Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Episode Spesial -Sirkuit


__ADS_3

Hari berganti Minggu. Hari ini, sesuai kesepakatan, Viana akan balapan dengan Lyana di sirkuit yang telah mereka sewa selama satu hari itu.


Mereka tampak sedang pemanasan sebelum melakukan balapan. Tak hanya mereka, di sana juga ada Sean dan Zein yang hanya menjadi penonton saja. Melarang pun percuma, karena balapan adalah yang disukai dua wanita tangguh itu.


Selesai pemanasan, Viana dan Lyana pun mulai melakukan balapan, tetapi hanya sepuluh putaran saja.


Mobil telah melesat setelah menerima aba-aba dari bendera yang dikibarkan.


Suara dengung mobil pun terdengar. Sean dan Zein berdiri menyaksikan perlombaan istri-istri mereka.


"Semua ini karena salahmu." Sean menyikut Zein.


"Aku sudah berusaha menolong mu." Zein balas menyikut Sean.


"Kalau begitu ini salah kita berdua."


"Kau yang meminta tolong dan sekarang aku ikut disalahkan?" Zein menatap kesal.


"Sudahlah, kali ini kau harus membantu ku mempersiapkan kejutan untuknya."


Zein mengernyitkan dahinya. "Bajunya sudah siap?"


"Sudah, aku bekerja keras untuk itu."


"Aku tidak yakin jahitannya akan bagus. Kau kan tukang jahit amatir." Zein meledek.


"Entah kenapa semua orang sangat menyukai mu yang katanya ramah, tapi denganku, kau sangat menyebalkan."

__ADS_1


"Iya, benar juga, ya. Kau juga dikenal galak, tapi di dekat Viana kau selalu ciut."


Ucapan Zein membuat Sean semakin kesal saja.


"Om Dirga sangat baik, tapi kau sangat menyebalkan. Aku galak menurun dari papaku. Kau menyebalkan seperti ini menurun dari siapa? Tante Celin tidak menyebalkan, dia hanya cerewet seperti Oma Laura."


"Aku menyebalkan khusus untukmu."


"Papa dan Om Dirga juga tidak pernah cocok kalau berdebat, tapi mereka saling menyayangi. Dan kau? Apakah kau menyayangiku?" Sean menatap Zein serius.


Zein menatap lekat Sean. Kedua tangannya memegang pundak Sean. "Aku sangat menyayangi mu, Sean, ayo, cium aku, peluk aku." Zein mendekati Sean yang langsung mendorongnya.


"Cih, hentikan itu. Benar-benar menjijikkan! Aku menyesal menanyakan itu padamu. Dasar sepupu aneh." Sean mengibaskan kemejanya yang tadi dipegang Zein.


"Hahaha, kau yang memancing ku." Zein tertawa geli melihat ekspresi Sean.


"Ini semua salah mu, Ly, kalau saja kau tidak menyelip ku, pasti aku akan menang," gerutu Viana.


"Hahaha, kau saja yang memang sejak dulu tidak bisa mengalahkan aku." Lyana tertawa kencang.


"Ada apa?" tanya Sean sambil mengusap pipi Viana.


"Aku kalah."


"Kalah menang itu sudah biasa, kenapa harus marah?"


"Aku kalah di putaran terakhir dan itu sangat menyebalkan!"

__ADS_1


"Sesuai perjanjian, yang menang berhak mengajak suami yang kalah untuk balapan."


"Apa? Balapan? Taruhan macam apa itu? Tidak, aku tidak mau!" Sean menolak dengan wajah tegang. Dibawa balapan dengan Viana sudah cukup menyeramkan, dan sekarang ia harus satu mobil dengan Lyana. Apa ini mimpi?


Zein tertawa lebar mendengarnya.


"Itu sudah perjanjian. Yang menang membawa suaminya yang kalah lima putaran, sedangkan yang kalah membawa suami yang menang sebanyak dua putaran."


Seketika senyuman Zein menghilang.


"Apa? Tidak! Aku tidak mau! Kau memang tidak secepat Lyana, tapi cara bawa mobilmu bisa seperti orang mabuk. Aku tidak mau!"


"Kalau tidak mau, maka kami akan pergi liburan tanpa kalian," jelas Viana.


"Liburan? Tanpa kami? Tidak, jangan!" Sean menggeleng.


"Iya, jangan pergi tanpa kami." Zein menambahkan.


"Kalau begitu, apa masih mau menolak?" tanya Lyana.


Kedua suami itu pun menggeleng. Dengan terpaksa mereka ikut aturan para istri.


Sean yang bersama Lyana hanya mampu memegang pegangan di atas dengan dua tangan dan mengenakan sabuk pengaman yang kencang dengan wajah tegang sepanjang balapan.


Sedangkan Zein yang bersama Viana hanya mampu menutup mata sambil terus berucap.


"Astaghfirullahalazim! Lindungi hamba, Ya Allah."

__ADS_1


__ADS_2