
Malam harinya, Viana tampak termenung di beranda rumah ayahnya. Ia menatap sepeda motor yang lalu lalang diikuti debu-debu yang beterbangan namun tak terlihat akibat pekatnya malam.
Ia mendongak melihat langit. "Apa aku memang salah telah menikahi orang yang berbeda seratus delapan puluh derajat dariku?" Viana bertanya pada bulan yang bersinar, angin yang berhembus, dan bintang yang berkelip.
"Vi." Suara Hendra menyadarkan Viana dari lamunannya.
"Ayah." Viana menyeka air matanya yang tanpa terasa sudah membasahi pipinya.
"Kenapa kau merenung? Apa yang mengganjal di hatimu?" tanya Hendra sambil mendudukkan diri di kursi tepat di samping Viana.
"Tidak ada, Yah."
"Kenapa kau seperti menyesali keputusanmu menikah dengan Sean? Ingatlah, kalian sudah punya dua anak." Hendra mengusap bahu Viana.
"Aku hanya baru menyadari bahwa kami berbeda, Ayah. Dia itu orang yang berkuasa. Dia layaknya seorang raja dan aku pelayan istana." Kali ini Viana tak menutupi lagi. Air matanya kembali mengalir membasahi pipinya.
"Jangan berbicara begitu. Kalau sudah jodoh, tidak ada yang namanya tidak pantas. Dia sangat mencintaimu dan dengan senang hati menerima kekuranganmu. Dia bahkan sampai rela men,,,,,," Hendra menghentikan ucapannya saat menyadari apa yang akan ia katakan.
"Rela apa, Yah?"
__ADS_1
"Dia rela menyelamatkan dirimu dan Ayah saat kita diculik Kenzie." Hendra melanjutkan.
"Ayah benar. Tetapi dia tetap tidak mau menjejakkan kakinya di rumah ini lagi. Tidakkah dia berpikir bahwa orang tuaku adalah orang tuanya juga? Dia egois, Ayah. Dia selalu ingin semua sesuai keinginannya tanpa memikirkan perasaanku." Kini Viana menumpahkan seluruh uneg-unegnya.
"Ayah mengerti sebenarnya maksudnya tidak begitu. Dia hanya ingin anak-anak kalian sehat. Memang benar, di sini mereka bisa terjangkit penyakit. Apalagi Reyza yang sistem imunnya lebih lemah dari Sevina."
"Ayah kenapa baik sekali. Ayah bahkan membela orang yang tidak menghargai Ayah." Viana pun memeluk ayahnya.
"Ayah tidak ingin anak dan menantu Ayah sampai berselisih hanya karena Ayah. Ketahuilah, Nak. Sean itu termasuk suami yang baik. Dia sangat mencintai dirimu. Tidakkah kau lihat, dia seorang CEO, namun tidak pernah terlibat skandal dengan wanita. Dia sangat setia padamu. Semua ini hanya karena rumah yang letaknya tidak sesuai tempatnya."
Mendengar ucapan Hendra, Viana kembali tersenyum. "Terima kasih, Ayah. Ayah telah membuat perasaanku menjadi lebih baik." Viana melepas pelukan lalu mengusap tangan Ayahnya.
"Tidak usah memasak. Ayah sudah memesan makanan untuk kita semua termasuk anak yatim dan kaum duafa," sahut Hendra.
"Dan kuenya?"
"Jangan meragukan Ayah. Semua sudah diatur." Hendra tersenyum penuh percaya diri.
"Ayah memang segalanya. Bagaimana aku membalasnya?" Viana kembali memeluk ayahnya namun kali ini dengan senyuman tanda hatinya senang.
__ADS_1
"Dengan melonggarkan sedikit pelukanmu dan biarkan Ayah bernafas."
"Oh, maaf, Ayah." Viana melepas pelukannya. Hendra pun kembali bernafas lega.
"Kau sudah berumur, tetapi tenaga mu masih kuat, ya."
"Aku masih sering berlatih, Ayah. Sekaligus melatih Sevina."
"Oh ya, Sevina. Ayah masih ingat saat dia menendang pohon jambu agar mendapatkan buahnya. Dan saat itu Ayah tidak jadi panen." Hendra menunjuk pohon jambu yang ada di halaman rumahnya.
"Ayah masih ingat?" Viana mulai terkekeh saat mengingat kejadian itu.
"Ya, dan karena itulah Reyza tercebur parit karena berusaha menangkap buah jambu yang berjatuhan ke tanah."
"Sevina memang tidak sabaran, sama seperti papanya."
"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sifatnya seperti papanya, tetapi tenaganya seperti ibunya. Paket komplit, bukan?"
Ucapan Hendra mampu membuat Viana kembali tertawa. Dan malam itu ia lalui dengan merenung, menangis, dan tertawa.
__ADS_1