
Seminggu telah berlalu hubungan Viana dan Sean semakin lengket saja. Berita bahwa mereka sudah menikah telah tersebar luas. Walaupun banyak berita yang simpang siur mengenai kabar itu, Sean telah menepisnya dengan pernyataan resepsi pernikahan yang akan di selenggarakan kurang dari 3 minggu lagi.
Hari ini sebuah hujan badai menerpa Sean. Pasalnya tadi malam dia gagal melakukan ritual. Itu di karena kan Viana sedang datang bulan sehingga dia tidak bisa melakukan kegiatan kesukaannya.
Sean terus saja bersikap dingin pada Viana.
Sejak sarapan, di dalam mobil, hingga sampai di kantor Sean tetap diam saja.
Viana sangat kesal terhadap sikapn Sean, namun tidak mungkin baginya menyiram bensin di atas bara api.
Sesampainya di ruangan, Sean menutup pintu dan mulai fokus dengan laptopnya.
Viana menghembuskan nafas panjang.
Dia mencoba melupakan sikap dingin Sean.
Jam istirahat pun tiba, Viana bergegas ke ruangan Sean untuk mengingatkannya agar makan siang.
__ADS_1
"Sean ayo kita makan siang" Ajak Viana.
"Kau saja aku tidak lapar" Jawab Sean tanpa menoleh dan fokus pada laptopnya.
Viana mengepalkan tangannya.
"Sean, jika tidak makan tepat waktu kamu bisa sakit" Kata Viana.
"Pergi lah, aku tidak butuh ceramah" Masih tidak menoleh.
"Dengar ya Tuan Muda, aku tidak tau apa masalahmu. Jika aku tidak bisa memberimu jatah malam, itu bukan kesalahanku karena aku wanita sehat yang mestruasi setiap bulan" Sorot mata penuh kekesalan.
Sean yang mendapat perlakuan seperti itu tak kalah emosinya. Dia berdiri dan mencengkram lengan Viana.
"Berani sekali kau melakukan hal tadi" Sean menatap kesal.
"Aku hanya ingin kamu menyadari, jika yang kamu lakukam hari ini salah. Bagaimana bisa kamu mendiamkan istrimu karena sedang PMS" Kata Viana.
__ADS_1
"Sekarang kau berani menyalahkan aku" Sekarang tangan Sean berada di pinggang Viana dan menariknya sehingga Viana terkunci dalam peluknya.
"Aku tidak menyalahkanmu, aku hanya tidak mau di perlakukan seperti itu sa...sayang" Lidah Viana seperti mati rasa saat mengatakan itu. Tapi memang itu lah yang bisa membuat Sean luluh. Dan benar saja, Sean langsung luluh. Dia merenggangkan pelukannya.
"Apa tadi kata - kata terakhirmu, aku tidak dengar" Kata Sean.
"S-s-s-sayang" Ucap Viana. Rasanya lidahnya benar benar keseleo.
"Katakan dengan penuh cinta" Sean melepas pelukannya dan melipat tangannya di dada.
"S-sayang, ayo makan siang" Viana tersenyum manis dan memegang kedua tangan Sean.
"Sepertinya kau tidak bisa makan kalau tidak bersamaku. Baik lah" Jawab Sean yang merangkul bahu Viana mesra dan menuntunnya keluar ruangan.
Rasanya Viana akan meledak. Bayangkan saja dia harus bersikap semanis mungkin untuk membujuk Sean. Itu jelas bukan dirinya yang sejak dulu tidak pernah bersikap lembut pada pria. Bahkan Erik juga sering mendapat pukulan darinya saat sedang bersenda gurau. Dia tidak segan menampol atau memukul orang yang bercanda dengannya. Walau bagi Viana itu pukulan kecil, tapi bagi orang lain itu cukup menyakitkan karena tenaga monsternya.
Mereka makan di cafe dekat kantor karena hari ini mereka akan pergi ke kota C untuk melakukan meeting di salah satu anak perusahaan dan tentu saja hanya mereka berdua dan Kevin tidak akan ikut. It will never happen, itu tidak akan pernah terjadi. Karena pada akhirnya Kevin akan mendapat apes jika sedikit saja dia membuat Sean cemburu. Bisa jadi bukan hanya ban mobilnya saja yang hilang, tapi mesin atau bahkan kerangka mobilnya juga akan ikut hilang.
__ADS_1