
"Sekarang aku tidak punya lagi bukti video itu. Kau sudah bebas. Pergilah, aku akan mengurus perceraian kita sesegera mungkin." Didi tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Stevi langsung terdiam. Ia menatap lekat wajah Didi. Memang, terpancar sebuah tatapan ketulusan dari matanya.
Didi hendak melangkah pergi, namun Stevi memanggilnya.
"Kenapa?"
Didi berbalik.
"Kenapa kau melakukan ini?" Stevi melanjutkan pertanyaannya.
"Karena aku sangat mencintaimu. Benar kata orang tua yang bernama Pak Ngatiran, jika aku mencintaimu, maka aku harus melepaskan mu asal kau bahagia. Jika kau tidak bisa memilikimu, setidaknya aku bisa melihat mu bahagia."
"Apakah sebegitu besar rasa cintamu padaku?"
"Kau tidak perlu bertanya. Bahkan matipun aku rela untukmu. Sudahlah, aku harus pergi." Didi kembali melangkahkan kakinya.
"Bagaimana jika aku menolak untuk bercerai?" Pertanyaan Stevi langsung membuat Didi terkejut dan berbalik.
"Apa maksud mu?"
"Aku tidak ingin bercerai. Jika kau memang mencintai aku, kenapa malah ingin menceraikan aku? Kau jahat!" Stevi menangis lalu melangkahkan kakinya menuju kamar. Tak lupa ia membanting pintu sebagai pertanda sedang marah.
Flashback Off
"Dan setelah itu, kami berbaikan. Dia menceritakan pertemuannya dengan Pak Ngatiran. Kami tahu kalau Pak Ngatiran adalah suruhan kalian karena beliau sendiri yang cerita, setelah mengetahui kami sudah berbaikan."
"Lalu, kenapa tidak memberitahu kami?" tanya Sean.
__ADS_1
"Kata Pak Ngatiran, kalian sedang ada urusan penting, sehingga beliau melarang ku bercerita pada kalian sebelum kalian sendiri menghubungi kami."
"Dan urusan penting itu adalah mengatur rencana untuk menjebak suami mu. Dasar Pak Tua, kenapa dia sangat menyebalkan," gerutu Sean.
"Sudahlah, Sean. Setidaknya, berkat dirinya, Stevi menyadari bahwa dia juga mencintai suaminya." Viana mencoba menenangkan.
"Maafkan aku karena melibatkan kalian. Aku sengaja mendekati Sean agar kalian bisa menolong ku. Aku juga sengaja ke mall agar kau bisa melihat ku." Stevi menatap Viana dengan serius.
"Sudahlah, Stev. Kau adalah teman kami. Susah sepantasnya kami menolong mu. Kami jadi senang karena tidak ada yang tersakiti saat ini. Kau malah menemukan cintamu pada suami mu sendiri."
"Iya, aku tidak peduli seberapa jauh usia kami terpaut. Yang penting, aku mencintainya." Stevi menggenggam tangan Didi.
"Apa itu sebabnya sekarang Mas Didi terlihat lebih muda. Pakaiannya sangat rapi dan penampilannya sangat berwibawa." Viana berdecak kagum.
"Sebenarnya umurku belum lima puluh tahun. Aku masih berusia empat puluh tahun. Tetapi, karena aku malas merawat diri, aku jadi sepuluh tahun lebih tua," jelas Didi.
"Ha? Artinya umur kalian tidak terpaut jauh. Hanya beberapa tahun saja? Wah, memang cinta bisa mengubah segalanya. Kalau saja Mas Didi berpenampilan seperti ini sejak dulu, pasti Stevi tidak perlu waktu lama untuk mencintai Mas Didi," ucap Viana sembari tersenyum.
"Ya, mau bagaimana lagi. Di pertambangan, aku selalu ikut membantu para pekerja. Pekerjaan berat membuat penampilan ku seperti orang tua. Apalagi aku yang tidak peduli pada penampilan, membuat ku seperti aki-aki."
"Oh ya, kalian datanglah ke acara pernikahan kami dua minggu lagi," ujar Stevi.
"Ha? Kalian mau menggelar resepsi?" tanya Viana dengan wajah sumringah.
"Ya, untuk apalagi disembunyikan? Nanti diambil orang," ucap Didi.
Sontak ucapan Didi membuat mereka semua tertawa. Dan hari itu mereka lalui dengan makan siang bersama sambil bercanda ria. Viana dan Stevi akhirnya menjadi teman. Tanpa ada permusuhan, atau persaingan lagi seperti sebelumnya.
*****
__ADS_1
"Tos dulu untuk keberhasilan mu." Sean mengangkat gelas kopinya ke arah gelas Viana.
Tingg, suara gelas mereka pun beradu.
"Kau senang sekarang?" tanya Sean.
"Tentu saja, aku tidak perlu khawatir jika suamiku di dekati wanita lain."
"Kenapa masih meragukan aku? Aku sangat mencintai mu. Tidak bisakah kau percaya padaku?"
"Iya, aku percaya padamu. Suamiku, sayangku, cintaku, yang paling tampan dan setia." Viana mencubit pipi Sean dengan gemas. Membuat Sean meringis karena cubitan Viana sangat kuat baginya.
"Kenapa malah dicubit, cium saja." Sean menunjuk pipinya. Membuat Viana tersenyum geli.
"Lupakan. Aku tidak mau!" Viana meletakkan gelasnya di atas meja, lalu berlari ke taman belakang.
Sean juga meletakkan gelasnya lalu menyusul Viana ke taman belakang.
Mereka tertawa dan bercanda riang di bangku taman mereka. Ditambah dengan Sevina dan Reyza yang menyusul, keceriaan hari itu pun bertambah lengkap.
*****THE END*****
Hai mantenan, terima kasih telah membaca novel ini hingga selesai. Oh ya, aku punya kabar baik. Akhir bulan ini, aku akan merilis novel baru yang berjudul Dipaksa Menikahi CEO Kejam.
Dan yang ini nggak akan pindah, karena dari judulnya pun udah ciri khas NovelToon. Dipindah ke tempat lain juga kagak bakal rame ðŸ¤
Jadi tenang aja, ya. Ketika udah rilis nanti, aku akan menginfokan di sini dan di Instagram @yenitawati24 😊
__ADS_1