
3 hari kemudian..
Pada malam hari.
Viana uring uringan di kamar.
Pasalnya Sean baru saja mengabari kalau dia akan pulang seminggu lagi karena pekerjaannya tidak memungkinkannya untuk pulang secepatnya.
Viana sedang berdiri dan menatap ke luar jendela kamarnya.
Wajahnya tampak lesu dan tidak bersemangat apalagi di luar sedang hujan.
Namun tiba tiba seseorang memeluk pinggangnya dari belakang.
Viana terkejut dan dengan segera dia mencengkram tangan orang itu dan memelintirnya.
"Aaaaarrrghhh" Teriak Sean
Viana terkejut dan melepaskan pelintirannya.
"Sean"
"Apakah hidupmu hanya untuk memelintir tanganku?" Sean memegangi tangan kiriny yang sakit.
"Maaf Sean aku sangat terkejut. Aku kira orang lain" Kata Viana.
"Orang lain? Siapa yang berani menerobos masuk rumah Sean Armadja" Kata Sean dengan bangganya.
"Aku minta maaf" Viana mengulang perkataannya.
"Apa permintaan maafmu bisa menyembuhkan rasa sakit di tanganku?" Tanya Sean menatap kesal.
Viana menggeleng.
"Lalu kenapa meminta maaf?" Tanya Sean semakin kesal.
"Sean bisa kah kita melewati ini? Aku ingin memelukmu" Kata Viana
__ADS_1
Sean yang tadinya kesal malah tertawa mendengar permintaan Viana.
"Apa kau sebegitu merindukanku?" Tanya Sean.
Viana mengangguk.
Aku benar benar merindukanmu sampai sampai aku hilang kendali dan mengatakan hal bodoh tadi. Gumam Viana.
"Kemari lah" Sean merentangkan kedua tangannya.
Viana segera menghambur ke pelukan Sean.
Sean tersenyum karena sebenarnya dia juga sangat merindukan Viana.
"Katakan bagaimana kau dengan Kevin saat di kantor? Apa kalian dekat lagi?" Tanya Sean menatap curiga.
"Tidak Sean, semuanya normal. Beberapa kali dia memulai obrolan tapi aku tidak pernah menanggapinya" Kata Viana.
"Bagus lah, sekarang kau harus di hukum karena memelintir tanganku" Kata Sean.
"Ya, sekarang kau harus ku pelintir juga" Kata Sean.
"Apa?" Viana tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Kenapa? Kau menolak?" Tanya Sean.
Viana pasrah dan menggeleng.
"Pelintir lah" Viana menyerahkan tangan kirinya.
Sean langsung menangkap tangannya dan membalikkan badannya. Viana memejamkan mata. Mungkin rasanya akan sakit.
Namun Sean tak kunjung memelintir tangannya. Dia malah melepaskan tangan Viana dan kini kedua tangannya memegang pinggang Viana. Bibirnya mengecup leher Viana dengan lembut.
Viana heran dengan tindakan Sean.
__ADS_1
"Sean apa yang terjadi?" Tanya Viana.
"Aku akan memelintirmu tapi bukan disini" Kata Sean.
"Dimana?" Tanya Viana.
Sean tidak berbicara, dia langsung mendorong tubuh Viana hingga jatuh ke atas ranjang empuk itu.
Sean mengendurkan dasinya lalu merangkak di atas tubuh Viana.
"Aku akan melakukannya disini" Bisik Sean.
Viana tersenyum malu. Pada kenyataannya dia juga merindukan sentuhan Sean.
Dengan Lembut Sean mencium bibirnya dan sambil memainkan tangannya di daerah sensitif.
Desahan demi desahan terdengar dari mulut mereka berdua.
Keriduan yang tertahan selama ini terbayar sudah dengan kenikmatan dari pertempuran malam ini.
Setelah selesai, Viana dan Sean membersihkan diri ke kamar mandi dan mengobrol bersama setelahnya.
"Sean, katakan padaku apakah sekarang kamu mencintaiku" Kata Viana.
"Tidak" Jawab Sean.
"Kenapa?" Tanya Viana.
"Tidak apa apa. Kenapa kau lebih mementingkan ungkapan dari pada tindakan? Kalau seandainya aku bilang bahwa aku mencintaimu namun hatiku tidak apakah itu tidak menyakitkan?" Tanya Sean.
Viana menundukkan kepalanya.
"Aku ingin seperti orang orang yang mendapat pengakuan cinta dari suaminya" Kata Viana.
"Kau tidak perlu itu. Sekarang dan selamanya aku adalah milikmu" Kata Sean memegang pipi Viana lembut.
Viana tersenyum. Yang di katakan Sean memang benar. Sean adalah miliknya dan dia adalah milik Sean.
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita tidur" Ajak Sean.
Viana mengangguk dan pergi ke ranjang bersama Sean. Mereka tidur dengan berpelukan satu sama lain.