
"Wah, hebat sekali." Pak Ngatiran berdecak kagum.
"Tentu saja. Sudah sejak lama saya mengincar dirinya. Dan beberapa bulan yang lalu, saya berhasil mendapatkan video tersebut lalu menjadikannya alat untuk mendapatkan dirinya."
"Jika kau sudah mendapatkan gadis yang kau mau, kenapa malah kesini?"
"Dia belum mau saya sentuh. Saya tidak bisa melakukannya secara paksa karena saya sangat mencintai dirinya."
"Ternyata kau suami yang baik. Saya bangga padamu." Pak Ngatiran menepuk bahu Didi. "Tetapi pemaksaan bukan hal yang tepat. Jika kau mencintai dirinya, lepaskan dia. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya. Memaksa tidak akan membuatnya mencintai dirimu."
"Ya, Bapak benar, tetapi saya akan tetap memperjuangkan cinta saya padanya. Segalanya akan saya lakukan untuknya. Tetapi melepaskannya? Itu hal mustahil."
"Saya pernah mencintai wanita yang lebih muda dari saya. Saat itu di tengah kabur dari suaminya yang tidak berguna. Saya kira, dengan berbuat baik padanya akan membuatnya menaruh hati pada saya. Tapi ternyata, dia malah memilih suaminya yang dulunya hanya supir taksi itu."
"Lalu, apa yang Bapak rasakan sekarang?"
"Saya merasa bahagia karena melihat wanita itu bahagia dengan suaminya yang sangat merepotkan dan tidak berguna. Dengan melihatnya tersenyum bahagia, maka saya juga bahagia."
"Wah, Pak Ngatiran sangat berbesar hati. Saya jadi kasihan pada wanita itu. Kenapa dia mencintai orang yang tidak berguna. Tapi, kalau dia bahagia, tentu itu berita yang bagus."
__ADS_1
"Ya, kau benar. Ayo, sekarang kita bahas masalah tambang-menambang."
Mereka pun mulai membicarakan hal penting. Ternyata, Pak Ngatiran menyetujui ajakan Shaka dan Alena karena ia punya misi lain, yaitu menggaet penambang dan menghasilkan banyak uang. Tak lupa ia mematikan benda yang sejak tadi menempel ditelinganya agar pembicaraan kali ini tidak terdengar oleh orang yang memantau dari jauh.
Sementara itu, Shaka dan Sean sejak tadi mendengarkan pembicaraan Pak Ngatiran dengan Didi melalui Earpiece. Mereka saat ini berada di kantor Shaka.
"Kurang ajar Pak Tua itu. Bisa-bisanya dia mengataiku tidak berguna." Shaka mengepal erat tangannya.
"Sepertinya Pak Tua ini sangat pintar. Dia mengambil tiga keuntungan sekaligus. Pertama keuntungan dengan Didi, yang kedua dengan uang yang kita berikan."
"Lalu apa yang ketiga?"
"Dia mengambil kesempatan untuk mendekati istrimu. Kau ingat dengan undangan makan malam di rumahmu 'kan?"
"Sudahlah, yang penting rencana kita berhasil. Sekarang kita tahu bahwa Stevi menikah dengan Pak Didi karena ancaman sebuah video aib masa lalunya." Sean mencoba menenangkan Shaka.
"Kau yang lebih lama mengenal Stevi, apa kau tahu video apa itu?"
"Dulu dia sering mengalami perundangan dari teman-teman kami. Aku tidak tahu apa yang dilakukan geng tidak jelas padanya saat masih kuliah dulu."
__ADS_1
"Mungkin saja mereka yang membuat Stevi punya video tersebut."
"Hmm, aku akan mencari tahu." Sean manggut-manggut.
"Oh ya, apa kau tidak melihat sisi lain dari Pak Didi?" tanya Shaka.
"Sisi lain? Maksudmu sering ke warung remang-remang?"
"Bukan. Dia bilang bahwa dia sangat mencintai Stevi. Tidakkah ini membuat kita dalam keadaan dilema? Jika Stevi dilepaskan maka dia akan menderita."
"Hei, cobalah lepaskan Alena pada Pak Ngatiran, apa kau mau?"
"Apa?" Tidak! Yang benar saja. Aku saja mati-matian mengejarnya sampai ke desa, enak saja." Shaka mendengkus kesal.
"Makanya jangan asal bicara. Viana lebih tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Tetapi, aku rasa, bicara baik-baik pada Stevi tidak akan berhasil, karena keduanya sama-sama galak."
"Ya, biar Viana sendiri yang memikirkannya. Dan sekarang sudah saatnya kita rapat, ayo!" Shaka mengajak Sean ke ruang rapat di salah satu ruangan di perusahaan besar itu.
****
__ADS_1
Rekomendasi novel yang bagus untuk kalian.