
Pagi harinya Sean dan Viana tidak pergi ke kantor karena semalam cukup melelahkan. Pagi ini mereka masih betah di kamar. Meskipun Sean membenci bangun siang, tapi sejak ada Viana seolah semua itu musnah.
Sean masih memeluk erat tubuh Viana yang tengah menyandarkan kepalanya di dadanya.
"Sean" Panggil Viana.
"Hmmm" Jawab Sean.
"Kita bukan pengantin baru kan." Tanya Viana.
"Jelas kita pengantin baru. Bagiku setiap hari terasa seperti pengantin baru. Kau harus berpikir begitu juga mengerti?."
Sean semakin mempererat pelukannya. Sesekali dia mencium pucuk kepala Viana.
"Sean, aku juga mencintaimu." Ucap Viana.
"Aku tidak mengatakan apa apa padamu.". Kata Sean.
"Tadi malam kamu mengatakannya, jadi aku membalasnya pagi ini." Jawab Viana.
"Terserah kau saja. Apa kau lapar?." Tanya Sean.
"Hmmm" Jawab Viana.
"Ayo memasak bersama." Ajak Sean.
"Memasak?" Tanya Viana.
"Hmm" Jawab Sean.
"Baiklah tapi kita harus mandi dulu." Ucap Viana yang segera bangkit dan mengambil handuknya.
Sean juga mengambil handuk dan mengikuti Viana ke kamar mandi.
"Stop, Sean mandi lah dulu." Viana bergeser dan mempersilahkan Sean mandi duluan.
"Tidak, ayo mandi bersama." Ajak Sean.
__ADS_1
Viana masih diam.
"Apa kau takut aku meminta jatah lagi pagi ini?." Tatap Sean.
"Kita akan memasak." Jawab Viana.
"Baiklah, kita mandi bersama tapi saling membelakangi." Kata Sean yang mendorong Viana agar masuk ke kamar mandi bersamanya.
Sepanjang mereka mandi, tidak terjadi apa - apa karena Sean juga mengerti Viana pasti sangat lelah karena semalam dia yang memimpin pertarungan.
Selesai mandi, Sean dan Viana bergegas turun ke bawah lalu menuju dapur. Sean menyuruh semua pelayan dapur untuk pergi selama mereka memasak.
Viana mulai menyiapkan bahan-bahan masakan semantara Sean hanya berdiri dan melihat.
"Sean, katanya mau memasak bersama." Kata Viana.
"Setelah aku pikir-pikir lebih baik melihatmu saja. Jika aku ikut memasak, kau akan jadi malas." Ucap Sean.
"Apa? Bilang saja kamu tidak mau capek." Viana memegang kedua pipi Sean dengan gemas.
"Dan kewajibanmu adalah membuat istri senang." Viana semakin gemas.
"Memangnya apa yang membuat dirimu senang?." Tanya Sean.
"Aku ingin sekali menonton film bersamamu." Ucap Viana.
"Menonton film? Lupakan." Sean menggelangkan kepalanya.
"Sean ayolah, sekali ini saja." Bujuk Viana.
"Tidak, itu tidak akan terjadi. Kau tau kan aku tidak suka menonton? Apalagi tontonanmu adalah film horror. Aku membencinya." Kata Sean.
__ADS_1
"Apa kamu takut?." Ejek Viana.
"Apa? Apa? Apa? Takut. Hahaha tidak." Menatap serius.
"Baiklah, kita akan menonton film romantis." Kata Viana.
"Bukannya kau membencinya? Nanti kau bisa muntah saat menontonnya." Kata Sean.
"Aku lebih suka menonton film yang aku benci dari pada film yang kamu benci." Ucap Viana. Tangannya terus sibuk dengan bahan makanan yang akan dia olah.
"Manis sekali, tapi aku membenci semua film." Jawab Sean.
Viana menghela nafas panjang.
"Apakah kamu tau kenapa kebanyakan orang menonton film romantis?." Tanya Viana.
"Agar mereka terlihat bodoh, benarkan." Kata Sean.
"Sean, serius lah sedikit." Bujuk Viana.
"Aku serius." Jawab Sean.
"Dengar, pasangan yang menonton film romantis terkadang akan terbawa perasaan dengan apa yang mereka tonton. Bahkan mereka bisa langsung mempraktikkannya disana." Kata Viana.
"Mempraktikkan apa?." Sean terlihat tertarik.
"Jika ada adegan berpelukan, mereka akan menggenggam tangan satu sama lain." Kata Viana.
"Jika ada adegan ciuman?." Tanya Sean. Pertanyaan yang sebenarnya Viana hindari.
"Tidak banyak yang melakukannya. Hanya beberapa." Kata Viana.
"Baiklah, kita akan menjadi bagian dari beberapa orang itu. Lekas ganti bajumu dan kita pergi." Ajak Sean.
"Tapi aku masih memasak" Kata Viana.
"Lupakanlah, kita makan di luar." Sean menarik tangan Viana dan membawanya ke kamar untuk ganti baju.
__ADS_1
Viana mengganti bajunya sambil menggerutu dalam hati. Mengomentari sikap Sean yang seenaknya menyuruh dan membatalkan sesuatu yang sedang di lakukannya. Memangnya dia bisa apa? Melawan? Oh tidak bermimpi lah.