
"Oh ya, aku dengar kalau Sean sedang memperlebar jalan di depan rumah ayah mertuanya dengan membeli lahan sepanjang jalan agar bisa dipakai, benarkah?" Akhirnya Stevi membuka suara.
"Ya, aku memang melakukannya. Cepat sekali berita itu tersebar, ya," ucap Sean.
"Kau memang menantu yang sangat baik. Seandainya saja ayahku punya menantu seperti dirimu." Stevi menatap Sean sembari tersenyum. Membuat tangan Viana mengepal erat dan menatapnya dengan kesal.
"Itu tergantung," sahut Sean.
__ADS_1
"Tergantung apanya?" tanya Stevi.
"Tergantung seberapa besar rasa cinta sang menantu pada anak mertuanya. Jika cintanya besar, maka apapun bisa dilakukan seperti yang aku lakukan sekarang. Namun jika cintanya hanya sebatas say i love you, mungkin itu akan menjadi mimpi belaka saja." Sean menggenggam tangan Viana. Ia mengerti pasti sekarang istrinya sedang kesal mendengar suaminya dipuji wanita lain tepat di depannya. Yang harus di lakukan Sean sekarang, adalah meyakinkan Viana bahwa ia sama sekali tidak tertarik dengan pujian Stevi.
Dan benar saja, terlihat Stevi yang sangat kesal dengan perkataan Sean yang terlalu menyanjung istrinya itu. Namun, ia tidak kehabisan akal, kini ia beralih ke Viana dan berkata, "Oh ya Vi, aku masih penasaran. Bagaimana rasanya tinggal di daerah kampung. Aku ingin sekali mendirikan rumah di kampung untuk berjaga-jaga jika suatu hari aku membutuhkan udara segar perkampungan."
"Rasanya sangat nyaman bagi yang biasa tinggal di sana. Tetapi jika yang tinggal adalah seorang yang manja dan terbiasa hidup enak, mereka tidak akan bisa bertahan. Karena hanya orang kuat yang bisa bertahan tanpa fasilitas mewah, sedangkan mereka yang lemah, tidak akan bisa tinggal di kampung." Viana menatap sinis.
__ADS_1
Ingin rasanya Viana menyiram minuman panasnya ke belahan dada Stevi yang tampak membusung itu. Entah memang begitu atau disengaja, ia pun tak tahu.
Sementara rekan kerja mereka tampak melihat sebuah persaingan diantara mereka.
"Kau juga sangat jago bela diri. Kenapa tidak menjadi pelatih bela diri saja? Aku yakin pasti banyak ilmu yang didapat jika berguru denganmu. Daripada hanya diam di rumah dan mengabiskan gaji suami, sebaiknya kita memiliki kesibukan, iya 'kan teman-teman." Stevi menatap teman-teman kerja nya satu persatu untuk memastikan bahwa ia mendapat anggukan.
"Aku sudah melatih putri ku Sevina. Sekarang pun dia bisa menunju mulut orang yang tidak bisa diam hingga semua giginya tanggal. Namun Sevina kami tidak akan melakukannya. Selain dia masih kecil, pukulannya juga belum sempurna. Mungkin jika aku yang meninju, bukan hanya gigi yang tanggal, tetapi juga tulang di wajahnya akan patah. Seperti tulang rahang, hidung, pelipis, dan lainnya."
__ADS_1
Mendengar hal itu, Stevi langsung bergidik ngeri. Ternyata, selain kuat, Viana juga bermental baja. Segala hinaan selalu bisa ia tepis dengan lebih menyakitkan hingga mengakibatkan si pendengar kena mental.
"Oh ya, bagaimana dengan perusahaan yang kau kelola di kota B? Aku dengar produk kalian menjadi produk yang sedang dicari." Sean mencairkan suasana dengan menanyakan hal tidak penting itu pada salah satu rekan kerjanya. Ia tidak mau kalau sampai Viana menjadi tontonan karena beradu argumen dengan Stevi yang memang ia ketahui, Stevi masih berusaha mendekatinya. Namun sepertinya ia salah sasaran, karena Viana, bukan wanita lemah yang akan percaya begitu saja.