan beriringan dengan Reyza.

__ADS_1


"Tadi sudah berlari, Pa," sahut Reyza.


"Oh ya? Wah hebat!" Sean mengusap kepala Reyza.


"Ya, Pa. Dari batas pintu depan sampai teras rumah," sambung Reyza.


"Ya, itu juga hebat. Setidaknya kau berlari meski jarak satu meter. Oh ya, mana salju yang dibawa Oma?" tanya Sean.


"Ada! Sebentar Pa." Reyza segera berlari ke kamarnya.


"Di kamar? Apa dia menyimpannya di dalam bathup?" gumam Sean.


Tak berselang lama, Reyza kembali dari kamarnya. Membawa sebuah bola kristal salju. "Ini, Pa."


"Ya, Pa, tetapi kata Oma Alya, meskipun ini mainan, tetapi belinya di Amerika, jadi anggap saja salju yang asli."


"Anak baik." Sean tersenyum sembari mengusap kepala Reyza. "Oh ya, jam berapa Oma Alya kesini?" tanyanya.


"Tadi siang, Pa. Tapi hanya sebentar saja karena katanya mereka lelah karena sehabis dari bandara, langsung kesini."


"Papa." Sevina berlari menghampiri Sean dan memeluknya.


"Sudah selesai latihannya?" tanya Sean.


"Sudah, lihat sepatu baruku, Pa." Sevina menunjuk kakinya yang dibalut sepatu olahraga lengkap dengan tanda tangan atlet favoritnya.

__ADS_1


"Jadi karena itu kau memecahkan rekor lari mu hari ini?"


"Ya, Pa!" seru Sevina.


"Anak-anak, mandilah, sudah sore," ujar Viana.


Sevina dan Reyza pun mengangguk, lalu pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri.


"Sayang, bagaimana rapatnya?" tanya Viana.


"Rapatnya berjalan dengan lancar dan tak perlu kau khawatirkan." Sean merangkul bahu Viana dan mengajaknya ke dalam kamar.


Viana yang merasakan aroma yang lain, langsung mengendus jas yang dipakai Sean. "Kenapa ada wangi lain di jas ini? Wanginya sangat segar seperti parfum wanita. Apa yang kau lakukan dengan Stevi?" Menatap curiga.


"Tidak ada, mungkin ini wangi dari tas berkas yang dilempar Zein padaku tadi."


"Tas berkas? Apa dia menyemprot tas berkas dengan parfum?"


"Apa kau lupa jika dia punya perusahaan parfum milik orang tua Om Dirga dan Mama Alya?"


"Benar, tetapi seharusnya,,,,,,"


"Sudahlah sayang, lebih baik kita mandi dan segarkan diri dan pikiran kita." Sean kembali merangkul Viana dan mengajaknya melanjutkan langkah menuju kamar.


Viana hanya diam sembari memikirkan kejadian-kejadian yang merupakan kemungkinan yang terjadi dan kini mengotori pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2