Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Gempar


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Restoran Sean semakin ramai saja. Berkat kerja keras Anggun dan semua kreasi barunya, pelanggan di restoran itu melonjak drastis. Rasa masakan yang enak dan pelayanan yang memuaskan membuat para pelanggan rela mengantri demi bisa makan disana. Padalah restoran itu sangat luas namun tetap saja tidak cukup menampung pelanggan yang terus berdatangan.


Viana bergegas menjemput Sevina karena saat ini jam pulang sekolah. Sesampainya disana, Viana yang masih duduk didalam mobil mengurungkan niatnya untuk turun kala melihat sepasang suami istri sedang berdebat di depan gerbang sekolah. Tidak, lebih tepatnya bertengkar. Diantara mereka sedang berdiri anak mereka yang menyaksikan pertengkaran mereka sambil menangis. Dan lebih parahnya lagi, mereka jadi tontonan banyak orang. Namun seorang wanita tak jauh dari mereka terlihat sedang menangis dengan kondisi rambut yang seperti habis kena jambak namun Viana tidak bisa melihat wajahnya karena tertutupi tubuh orang lain. Dan ternyata yang bertengkar adalah Lisa dan suaminya Hans.


Viana bergegas turun dan melihat lebih jelas siapa perempuan yang sedang menangis itu karena dia mengenal pakaian yang digunakan wanita itu. Namun saat seorang anak yang berdiri dibelakang wanita itu terlihat, sontak Viana terkejut karena dia adalah Anggun. Beberapa orang memvideokan pertengkaran mereka.


"Anggun." Viana berjalan mendekati Anggun yang masih menangis.


"Vianaaa." Anggun memeluk Viana dengan erat. Viana juga memeluk David.


"Anggun, apa yang terjadi?" tanya Viana sambil membantu merapikan rambut Anggun yang berantakan.


"Oh jadi si pelakor ini temanmu ya. Katakan padanya agar bisa menjaga diri dan tidak menggoda suami orang." Teriak Lisa.


"Tutup mulutmu. Atas dasar apa kau menuduh orang sembarangan ha? Anggun bukanlah pelakor seperti tuduhamu." Viana terlihat begitu emosi. Sedangkan Anggun masih tertunduk dan memeluk David yang juga menangis.


Pada saat itu, Sevina datang dan menghampiri Viana. "Sevina, ajak David ke mobil ya." ucap Viana dengan lembut.


"Iya Ma. David ayo." ajak Sevina.


"Tidak, aku mau melindungi Mamaku." ucap David yang terus memegangi tangan Anggun.


"Ada Mamaku. Sepuluh preman pun tidak akan bisa menyentuh Mamamu. Ayo, ini urusan orang tua." ucap Sevina.


"David pergilah ke mobil besama Sevina ya. Mereka tidak akan bisa melukai Mamamu selagi ada tante." ucap Viana dengan lembut.


"Iya Ma." Sevina menarik tangan David agar ikut bersamanya ke mobil. "Selly ayo ikut. Jangan disini, ini masalah orang tua." ajak Sevina kepada Selly yang sedang menangis.


Selly melangkah mendekati Sevina dan ikut bersamanya ke mobil. Lisa ingin melarang, namun dia akan kalah telak saat Sevina menceramahinya di depan banyak orang.


"Dengar ya. Temanmu ini chattingan dengan suamiku dan beberapa kali makan bersama di restoran. Ini fotonya." ucap Lisa sambil memperlihatkan screen shoot isi chat Hans pada Anggun dan foto saat mereka makan bersama di restoran.


"Lisa, ayo kita bicarakan ini ditempat lain." ucap Viana.

__ADS_1


"Tidak, aku ingin membuatnya malu sekalian." ucap Lisa. Hans hanya terdiam. Dia tidak mungkin memarahi Lisa ditempat ramai beginin.


"Sekarang aku tanya. Apa kau buta? Lihatlah isi percakapan ini. Suamimu terus mengirimi dia pesan namun dia tidak pernah membalasnya. Hanya sekali itupun saat Hans bertanya apakah Anggun bisa menerima orderan makanan yang banyak. Dan foto ini? Anggun adalah Manager di restoran ini. Saat suamimu memesan makanan dengan jumlah banyak, dia menemui Anggun di restoran ini." ucap Viana dengan sedikit menaikan nada suaranya.


"Aku tidak peduli. Dia yang salah karena Hans menyukainya." ucap Lisa dengan emosi yang meledak.


"Apa? Apa kau buta? Suamimu lah yang menggodanya seharusnya kau marah padanya bukan pada iparku." ucap Viana.


"Apa? Ipar?" Hans terlihat terkejut dengan perkataan Viana.


"Ya, dia adalah salah satu anggota keluarga Armadja. Almarhum suaminya adalah kakak dari suami Raya Armadja. Dan kau tau apa yang terjadi jika kau berani bermain-main dengan keluarga suamiku? Apa kau bosan hidup enak?" tantang Viana.


"Tidak bukan begitu Nona. Lisa sudahlah aku yang salah karena aku bosan denganmu. Dia lebih menarik darimu. Jangan marahi dia atau aku akan menceraikanmu." ucap Hans dengan tatapan serius.


Viana dan Anggun terkejut mendengar kalimat Hans yang begitu saja terlontar dari mulutnya. Segampang itu dia bilang cerai pada Lisa.


Lisa terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan Hans. Suaminya tega menghina dirinya di depan orang lain. "Hans." ucapnya pelan sambil berlinang air mata.


"Dasar laki-laki pengecut. Tega sekali kau berkata begitu pada istrimu sendiri." ucap Viana dengan tatapan tajam.


"Maaf, tolong videonya di hapus jika ibu-ibu sekalian tidak ingin suaminya berurusan dengan suami saya. Tolong ya." ucap Viana pada semua ibu-ibu yang tadi memvideokan mereka.


Seketika mereka menghapus video itu. Mereka tidak mau jika suami mereka sampai kehilangan pekerjaannya karena video itu. Dan setelahnya mereka membubarkan diri.


"Lisa." Viana menyentuh pundak Lisa. Dia merasa tidak enak karena kehadirannya membuat suaminya malah menghinanya. Tapi jika dia tidak ada tentu Anggun yang akan menjadi korban.


Lisa menoleh. Dia menyeka air matanya. "Apa kau puas? Setelah ini suamiku pasti menceraikanku." ucapnya disela isak tangisnya.


"Maafkan aku. Jika saja kau mencari tempat sepi untuk bertengkar, kau tidak akan semalu ini. Kau terbakar cemburu sehingga kau tidak bisa melihat kesalahan suamimu. Anggun adalah wanita yang baik. Kau tidak boleh menghinanya begitu saja didepan banyak orang." sambung Viana.


Lisa terdiam. Yang dikatakan Viana benar. Dialah yang bersalah. Karena surat perjanjian itu, dia tidak bisa memarahi Hans dan malah melabrak Anggun. Dia berjalan menghampiri mobil Viana dan membawa Selly pergi dari situ.


"Anggun, apa kau baik-baik saja?" tanya Viana.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih Vi. Sekali lagi kau sudah menolongku." ucap Anggun sambil menyeka air matanya.

__ADS_1


"Ya sudah, sebaiknya kau pulang denganku saja. Biar mobilmu dibawa supirku." tawar Viana.


Anggun mengangguk. Jujur saja dia masih gemetaran karena tindakan Lisa tadi.


Viana menyuruh supirnya mengemudikan mobil Anggun.


Pada malam harinya.


Di ruang kerja Sean.


Viana sedang membantu Sean bekerja dengan laptopnya.


"Ku lihat dari CCTV mobilmu, kau habis bertengkar dengan orang tua siswa." ucap Sean.


Viana menghela nafas. "Dia yang memulainya." ucap Viana.


"Ya aku tau. Kau selalu saja tidak pernah cerita kalau ada masalah. Karena itu aku selalu mengecek CCTV mobilmu." ucap Sean sambil mematikan laptopnya karena pekerjaannya sudah selesai.


"Aku tidak ingin memperpanjang semuanya. Sudahlah Sean ayo tidur."


Viana berdiri dan berjalan ke kamar mereka. Namun tiba-tiba Sean memeluknya dari belakang.


"Sean lepaskan." ucap Viana.


"Kenapa? Apa kau tidak suka dipeluk suami sendiri?" tanya Sean sambil tersenyum.


Viana menoleh dan tersenyum juga. "Kau tidak berubah." ucapnya.



"Sudahlah jangan banyak omong." Sean mengangkat tubuh Viana ke ranjang dan mereka pun melakukan pertempuaran malam itu.


Selesai bertempur dan mandi, Sean membantu mengeringkan rambut Viana lalu mereka tertidur. Dengan cepat Viana menutup matanya dan tertidur pulas. Memang melelahkan mengurus dua anak aktif dan melayani suami pada malam harinya.


Sean mencium kening Viana. "Meskipun tenagamu sekuat Hulk dan kecerewetanmu melebihi Oma Laura, tapi aku sangat mencintaimu. Selamat tidur istriku sayang."

__ADS_1



__ADS_2